nusabali

Mengenal Perang Untek, Tradisi Peninggalan Bali Kuno Setiap Purnama Kapitu di Desa Adat Kiadan

Ungkap Rasa Syukur dengan 555 Tumpeng Putih dan 777 Penek Kuning

  • www.nusabali.com-mengenal-perang-untek-tradisi-peninggalan-bali-kuno-setiap-purnama-kapitu-di-desa-adat-kiadan

Tradisi ini dimaknai sebagai ekspresi spiritual dari kesuburan, yakni Purusa (laki-laki) dan Pradana (perempuan) dipertemukan melalui sarana simbol-simbol

MANGUPURA, NusaBali
Krama Desa Adat Kiadan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung memiliki sebuah tradisi agraris dengan jejak sejarah dimulai dari zaman Bali Kuno. Tradisi tersebut dikenal sebagai Perang Untek yang dilaksanakan setiap Purnama Sasih Kapitu, seperti yang digelar pada Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu (3/1/2026).

Perang Untek dilaksanakan serangkaian upacara Ngusaba Masa. Upacara tersebut merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas keberlimpahan hasil panen dan kesuburan lahan pertanian. Di Desa Adat Kiadan, ritual ini masih sangat relevan lantaran 85 persen warga dan mayoritas topografi wilayah merupakan agraris. Bendesa Adat Kiadan, I Nyoman Laba,56, menuturkan di sela upacara Ngusaba Masa tersebut dilaksanakan tradisi Perang Untek. 

Tradisi ini dimaknai sebagai ekspresi spiritual dari kesuburan atau penciptaan yakni Purusa (laki-laki) dan Pradana (perempuan) dipertemukan melalui sarana simbol-simbol. “Perang Untek menggunakan sarana untek atau penek, dan tumpeng. Keduanya simbol Pradana dan Purusa yang dipertemukan dalam tradisi ini dengan harapan Ida Bhatara menganugerahkan kesuburan dan kebaikan bagi sarwa prani (alam beserta isinya),” tutur Bendesa Laba, ditemui di Pura Desa lan Puseh Kiadan, Sabtu malam.

Untek dan tumpeng merupakan komponen persembahan yang terbuat dari nasi. Nasi dipadatkan berbentuk lingkaran pipih menjadi untek dan yang lain dipadatkan menjadi kerucut sehingga membentuk tumpeng. Untek dibuat berwarna kuning, sedangkan tumpeng berwarna putih nasi alami. “Tumpeng dibuat berjumlah 555 buah. Sedangkan untuk untek, penek, atau kami juga menyebutnya telompokan itu sejumlah 777 buah. Angka ini menyimbol pangurip bhuwana (purwa–pascima),” jelas Bendesa Laba.

Lima merupakan pangurip arah purwa (timur), berwarna putih, dan merupakan arah matahari terbit. Tujuh adalah angka pangurip arah pascima (barat), berwarna kuning, dan merupakan tempat matahari terbenam. Hal ini menjadi pengejawantahan perputaran semesta. Ketika Purnama Kapitu tiba, untek dan tumpeng itu dipersembahkan di Pura Taman Beji Desa Adat Kiadan. Setelah serangkaian ritual, para daha teruna (pemudi-pemuda) masing-masing mengambil untek dan tumpeng. Teruna membawa tumpeng berdiri di timur menghadap barat, sedangkan daha membawa untek di arah sebaliknya.

Daha teruna Kiadan lantas saling melempar untek atau dan tumpeng atau disebut Perang Untek—sehingga simbol Purusa dan Pradana tersebut saling bertemu/memantul di udara. Pertemuan energi spiritual laki-laki dan perempuan yang dilaksanakan menjelang tengah hari ini menciptakan kesuburan baik secara sakala maupun niskala.

“Kenapa Perang Untek dilaksanakan di Pura Taman Beji? Karena kesuburan itu sudah barang tentu bermula dari adanya air yang direpresentasikan Pura Taman Beji,” ungkap Bendesa Laba usai menerima piagam Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia untuk tradisi Perang Untek di Pura Desa lan Puseh Kiadan, Sabtu malam.

Sementara itu, Perang Untek ini diyakini berakar dari tradisi zaman Bali Kuno. Bendesa Laba menjelaskan, tradisi ini diperkirakan bermula dari zaman Dinasti Warmadewa di Kerajaan Bali (abad IX sampai XIV). Hal ini diperkuat dengan keberadaan sistem desa tua di Desa Adat Kiadan. 

Selain memiliki Bendesa sebagai pemimpin desa adat. Kiadan juga masih mempertahankan sistem desa tua dari zaman Bali Kuno—terdiri 30 krama ngarep yang dipimpin Kubayan. Kubayan dan 30 krama tua bertanggung jawab atas upacara di seluruh parahyangan Kiadan, termasuk Ngusaba Masa dan tradisi Perang Untek. Krama biasa ikut membantu. “Kami, Desa Adat Kiadan tergolong desa tua apanaga karena sudah bercampur dengan Bali Majapahit—tetapi tetap ada Kubayan, Kubau, Panyarikan, Panyegongan, dan Juru berjumlah 12 orang,” tandas Bendesa Laba. 7 rat

Komentar