nusabali

Keterbatasan Bukan Halangan untuk Berkarya

Dikyan Ubah Tas Jadi Naik Kelas dengan Coretan Lukisan

  • www.nusabali.com-keterbatasan-bukan-halangan-untuk-berkarya

Bagi Dikyan, apapun kehidupan yang telah digariskan kepadanya, selalu dia syukuri. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

MANGUPURA, NusaBali
Di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya, semangat pelukis difabel asal Badung, I Wayan Abdi Arya Nugraha, 28, tak pernah surut. Pemuda asal Banjar Teguan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Badung ini terus melangkah di jalan seni. Terbukti, dari tangan dingin dan kreativitasnya, tas kulit sintetis polos, naik kelas menjadi tas lukis bercorak lukisan gaya Bali yang cantik, mewah, dan anggun.

NusaBali mengunjungi pemuda yang akrab disapa Dikyan itu di kediamannya pada Minggu (4/1). Dikyan tampak sedang serius mengerjakan pewarnaan pada pola yang sudah tergambar pada media tas. Sambil asyik bekerja, Dikyan mengisahkan lika likunya berkesenian.

Sebetulnya, Dikyan tidak berasal dari keluarga seniman. Dia mengaku tidak memiliki garis keturunan
seni, baik dari orang tua maupun kakek-neneknya. Dia sendiri tak paham, kenapa dia memiliki kemampuan melukis, padahal tidak ada warisan darah seni. “Gak ada darah seni. Itulah yang tiang gak mengerti. Saya tanya bapak, kakek, katanya  gak ada darah seni dari dulu,“ ceritanya.

Dari penuturannya, Dikyan mengaku mulai melukis sejak 2015. Kala itu masih sebatas karikatur di atas kertas. Lewat seorang warga negara Australia yang dikenalnya melalui sebuah yayasan, karya-karyanya kemudian dibawa ke Australia untuk dicetak dan dipasarkan. Tak disangka, coretannya mampu menghasilkan pendapatan hingga sekitar Rp 40 juta, kala itu.

Seiring waktu, Dikyan kemudian mulai mencoba melukis di kanvas. Pada 2017, karyanya bahkan sempat dipamerkan di Amerika Serikat oleh bule yang sama. Satu tahun berselang, karyanya ikut dipamerkan di Korea Selatan. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Tahun 2019 mulai sepi, dan pandemi COVID-19 pada 2020 membuat aktivitas seninya nyaris terhenti.

“Pas COVID-19 itu kosong. Tahun 2021 baru berpikir lagi, apa yang harus dibikin biar ada saja pemasukan. Kalau bikin lukisan-lukisan itu, pas COVID-19 kan gak mungkin bisa dipasarkan. Nah, saya coba lewat media tas (tote bag), dan saya post di media sosial. Dari sana, ada lah peningkatan dikit-dikit,“ tuturnya.

Pemuda kelahiran 1997 ini melanjutkan, titik balik melejitnya karya-karya Dikyan terjadi pada tahun 2024. Ketika itu, dia secara tiba-tiba dihubungi seorang tokoh publik, yang kini duduk sebagai Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta— Gus Bota untuk membuat lukisan wajah. Keberuntungan kemudian datang saat istri Gus Bota, Yunita Oktarini tertarik dengan lukisannya. Dari pertemuan tersebut, Dikyan diminta mengembangkan tas lukis dengan bercorak lukisan Bali.

“Awal tahun 2025 saya dichat oleh Bu Yunita, bisa gak bikin tas lukis? Saya bilang, saya akan coba. Setelah tasnya jadi, karya saya juga dipromosikan langsung tim medsosnya. Dari situ langsung boom tas lukis ini,” terang Dikyan. Pada pertengahan tahun 2025, Dikyan juga sempat dipanggil oleh istri Bupati Badung, Ny Rasniathi Adi Arnawa, dan dibantu masalah permodalan UMKM.

Adapun yang menjadi khas karya Dikyan terletak pada perpaduan gaya pewayangan Kamasan dengan pepatraan Batuan, termasuk dikombinasi dengan kreativitas dan inspirasinya sendiri dalam pewarnaan. Kata dia, gaya ini dipilih sebagai upaya menjaga tradisi agar tetap relevan dan bertahan.

Dalam proses produksi, Dikyan dibantu tiga teman lainnya. Setiap tas melalui proses mulai dari sketsa pensil, penegasan garis, hingga tiga lapis pewarnaan yang dia sebut dengan ngeblok, nyigar, dan nyawi. Saat ini, Dikyan bekerja dibantu oleh tiga temannya. Bahkan, Dikyan menjadi mentor bagi teman-temannya selama pengerjaan.

“Ya, semua belajar di sini, tiang (saya) yang mengajar ini. Tapi semuanya ada tugas masing-masing, kan gak semua bisa dari awal. Ada yang mewarna saja, ada yang di sketsa saja,” terang Dikyan.

Dia mengungkapkan, untuk desain sederhana, satu tas bisa selesai dalam sehari. Sementara tas dengan desain rumit sesuai permintaan customer, bisa memakan waktu lebih dari riga hari. Saat permintaan membludak, mereka kerap bekerja hingga dini hari demi memenuhi pesanan. Saat booming, Dikyan mengaku pesanan rata-rata 2-10 produk dalam sehari.

“Rata-rata ya 2 sampai 10 orderan lah. Itu saja sudah bingung, karena order tas polosnya di luar Bali. Jadi agak ribet juga. Kalau sudah jadi, harganya bervariasi dari Rp 500rb sampai Rp 1 juta. Pernah ada yang sampai Rp 3 juta, tapi itu tingkat kerumitannya tinggi dan permintaan khusus dari customernya juga,” imbuhnya.

Kini, usahanya mulai mendapat dukungan berupa bantuan modal UMKM serta perlindungan hak cipta dan merek. Meski diakui saat ini orderan tak sebooming dulu, namun dia bersyukur. Ke depan, jalan masih terbuka lebar. Bahkan dalam waktu dekat, Dikyan berkesempatan memamerkan 50 karyanya dalam rangka kegiatan PDIP di Jakarta.

Bagi Dikyan, apapun kehidupan yang telah digariskan kepadanya, selalu dia syukuri. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dikyan percaya bahwa selama ada niat dan kemauan untuk berusaha, jalan akan selalu terbuka. “Sebenarnya dulu sempat bingung, dengan kondisi diri, kemana akan jalan hidup. Karena gak mungkin minta terus ke orangtua. Tapi saya percaya, kalau kita berusaha pasti ada jalan. Yang penting niat dulu. Kalau sudah ada niat pasti ada jalan,” ucap Dikyan.7 ind

Komentar