nusabali

Man Handy Memberi Makna Baru pada Kayu yang Terbuang

Selaras dengan Pandangan Gubernur Koster, Limbah Kayu Dimanfaatkan secara Artistik

  • www.nusabali.com-man-handy-memberi-makna-baru-pada-kayu-yang-terbuang

DENPASAR, NusaBali.com — Saran Gubernur Bali Wayan Koster agar sampah kiriman berupa kayu di pesisir dimanfaatkan menjadi karya seni dan kerajinan menemukan relevansinya dalam pameran tunggal perupa Nyoman Handi Yasa alias Man Handy. Melalui pameran bertajuk Cycles & Journeys di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort, Sanur, Man Handy menghadirkan karya seni berbasis kayu bekas dan kayu hanyut yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah.

Perupa asal Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yang kini berstudio di Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar, tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan kayu limbah sebagai medium seni tidak bisa dilakukan secara serampangan. Tidak semua kayu layak diolah menjadi karya, karena diperlukan karakter material yang kuat dan tahan proses.

“Ide dasarnya bagaimana bahan yang sudah tidak dipergunakan lagi bisa diolah kembali menjadi karya, tapi tentu harus dipilih. Tidak semua kayu bisa dipakai karena ada yang cepat lapuk,” ujar Man Handy.


Ia menjelaskan, kayu-kayu yang digunakan umumnya merupakan sisa bangunan atau kayu hanyut dari pesisir yang telah melalui proses alam, termasuk pelapukan dan dimakan rayap. Justru dari proses tersebut tersisa bagian kayu terkuat yang kemudian dikumpulkan secara bertahap hingga dua tahun sebelum diolah menjadi karya.

Praktik berkesenian ini sejalan dengan pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster pada 12 Desember 2025 lalu yang mendorong pemanfaatan gelondongan kayu di pantai, menyusul rencana penutupan total TPA Suwung pada 23 Desember 2025. Menurut Koster, kayu kiriman di pesisir dapat diolah menjadi produk seni dan kerajinan bernilai tambah.

Pameran Cycles & Journeys merefleksikan siklus kehidupan, perjalanan, dan transformasi material melalui bahasa visual khas Man Handy. Karya-karya yang ditampilkan lahir dari proses panjang, baik dalam pencarian material maupun perenungan konsep.

Pameran ini dibuka secara resmi pada Jumat (19/12/2025) oleh tokoh publik Alexander Ketjil Kosasie dan dilengkapi refleksi tertulis dari penulis seni I Made Susanta Dwitanaya. Bertempat di Sudakara ArtSpace, ruang seni yang menjadi bagian dari Sudamala Resort Sanur, pameran ini menegaskan komitmen ruang tersebut dalam mendukung seni yang berkelindan dengan isu keberlanjutan.

Pameran menampilkan sekitar 21 karya lukisan dan tujuh karya patung, dan berlangsung hingga 6 Februari 2026. Melalui pameran ini, Man Handy mengajak publik memandang limbah bukan sebagai akhir, melainkan bagian dari siklus yang dapat diberi nilai dan makna baru.

Komentar