Cokorda Gde Bayu Putra Dilantik Jadi Rektor UNHI 2026–2030
DENPASAR, NusaBali.com – Yayasan Pendidikan Widya Kerthi secara resmi melantik Dr Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si sebagai Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) masa bhakti 2026–2030, Sabtu (10/1/2026). Pelantikan berlangsung di Aula Taman Asoka UNHI dan dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan dunia pendidikan.
Dr Cokorda Gde Bayu Putra menggantikan Rektor sebelumnya, Prof Dr drh I Made Damriyasa, M.S., yang telah menjabat dua periode sejak 2018 hingga 2026. Pelantikan ini menjadi catatan sejarah bagi UNHI karena untuk pertama kalinya dipimpin oleh rektor muda. Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata UNHI ini dilantik pada usia 37 tahun.
Pelantikan turut dihadiri Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Anggota DPD RI Dr Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Wakil Gubernur Bali 2018-2023 Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, para rektor perguruan tinggi se-Bali, jajaran Pembina, Pengawas, dan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Dharma Adhyaksa PHDI Pusat, Dharma Upapati PHDI Bali, para penglingsir puri, serta undangan lainnya.
Meski berusia relatif muda, Cok Bayu dinilai memiliki rekam jejak yang kuat di bidang tata kelola dan manajemen organisasi, serta jaringan yang luas sebagai modal memajukan UNHI ke depan.
Dalam pidato perdananya, Cok Bayu menegaskan bahwa terpilihnya ia sebagai rektor bukan sekadar capaian jabatan, melainkan sebuah “panggilan sejarah” bagi generasi muda Hindu untuk terlibat aktif menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan. UNHI, menurutnya, adalah ladang pengabdian dan ruang membumikan nilai-nilai dharma sebagai core value institusi.
Ia menekankan komitmen membangun UNHI berlandaskan nilai ipil-ipil dan briuk sapanggul yang selama ini hidup di lingkungan civitas akademika UNHI. Ipil-ipil dimaknai sebagai ketekunan mengumpulkan hal-hal kecil secara fokus, sedangkan briuk sapanggul berarti gotong royong, solidaritas, dan kesetiaan. Nilai tersebut, kata dia, sejalan dengan ajaran Ucchawreti Brata atau Brata Wija Kasawur yang diwariskan sejak tonggak awal berdirinya UNHI.
Menurut Cok Bayu, setelah 33 tahun bertransformasi dari Institut Hindu Dharma (IHD) menjadi UNHI, tantangan lembaga belum berakhir. Di tengah persaingan ketat perguruan tinggi swasta dan negeri, baik lokal maupun nasional, UNHI dituntut terus berbenah agar tetap relevan dan berdaya saing hingga tingkat internasional.
Ia memaparkan dua pendekatan strategis yang akan ditempuh, yakni market driven dengan menjadikan UNHI responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, serta market driving dengan menciptakan inovasi dan program yang dibutuhkan di masa depan. Selain itu, profesionalisasi manajemen dan penguatan tata kelola menjadi kunci dalam menopang visi UNHI sebagai universitas unggulan berkelas dunia.
“Prinsip transparansi, akuntabilitas, keterbukaan, efektivitas, efisiensi, dan partisipatif harus menjadi praktik nyata. Good University Governance sejatinya adalah perwujudan nilai dharma yang paling nyata di kampus berlandaskan dharma,” ujarnya.
Cok Bayu juga menyampaikan visi kepemimpinannya yang berfokus pada merajut solidaritas melalui kolaborasi, kolektivitas, dan budaya guyub.
Visi tersebut dirangkum dalam Asta Murthi Dharmaning Bhawana yang mencakup penguatan tata kelola, kemitraan, mutu akademik, riset, pengabdian masyarakat, transformasi digital, peningkatan SDM, hingga pengembangan kepribadian mahasiswa.
Sementara itu, Rektor UNHI periode 2018–2026, Prof Dr drh I Made Damriyasa, M.S., dalam sambutannya menekankan pentingnya kesinambungan komitmen dan pengabdian seluruh elemen untuk memajukan UNHI.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab membangun UNHI tidak hanya berada di pundak rektor, tetapi merupakan komitmen bersama seluruh civitas akademika dan masyarakat pendukung.
Prof Damriyasa juga menyampaikan permohonan maaf atas capaian yang belum terwujud selama masa kepemimpinannya, sekaligus berharap kepemimpinan baru mampu mengantarkan UNHI menjadi universitas unggulan dengan reputasi internasional, sebagaimana tertuang dalam statuta terbaru UNHI.
Komentar