Pemkab Buka Posko Siaga Bencana
“Semua sudah siap, termasuk anggaran. Kalau anggaranya sih, rasanya masih cukup, di Rp 5 miliar di BTT”
SINGARAJA, NusaBali
Hujan deras yang mengguyur wilayah Buleleng, Minggu (14/12) petang hingga malam, kembali memicu genangan air di sejumlah kawasan Kota Singaraja. Tinggi genangan air yang meluap ke jalan raya setinggi betis orang dewasa. Dalam menghadapi potensi bencana cuaca ekstrem ini Pemkab akan membuka posko siaga bencana.
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng memetakan genangan terparah terjadi di tiga titik, yakni di depan SPBU hingga SDN 1 Baktiseraga wilayah Desa Baktiseraga, Lingkungan Satelit Kelurahan Banyuasri, serta Jalan Ayani Barat tepatnya di pertigaan Desa Pemaron.
Kepala Dinas PUTR Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, dikonfirmasi Senin (15/12) kemarin mengungkapkan, genangan air tersebut masih disebabkan persoalan klasik, yakni tumpukan sampah kiriman dari hulu dan penyempitan dimensi saluran air. Saat hujan dengan intensitas tinggi turun bersamaan, debit air meningkat drastis dan saluran tidak mampu menampung aliran.
“Memang ada banyak sampah. Kemarin sampai dua truk kami angkut dari gorong-gorong. Isinya potongan pohon pisang, kayu gelondongan, ranting bambu, dan sampah plastik. Itu yang menyumbat saluran,” jelas Adiptha.
Ia menambahkan, saat hujan deras akibat pengaruh siklon tropis 91S dan 93S, sebagian titik genangan sebenarnya sudah berkurang. