Target Kunjungan Jatiluwih Normal Pertengahan Tahun
TABANAN, NusaBali - Kunjungan wisatawan ke kawasan Warisan Dunia UNESCO Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, mengalami penurunan tajam menyusul polemik pemasangan seng di area persawahan. Dampak paling signifikan dirasakan sejak Desember 2025, ketika sejumlah wholesaler mancanegara menghentikan penjualan paket wisata ke destinasi subak tersebut.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut ‘Jhon’ Purna, Rabu (7/1), mengatakan anjloknya kunjungan terutama dipicu kekhawatiran pasar luar negeri terhadap aspek keselamatan dan citra destinasi. Akibat kondisi tersebut, kunjungan wisatawan pada Desember 2025 turun hingga sekitar 80 persen. Penurunan ini masih sedikit tertolong oleh wisatawan domestik, namun pasar mancanegara hampir berhenti total.
Dalam kondisi normal, kunjungan wisatawan mancanegara ke Jatiluwih berada di kisaran 800 hingga 1.000 orang per hari. Pasca polemik, angka tersebut sempat merosot hingga sekitar 120 orang per hari. Namun seiring membaiknya situasi, kunjungan wisatawan kini berangsur meningkat dan telah mencapai sekitar 50 persen dari kondisi normal.
Jhon Purna menjelaskan, sejumlah wholesaler dari Jerman serta sebagian dari Prancis telah memblokir penjualan Jatiluwih. Keputusan tersebut diambil setelah muncul kekhawatiran bahwa kondisi destinasi tidak lagi layak dipasarkan, baik dari sisi keamanan maupun estetika kawasan. “Alasan utamanya soal keselamatan. Selain itu, dari sisi estetika juga tidak layak dijual. Pemandangan sawah yang seharusnya indah justru dipenuhi seng,” ujarnya.
Untuk memulihkan kepercayaan pasar, pengelola DTW Jatiluwih berencana segera berkoordinasi dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali dan pemangku kepentingan pariwisata lainnya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan informasi terkini terkait kondisi Jatiluwih tersampaikan dengan baik kepada jaringan agen perjalanan, termasuk mitra luar negeri. “Saya akan sounding ke travel agent bahwa Jatiluwih sudah aman, tidak ada seng lagi, dan tidak ada gangguan terhadap wisatawan,” kata Jhon Purna.
Ia berharap kondisi kunjungan mulai membaik pada April 2026 dan kembali normal sepenuhnya paling lambat pertengahan tahun. Selain itu, rencana promosi ke luar negeri juga tengah disiapkan, termasuk peluang mengikuti travel fair di Manila, Filipina, apabila memperoleh persetujuan dari pihak terkait.
Sebagai informasi, DTW Jatiluwih sejak April 2025 telah memberlakukan kebijakan insentif bagi anggota ASITA Bali. Kebijakan tersebut berupa diskon 10 persen bagi anggota ASITA yang membawa wisatawan, serta skema 15 berbayar gratis 1. Kebijakan ini merupakan bagian dari kerja sama yang telah berjalan sebelumnya untuk mendukung pemasaran destinasi. “Ini kemudahan yang memang sudah kami terapkan sejak lama sebagai bentuk dukungan kepada pelaku perjalanan,” pungkas Jhon Purna. 7may
Komentar