nusabali

Dikenal Jenaka dan Bersahaja, Di Balik Watak Bengis Almarhum Prof Sugita di Drama Gong

  • www.nusabali.com-dikenal-jenaka-dan-bersahaja-di-balik-watak-bengis-almarhum-prof-sugita-di-drama-gong

DENPASAR, NusaBali - Bali kehilangan sosok seniman drama gong legendaris sekaligus seorang guru besar. Prof Dr Drs I Wayan Sugita MSi telah berpulang pukul 19.30 WITA di RSUD Wangaya, Denpasar, Rabu (7/1/2026).

Prof Sugita merupakan seniman drama gong legendaris yang dikenal memerankan watak Patih Agung. Selain itu, seniman asal Banjar Bukit Batu, Kelurahan Samplangan, Gianyar ini juga seorang guru besar di UHN IGB Sugriwa Denpasar.

I Gede Tilem Pastika,33, putra sulung Sugita menuturkan bahwa sang ayah berpulang pasca didiagnosis mengalami infeksi paru. Sebelumnya, mendiang sempat dilarikan ke RSUD Wangaya setelah kondisi kebugarannya menurun pada Senin (22/12/2025) lalu. “Saya kira jantungnya kumat karena punya riwayat jantung koroner sejak 1998 dan sudah pasang ring enam. Jantung aman, tetapi gulanya naik dan divonis stroke motorik setengah badan bagian kiri,” beber Tilem ketika ditemui di rumah duka, Jalan Lembu Sura, Desa Ubung Kaja, Denpasar, Kamis (8/1/2026) siang.

Tilem yang juga dosen di UHN IGB Sugriwa ini mengungkapkan bahwa sang ayah sempat mengeluh batuk sebelum kondisinya drop, 22 Desember 2025 lalu. Bahkan, Senin pagi kala itu, mendiang sempat membimbing mahasiswa pascasarjana. Sorenya, mendiang jalan santai bersama sahabat di Taman Kota Lumintang. “Sempat jalan satu putaran. Setelah itu, kata temannya, bapak mulai tidak fokus. Diajak ngobrol tidak menyahut. Matanya kosong. Kemudian bapak didudukkan dan mengeluh tidak enak badan. Akhirnya panggilkan ambulans oleh teman-temannya,” ungkap Tilem.

Dalam kondisi stroke, mendiang lantas dirawat beberapa hari di RSUD Wangaya, Denpasar—dan muncul indikasi adanya infeksi paru. Hal tersebut diakibatkan saraf menelan sudah tidak berfungsi sehingga dahak sukar dikeluarkan. Dahak tersebut lantas masuk ke paru-paru. “Pada 2 Januari itu sudah bisa pulih dalam artian kesadaran tetap, gula, tensi dan napas stabil sehingga diizinkan pulang. Tetapi, secara motorik bapak belum bisa bergerak maupun duduk karena setengah kiri lumpuh,” jelas Tilem.

I Gede Tilem Pastika memegang foto mendiang ayahnya Sang Patih Agung I Wayan Sugita, Kamis (8/1). -RATNADI 

Mendiang lantas dirawat keluarga di rumah dengan prosedur fisioterapi bagi penderita stroke tetap berjalan. Pada Rabu, keluarga melakukan kontrol ke RSUD Wangaya dan kembali pulang. Namun, kondisi mendiang tiba-tiba menurun ketika kembali ke rumah sekitar pukul 14.00 WITA. Khawatir dengan kondisi mendiang, Tilem dan keluarga melarikan lagi sang ayahanda ke IGD RSUD Wangaya, Rabu sekitar pukul 16.30 WITA. Dokter menyatakan mendiang mengalami penyumbatan rongga napas karena tertutup lendir dahak.

“Dilakukan intubasi, kemudian bapak dinyatakan henti napas namun masih ada nadi. Setelah itu, dinyatakan henti jantung kemudian bapak dinyatakan meninggal pukul 19.30,” ungkap Tilem, mengingat peristiwa yang baru sehari berlalu. Kepergian Sugita meninggalkan seorang istri Ni Wayan Sukasih. Dua anak yakni Tilem dan Ni Kadek Yuni Gitasih yang keduanya sudah berkeluarga. Dari putra dan putrinya, mendiang dikaruniai lima orang cucu—tiga dari Tilem dan dua dari Yuni. Keluarga Sugita sejak lama merantau ke Denpasar, sehingga anak-anaknya besar di ibukota.

