Krama Ngenjung Sari Sekali Ngayah Dapat Rp 51 Ribu
GIANYAR, NusaBali - Semangat gotong royong krama Banjar Adat Ngenjung Sari, Desa Bakbakan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar berbuah manfaat nyata. Sejak BUMDes Desa Bakbakan mengelola Objek Wisata Taman Sari Waterfall, krama banjar rutin menerima insentif gotong royong yang bersumber dari keuntungan pengelolaan pariwisata.
Sebesar 5 persen dari pendapatan objek wisata dialokasikan khusus untuk insentif gotong royong krama. Sekali kehadiran gotong royong mendapat Rp 51.000 per orang. Insentif ini dibagikan setiap enam bulan sekali, menyesuaikan dengan pendapatan Taman Sari Waterfall.
Nominal insentif tercatat Rp 51.000 per sekali kehadiran gotong royong. Dalam satu periode enam bulan, terdapat 14 agenda gotong royong yang tercatat melalui absensi. Besaran insentif yang diterima krama pun bervariasi, tergantung kehadiran. Ada krama menerima Rp 689.000 karena hadir 13 kali, ada pula yang menerima Rp 510.000 dari 10 kali kehadiran. Sistem ini dinilai adil karena berbasis partisipasi aktif.
Menariknya, krama yang tidak hadir gotong royong tidak dikenakan denda. Prinsipnya bukan dedosan (sanksi adat), melainkan mendorong kesadaran dan partisipasi sukarela. Marketing Taman Sari Waterfall, I Nyoman Padma Mandala, mengatakan sejak awal tujuan pembukaan objek wisata ini untuk meningkatkan kesejahteraan krama. “Ini bukan semata-mata soal wisata, tapi bagaimana pariwisata bisa kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Selain menerima insentif gotong royong, krama Banjar Adat Ngenjung Sari juga dibebaskan dari iuran atau paturunan odalan di empat pura yang diempon oleh sekitar 130 kepala keluarga. Sebelumnya, krama harus mengeluarkan iuran sekitar Rp 200.000 per orang setiap odalan yang datang enam bulan sekali. Kini beban itu sepenuhnya tertutupi dari keuntungan pengelolaan objek wisata. Sebagian keuntungan Taman Sari Waterfall juga dialokasikan untuk pembangunan dan pemeliharaan pura sehingga krama merasakan manfaat langsung dari pariwisata yang berkembang di wilayahnya.
Dampaknya terasa pada meningkatnya antusiasme krama, baik dalam gotong royong maupun ngayah di pura. “Krama jadi lebih semangat. Gotong royong ada insentif, ngayah di pura juga makin guyub,” ungkap Padma. Ke depan, pengelola merencanakan pembentukan tabungan krama yang akan dikelola oleh koperasi sebagai bentuk keberlanjutan manfaat ekonomi. “Ngayah polih jinah, pakedek pakenyung,” ujarnya, menggambarkan harmoni antara budaya dan kesejahteraan.
Taman Sari Waterfall menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan asing, domestik, maupun lokal. Rata-rata kunjungan mencapai 200 hingga 300 wisatawan per hari. Daya tarik utamanya terletak pada akses yang sangat mudah, dari area parkir menuju air terjun hanya 2 sampai 3 menit berjalan kaki dengan jalur landai. Tersedia kolam alami yang bisa digunakan wisatawan untuk berenang, termasuk kolam khusus anak-anak. Airnya langsung dari mata air Pura Beji, terkenal jernih dan menyegarkan. Konsep wisata alam yang dekat, ramah keluarga, dan tetap sakral inilah yang membuat Taman Sari Waterfall diminati. 7 nvi
Komentar