nusabali

Belajar dari Tahun Lalu, ST Semadhi Dharma Putra Fokus Matangkan Karya Ogoh-Ogoh Çaka 1948

  • www.nusabali.com-belajar-dari-tahun-lalu-st-semadhi-dharma-putra-fokus-matangkan-karya-ogoh-ogoh-caka-1948

DENPASAR, NusaBali.com – Semangat berkarya tetap menyala di kalangan pemuda ST Semadhi Dharma Putra, Banjar Pohgading, Ubung Kaja, Denpasar Utara. Menyambut Kasanga Festival 2026 sekaligus Tahun Baru Çaka 1948, sekaa teruna ini menyiapkan ogoh-ogoh dengan empat tokoh karakter, sebagai wujud refleksi dan pembelajaran dari proses berkarya di tahun sebelumnya.

Arsitek ogoh-ogoh ST Semadhi Dharma Putra, Anak Agung Aris Pratama atau akrab disapa Gung Aris, mengatakan proses pembuatan ogoh-ogoh telah dimulai sejak 16 Desember 2025. 

“Kami berproses pelan-pelan, dicicil sedikit demi sedikit agar lebih terkontrol. Target kami ogoh-ogoh ini bisa rampung pada awal Februari,” ujar Gung Aris.

Untuk tahun ini, anggaran ogoh-ogoh diperkirakan berada di kisaran Rp30 juta. Menurutnya, ST Semadhi Dharma Putra tidak lagi memasang target juara, melainkan lebih menitikberatkan pada pematangan karya dan optimalisasi sumber daya manusia (SDM) di internal sekaa teruna.

Pengalaman di tahun Çaka 1947 menjadi pelajaran berharga. Saat itu, jumlah tokoh yang terlalu banyak membuat proses finishing tidak maksimal, bahkan berdampak pada membengkaknya anggaran. “Tahun lalu dana benar-benar bengkak, dari estimasi Rp30–60 juta menjadi sekitar Rp85 juta. Padahal di tahun-tahun sebelumnya kami tidak pernah menganggarkan lebih dari Rp50 juta,” ungkapnya.

Pada garapan tahun ini, ST Semadhi Dharma Putra menghadirkan empat tokoh karakter yang merepresentasikan unsur Dewa, Manusia, dan Bhuta Kala, dikemas dalam satu alur cerita yang lebih matang dan terukur. Pemilihan jumlah tokoh tersebut dilakukan agar proses penggarapan lebih fokus dan hasil akhirnya maksimal.

Tema air yang diusung dalam Kasanga Festival 2026 juga menjadi tantangan tersendiri. Jika pada tahun sebelumnya mereka mengangkat tema Bhuta Kala, kini seluruh alur cerita harus diselaraskan dengan filosofi air. “Kami harus benar-benar jeli agar tema, makna, dan visualnya sejalan. Ini bukan hal mudah, tapi justru menjadi ruang belajar bagi kami,” kata Gung Aris.

Selain pematangan konsep dan alur cerita, tantangan lain datang dari pembagian waktu. Gung Aris mengaku juga menangani proyek ogoh-ogoh di tempat lain, sehingga manajemen waktu menjadi kunci agar garapan ST Semadhi Dharma Putra tetap optimal.

“Kami ingin karya tahun ini lebih rapi, lebih matang, dan sesuai kemampuan. Tidak mengejar gengsi, tapi mengejar kualitas,” tegasnya.

Melalui semangat tersebut, ST Semadhi Dharma Putra berharap ogoh-ogoh Çaka 1948 tidak hanya tampil sebagai karya seni visual, tetapi juga menjadi media pembelajaran kolektif bagi generasi muda Banjar Pohgading dalam menjaga tradisi, mengelola kreativitas, dan berkarya secara bertanggung jawab. Astungkara, seluruh proses dapat berjalan lancar hingga malam Ngerupuk nanti. *m03

Komentar