Bawaslu Siapkan ‘Mata dan Telinga’
Pengawasan Partisipatif Libatkan Anak-anak Muda
Ariyani menegaskan, ketiadaan tahapan pemilu bukan alasan untuk berhenti melakukan konsolidasi
DENPASAR, NusaBali
Meski tahapan Pemilu belum dimulai, Bawaslu Provinsi Bali sudah bergerak aktif menyiapkan pengawasan partisipatif dengan melibatkan anak muda. Bersama Purna Paskibraka Indonesia (PPI), lembaga pengawas ini menyiapkan generasi muda sebagai simpul strategis yang dapat menyaring dan menyebarkan informasi demokrasi di masyarakat.
Di hadapan pengurus PPI, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Bali, Ketut Ariyani, menyampaikan pentingnya melibatkan publik dalam pengawasan. Ia menekankan bahwa beban pengawasan yang semakin kompleks tak mungkin dipikul sendiri oleh lembaga. “Banyak yang harus kami awasi. Karena itu, kami membutuhkan masyarakat sebagai perpanjangan mata dan telinga,” ujar Ariyani di Kantor PPI Bali, Kamis (8/1).
Ariyani menegaskan, ketiadaan tahapan pemilu bukan alasan untuk berhenti melakukan konsolidasi. Justru, fase sebelum pemilu merupakan momentum penting bagi Bawaslu untuk memperluas audiensi dan kunjungan ke berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, pengawasan pemilu bukan sekadar kerja teknis saat hari pemungutan suara, melainkan proses panjang yang menuntut keterlibatan publik. Purna Paskibraka Indonesia dipandang memiliki posisi strategis.
Ariyani menjelaskan, anak-anak muda di PPI bukan hanya simbol upacara, tetapi telah ditempa dengan disiplin, nasionalisme, dan kepekaan sosial. Mereka juga relatif cermat membaca dinamika zaman, sehingga bisa menjadi saluran penting penyebaran informasi demokrasi yang benar. “Anak-anak muda ini sudah mengikuti perkembangan dan mendapatkan pendidikan yang teliti. Mereka bisa menjadi saluran penting penyebaran informasi demokrasi yang benar,” kata Ariyani dalam siaran pers Bawaslu Bali diterima, Kamis (8/1).
Bawaslu Bali membuka peluang kerja sama formal melalui draf kesepahaman yang akan diserahkan kepada PPI untuk dipelajari dan dikembangkan bersama. Ketua PPI Bali, Made Edi Agustisna, menyambut tawaran tersebut dengan antusias. Ia menjelaskan, PPI berada di bawah dua naungan, yakni Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Badan Kesbangpol, dan memiliki jejaring lintas bidang, termasuk unsur hukum di tingkat provinsi. “Jika diberikan kepercayaan, kami siap terlibat dalam pengawasan,” ujar Made Edi.
Menurutnya, kegiatan PPI berlangsung rutin setiap tahun, meski tantangan utama terletak pada jangkauan sosialisasi. Karena itu, PPI membuka ruang bagi Bawaslu untuk masuk dalam berbagai agenda internal, mulai dari pertemuan rutin hingga rapat koordinasi. Setiap momentum tersebut akan dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi kepemiluan dan demokrasi kepada anggota yang mayoritas merupakan anak muda enerjik.
Ariyani menegaskan bahwa generasi muda merupakan simpul strategis dalam ekosistem demokrasi. Di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi, anak muda dapat menjadi penyaring sekaligus penyebar pesan yang kredibel. Materi yang dibawa Bawaslu fokus pada pengawasan partisipatif, sehingga anggota PPI diharapkan menjadi basis-basis pengawasan yang menyebarkan nilai, informasi, dan kewaspadaan demokrasi di tengah masyarakat.
Di saat tahapan pemilu belum dimulai, Bawaslu Bali tampaknya tak ingin menunggu. Alih-alih bersikap reaktif, lembaga ini menanam jejaring, menyadari bahwa demokrasi seperti pengawasannya tidak lahir mendadak, tetapi dibangun jauh sebelum bilik suara didirikan. tra
Komentar