nusabali

Maria Londa di Ambang Pensiun, Regenerasi Atlet Mulai Disiapkan

  • www.nusabali.com-maria-londa-di-ambang-pensiun-regenerasi-atlet-mulai-disiapkan

MANGUPURA,NusaBali - Atlet atletik kebanggaan Indonesia asal Badung, Bali, Maria Natalia Londa diperkirakan akan mengakhiri kariernya sebagai atlet nasional di usia 35 tahun. Meski masih menunjukkan performa kelas dunia di ajang internasional, regulasi usia maksimal di level nasional membuat Maria kian dekat dengan masa pensiun.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh pelatih Maria Londa yang juga suaminya, Made Sukariata. Ia menegaskan bahwa Kejuaraan Nasional (Kejurnas) hingga Pekan Olahraga Nasional (PON) memiliki batas usia maksimal 35 tahun untuk atletik.

“Untuk Kejurnas sampai PON itu ada aturan usia maksimal 35 tahun. Jadi saat ini diperkirakan Maria sudah tidak bisa bertanding lagi di tingkat nasional. Setelah lima kali tampil di PON, sekarang memang sudah mengarah ke masa pensiun,” ujar Made Sukariata, Jumat (9/1).

Meski demikian, Maria masih membuktikan kualitasnya di level internasional. Pada ajang SEA Games 2025 di Suphachalasai Stadium, Bangkok, atlet asal Badung itu sukses mempersembahkan medali emas nomor lompat jangkit putri dengan lompatan sejauh 13,85 meter, melampaui target tim pelatih sebesar 13,60 meter.

“Target lompat jangkit kami di SEA Games kemarin 13,60 meter, tapi Maria bisa mencapai 13,85 meter. Itu sudah melampaui target. Untuk lompat jauh target 6,27 meter dan hasilnya 6,28 meter. Semua sesuai dengan program,” jelasnya.

Di SEA Games 2025, Maria turun di dua nomor, yakni lompat jauh dan lompat jangkit. Namun, fokus utama diarahkan ke nomor lompat jangkit karena jadwal pertandingan yang lebih menguntungkan.

“Lompat jangkit itu digelar di hari pertama, sedangkan lompat jauh dua hari setelahnya. Jadi kami lebih fokus ke lompat jangkit,” tambah Sukariata.

Maria Londa tercatat sebagai legenda hidup atletik Indonesia. Ia telah lima kali meraih medali emas PON, yakni pada PON XVII Kalimantan Timur 2008, PON XVIII Riau 2012, PON XIX Jawa Barat 2016, PON XX Papua 2020 (digelar 2021), dan PON XXI Aceh–Sumatera Utara 2024.

Meski secara usia Maria diperkirakan pensiun di level nasional, peluang tampil di ajang internasional masih terbuka jika ia kembali menjalani pola latihan ketat.

“Kalau di level internasional sebenarnya masih bisa, tapi harus kembali ke disiplin seperti atlet muda. Di usia sekarang, lari sudah tidak mudah lagi,” ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, tim pelatih kini fokus menyiapkan regenerasi atlet lompat dari Bali. Salah satu atlet muda asal Tabanan yang meraih medali perunggu di PON 2024 Medan tengah diproyeksikan untuk tampil di PON 2028.

“Kami sedang siapkan pelapis dari Tabanan yang kemarin dapat perunggu di PON Medan. Dia punya potensi besar untuk PON 2028,” katanya.

Selain itu, pembinaan atlet usia 8–16 tahun juga terus digencarkan di wilayah Denpasar dan Badung dengan pusat latihan di Lapangan Lumintang, Denpasar Utara.

“Saat ini saya fokus membangun pondasi atlet muda lewat strength dan conditioning, dari kelincahan, kekuatan sampai daya tahan. Kalau ada yang menonjol di nomor lompat, akan kami arahkan ke sana,” jelas Sukariata.

Ia juga berharap adanya perhatian serius terhadap infrastruktur atletik di Bali. “Bali punya banyak anak berbakat di atletik, tapi fasilitas masih sangat terbatas. Kami berharap ke depan ada lapangan berstandar nasional agar latihan lebih maksimal lagi,” pungkasnya. 7 cr81

Komentar