Digitalisasi Koperasi Masih Tertinggal, Ojol Berbasis Koperasi Desa Jadi Peluang di Bali
DENPASAR, NusaBali.com – Lemahnya digitalisasi masih menjadi persoalan utama ribuan koperasi di Bali. Sebagian besar koperasi masih bergelut dengan pencatatan manual, keterbatasan sumber daya manusia, serta minimnya pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan usaha dan pelayanan anggota.
Di tengah tantangan tersebut, pengembangan layanan transportasi online berbasis koperasi desa dinilai membuka peluang baru bagi penguatan ekonomi kerakyatan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam kegiatan pengenalan platform digital Kooperasi.com dan layanan transportasi lokal berbasis koperasi Opang.id yang digelar di Bumbu Kuliner Nusantara, Denpasar, Rabu (17/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan pengelola platform, pemangku kepentingan koperasi, serta perwakilan pemerintah daerah.
Direktur Utama Kooperasi.com dan Opang.id, Putu Adi Wijaya, mengatakan mayoritas koperasi, khususnya koperasi desa dan kelurahan, masih menghadapi kendala tata kelola akibat belum terintegrasi secara digital. Kondisi ini berdampak pada rendahnya daya saing koperasi di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat.
“Masih banyak koperasi dipersepsikan sebagai lembaga yang tertinggal. Padahal, jika tata kelolanya terdigitalisasi, koperasi bisa menjadi lembaga ekonomi modern yang diminati generasi muda,” ujar Putu Adi.
Ia menjelaskan, Kooperasi.com dirancang sebagai platform tata kelola koperasi berbasis digital yang mudah diakses melalui WhatsApp, mencakup pendataan anggota, simpan pinjam, pencatatan transaksi, hingga integrasi pembayaran digital. Sistem ini ditujukan untuk menjawab keterbatasan SDM dan infrastruktur teknologi di tingkat desa.
Selain digitalisasi tata kelola, peluang ekonomi lain yang disorot adalah sektor transportasi online. Melalui Opang.id, koperasi didorong menjadi operator layanan ojek online lokal yang sepenuhnya dikelola oleh koperasi dan anggotanya.
“Selama ini bisnis ojol dikuasai platform besar, sementara koperasi hanya bergerak di simpan pinjam. Padahal, jika dikelola koperasi desa, perputaran uangnya bisa tinggal di desa dan dinikmati anggota,” jelasnya.
Menurut Putu Adi, dengan skema tersebut, pengemudi merupakan anggota koperasi, sementara koperasi memperoleh pendapatan berkelanjutan dari setiap transaksi. Ia mencontohkan, jika satu koperasi mengelola sekitar 50 pengemudi dengan rata-rata 10–20 perjalanan per hari, maka perputaran ekonomi dapat mencapai puluhan juta rupiah per bulan, bahkan secara agregat berpotensi menembus belasan miliar rupiah.
Ketua Tim Pemberdayaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Ni Kadek Indah Sanjiwani Dewi, mengakui digitalisasi koperasi di Bali masih belum merata. Menurutnya, keterbatasan kemampuan pengelola dalam mengoperasikan sistem digital menjadi tantangan yang terus dihadapi pemerintah daerah.
“Digitalisasi koperasi sudah menjadi kebutuhan. Kami di dinas terus mendorong pelatihan dan membuka kerja sama dengan pihak ketiga agar koperasi bisa beradaptasi dengan teknologi,” ujarnya.
Ia menilai, model bisnis transportasi online berbasis koperasi sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan. Selain meningkatkan pendapatan anggota sebagai pengemudi, keuntungan koperasi juga akan kembali ke anggota dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU).
Pandangan serupa disampaikan Ketua Dekopimda Denpasar, I Nyoman Sudarsa. Menurutnya, kehadiran layanan ojol yang dioperasikan koperasi berpotensi menjadi unit usaha baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, terutama bagi koperasi yang beranggotakan pedagang pasar dan pelaku UMKM.
“Kalau koperasi bisa mengelola layanan transportasi online sendiri, ini bukan hanya soal digitalisasi, tapi juga soal memperkuat ekonomi lokal dan membuka peluang usaha baru bagi anggota,” katanya.
Dengan jumlah koperasi di Bali yang mencapai lebih dari 4.000 unit serta 716 desa dan kelurahan, penguatan digitalisasi koperasi dan pengembangan layanan ojol berbasis koperasi dinilai dapat menjadi strategi untuk mengangkat koperasi naik kelas, sekaligus memastikan perputaran ekonomi tetap berada di tingkat akar rumput.
Komentar