nusabali

Mengenang Lagi Strategi Perang Supit Urang yang Terpahat di Monumen Perang Jagaraga, Buleleng

Catatkan Sejarah Rakyat Bali Utara Ketika Melawan Kolonial Belanda

  • www.nusabali.com-mengenang-lagi-strategi-perang-supit-urang-yang-terpahat-di-monumen-perang-jagaraga-buleleng

Patung I Gusti Ketut Jelantik dan Jero Jempiring dari trah Semeton Arya Pengalasan berdiri sebagai simbol keberanian rakyat Bali Utara melawan penjajahan

SINGARAJA, NusaBali
Desa Jagaraga, di wilayah Buleleng Timur, bukan sekadar nama tempat dalam peta sejarah Bali. Di desa inilah strategi ‘perang supit urang’ diterapkan secara nyata, menjadi benteng terakhir perlawanan rakyat Bali Utara menghadapi kolonialisme Belanda pada abad ke-19. Jejak perlawanan itu kini diabadikan melalui Monumen Perang Jagaraga yang berdiri di Kecamatan Sawan, Buleleng.

Monumen Puputan Jagaraga dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng pada tahun 2016 sebagai upaya melestarikan sejarah perjuangan rakyat Buleleng. Monumen ini berdiri di atas lahan seluas 55,5 are, tidak jauh dari kawasan Pura Dalem Segara Madu, Desa Pakraman Jagaraga. Pembangunannya dibiayai dari APBD Buleleng 2016 dengan total anggaran mencapai Rp 15 miliar. Di area monumen berdiri patung dua tokoh sentral Puputan Jagaraga, yakni I Gusti Ketut Jelantik dan Jero Jempiring, menjulang setinggi 15 meter dan menghadap ke arah utara. 

Di bawah monumen juga dilengkapi dengan diorama, yang dibagi menjadi beberapa bab, menceritakan perjuangan pribumi melawan kolonial. Sejarah Puputan Jagaraga bermula dari peristiwa kandasnya kapal Belanda di perairan Buleleng. Saat itu, Kerajaan Buleleng masih memberlakukan adat Hak Tawan Karang yang menganggap kapal asing beserta muatannya menjadi hak kerajaan. Tuntutan Belanda agar kapal dan isinya dikembalikan ditolak Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem bersama Patih I Gusti Ketut Jelantik. Penolakan ini kemudian memicu agresi militer Belanda ke Bali Utara.

Meski sempat dipaksa menandatangani perjanjian yang menghapus Hak Tawan Karang dan memberi hak monopoli dagang kepada Belanda, kerajaan-kerajaan di Bali tidak pernah benar-benar tunduk. Kekuatan kembali dihimpun dari Kerajaan Buleleng, Karangasem, dan Klungkung untuk melawan kekuasaan kolonial. Desa Jagaraga dipilih sebagai pusat pertahanan karena letaknya yang strategis. Wilayah ini berada di lereng perbukitan dengan jurang di kanan dan kiri. Di tempat inilah benteng pertahanan dibangun dengan strategi supit urang, menyerupai jepitan udang, yang memungkinkan pasukan Bali menjepit pergerakan musuh dari dua sisi. Benteng ini dilengkapi parit serta ranjau bambu untuk menghambat laju pasukan Belanda.

Kepala Dinsos Buleleng, I Putu Kariaman Putra. -LILIK 

Sekitar 15.000 laskar Bali bertahan di Benteng Jagaraga. Sebagian kecil bersenjata senapan api, sementara sisanya mengandalkan tombak dan senjata tradisional. Pada 1848, Belanda melancarkan serangan pertama, namun gagal menembus pertahanan rakyat Bali karena belum memahami medan dan siasat supit urang. Belanda kembali menyerang pada April 1849 dengan kekuatan besar. Setelah mengetahui strategi pertahanan Jagaraga melalui mata-mata, pasukan kolonial menyerang dari dua arah, depan dan belakang. 

Benteng Jagaraga dihujani tembakan meriam secara terus-menerus. Pada 19 April 1849, benteng akhirnya jatuh. Seluruh Laskar Jagaraga gugur di medan laga. Tak satupun mundur atau meninggalkan medan perang. Strategi supit urang memang akhirnya tumbang oleh kekuatan senjata modern, namun semangat perlawanan itulah yang kini diabadikan dalam Monumen Perang Jagaraga. Patung I Gusti Ketut Jelantik dan Jero Jempiring dari trah Semeton Arya Pengalasan berdiri sebagai simbol keberanian rakyat Bali Utara melawan penjajahan.

Seiring waktu, monumen ini dirawat sebagai ruang ingatan sekaligus sarana edukasi. Kepala Dinas Sosial Buleleng, I Putu Kariaman Putra, Selasa (30/12), menyebut Monumen Jagaraga berada di bawah pengelolaan UPTD Tri Yudha Sakti bersama monumen perjuangan lainnya.

“Petugas keamanan dan kebersihan selalu ada setiap hari. Mereka juga sudah dibekali informasi dasar agar bisa menjelaskan sejarah monumen kepada pengunjung,” ujar Kariaman. Meski tak seramai Daya Tarik Wisata (DTW), kunjungan pelajar tercatat cukup rutin, terutama saat hari libur. Rata-rata sekitar 100 siswa datang setiap bulan. Anak-anak panti asuhan juga disebut Kariaman kerap diajak belajar sejarah langsung di lokasi monumen.

Untuk memperluas akses informasi, Dinas Sosial Buleleng juga mengembangkan inovasi digital bertajuk Melawan Lupa. Melalui program ini, masyarakat dapat mengakses video dan narasi sejarah berbagai monumen perjuangan di Buleleng, termasuk Monumen Perang Jagaraga.

Meski operasional dasar seperti listrik, air, dan kebersihan sudah terpenuhi, penguatan sumber daya manusia dan perbaikan fisik monumen masih terus diusulkan. Harapannya, Monumen Puputan Jagaraga tak hanya berdiri kokoh secara fisik, tetapi tetap hidup sebagai pengingat strategi perang dan semangat juang rakyat Bali Utara yang tak pernah menyerah. 7 k23

Komentar