nusabali

Kemdiktisaintek Bidik 6 Industri Teknologi Baru

  • www.nusabali.com-kemdiktisaintek-bidik-6-industri-teknologi-baru

JAKARTA, NusaBali - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong pendirian antara lima hingga enam industri baru berbasis teknologi mutakhir melalui kerja sama dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mempercepat alih teknologi.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek Fauzan Adziman mengatakan, pengembangan industri ke depan tidak bisa lagi mengandalkan rantai pasok di dalam negeri semata, melainkan harus terhubung dengan industri global. Karena itu, kolaborasi dengan mitra luar negeri menjadi keniscayaan.

“Kita ingin mengembangkan 5–6 industri kuat yang pengembangannya berbasis teknologi. Pengembangannya kita akan bekerja sama, karena sekarang supply chain tidak bisa lagi hanya di dalam negeri, harus ada hubungan dengan industri di luar,” ujar Fauzan, Selasa (6/1).

Fauzan menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki banyak perusahaan berskala kecil yang belum dapat berkembang optimal karena keterbatasan teknologi. Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). “Kita melihat jumlah PLTSa di Indonesia ke depan akan bertambah. Supaya kita tidak hanya menggunakan atau membeli teknologi dari luar, tetapi dalam perjalanannya kita juga mengembangkan sendiri dengan mengadopsi teknologi tersebut,” katanya.

Menurut Fauzan, proses transfer teknologi akan dilakukan melalui kerja sama langsung dengan perusahaan asing. Perusahaan mitra dari luar negeri akan berkontribusi pada penguasaan teknologi, sementara sumber daya manusia Indonesia dilibatkan secara aktif dalam proses pengembangan. “Proses transfer teknologinya dilakukan bersama-sama dengan perusahaan asing. Mereka memiliki teknologinya, sementara SDM di Indonesia kita libatkan dalam proses pengembangan,” ujarnya. Ia menegaskan, kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak atau win-win solution, baik bagi Pemerintah Indonesia maupun Jepang.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, kolaborasi riset dengan Jepang tidak hanya difokuskan pada pengembangan PLTSa, tetapi juga mencakup sektor industri strategis lainnya. Di antaranya semikonduktor, silikon, sel surya, hingga industri hilirisasi mineral. “Kita juga mengharapkan berbagai industri tersebut bisa dilahirkan dalam satu atau dua tahun mendatang,” ujar Brian.

Ia menambahkan, Kemdiktisaintek akan melibatkan perguruan tinggi dan para profesor dalam negeri dalam kerja sama tersebut. Dari pihak Jepang, sejumlah profesor serta pelaku industri juga akan dilibatkan untuk memperkuat riset dan pengembangan. “Kita akan menawarkan kepada teman-teman pendidikan tinggi dan profesor-profesor. Jepang juga akan memberikan beberapa profesornya, dan industrinya akan kita libatkan,” pungkas Brian. 7ant

Komentar