Tilem menuturkan bahwa keluarga kehilangan sosok ayah yang bersahaja. Meski kebanyakan orang mengenalnya sebagai Patih Agung yang bengis dan licik sehingga patut dibenci penonton; ketika menjalankan peran keluarga, akademisi, seniman, dan dalam pergaulan—Sugita adalah sosok pengayom namun tegas. “Bapak sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan di atas panggung. Ketika di panggung bapak bengis, tetapi secara personal adalah ayah yang sangat bersahaja, penyayang, seniman yang sangat jenaka, dan gampang bergaul,” tegas Tilem. Tilem selaku anak tertua mengungkapkan, ayahandanya akan menjalani upacara pengabenan di Krematorium Punduk Dawa, Desa Pesinggahan, Dawan, Klungkung pada Wraspati Wage Medangkungan, Kamis (22/1/2026). Dalam prosesi itu, akan dipentaskan drama gong sebagai penghormatan terakhir kepada mendiang.

Sementara itu, Sugita lahir 8 Mei 1965 di keluarga dengan DNA drama gong. Ayahanda Sugita, yakni I Ketut Merta, merupakan maestro pemeran patih dalam drama gong. Kakek dari Tilem ini dikenal dengan julukan Patih Arya Barak. Sedari dini, Sugita ditempa menjadi seniman seni pertunjukan melalui DNA keluarga. Tahun 1994, Sugita menjadi dosen Bahasa Bali di UHN IGB Sugriwa Denpasar yang kala itu masih berstatus STAHN. Sekitar 2004, pria bersaudara delapan ini mendirikan komunitas Sekaa Demen Ulian Tresna (Sekdut) Bali dan mengembangkan DNA drama gongnya ke bondres dengan peran Balian Pengeng serta menggagas wayang drama gong.

Medio 2016–2020, Sugita mengemban tugas di UHN IGB Sugriwa sebagai Dekan Fakultas Dharma Acarya. Kemudian, pada tahun 2023, ia berhasil mencapai posisi guru besar di perguruan tinggi tempatnya mengabdi sejak 1994 tersebut. Hingga Kamis (8/1/2026), jenazah Prof I Wayan Sugita masih berada di ruang pemulasaraan RSU Wangaya. Untuk diketahui, Prof Sugita lahir di Banjar Bukit Batu, Samplangan, Gianyar, pada 8 Mei 1965. Meski tidak menempuh pendidikan seni secara formal, kecintaan, ketekunan, dan pengabdiannya terhadap seni pertunjukan tradisional Bali mengantarkannya menjadi figur sentral dalam dunia drama gong.

Namanya mulai dikenal luas sejak 1984, ketika meraih penghargaan sebagai pemeran pria utama terbaik dalam Festival Drama Gong Remaja se-Bali. Pada tahun yang sama, ia tampil bersama Sekaa Drama Gong Saraswati mewakili Kabupaten Gianyar dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) dan meraih Juara II. Dari perjalanan tersebut, Sugita kemudian menghimpun para pemenang festival dan mendirikan Panjamu Asrama, yang menjadi tonggak penting kiprahnya di dunia seni pertunjukan. Perannya sebagai Patih Agung, tokoh antagonis yang kuat dan berkarakter, melekat erat dalam ingatan masyarakat Bali dan penikmat drama gong lintas generasi.

Dalam pengabdiannya, almarhum juga tercatat membina dan bergabung dengan berbagai sekaa drama gong ternama, seperti Wira Bhuana, Kerthi Bhuana, Bintang Remaja Gianyar, hingga Bandana Budaya. Bersama Bintang Remaja Gianyar, ia berhasil mengantarkan sekaa tersebut meraih Juara I PKB 1993. Setahun kemudian, Bandana Budaya yang dibinanya meraih Juara II PKB 1994, serta sukses membawa sekaa drama gong duta Kota Denpasar meraih Juara I PKB 1995. Selain dikenal sebagai seniman yang teguh menjaga pakem dan nilai-nilai tradisi Bali, almarhum juga mengabdikan diri di dunia akademik. Ia mengajar sebagai dosen di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan meraih gelar Guru Besar pada Oktober 2023.

Selain sebagai pelaku seni dan akademisi, Prof Sugita juga dikenal sangat aktif dalam kehidupan Desa Adat Bukit Batu, Samplangan, Gianyar. Hingga akhir hayatnya, Prof Sugita masih tercatat  menjabat sebagai Kerta Desa hingga tahun 2030. Bendesa Adat Bukit Batu, I Kadek Sutama, menyebut almarhum sebagai sosok panutan yang konsisten ngayah untuk desa dan adat. “Beliau figur legend yang mengharumkan nama Bukit Batu. Walau tinggal di Denpasar, beliau tetap aktif pulang dan ngayah di desa,” ujarnya. 7 rat, nvi

Komentar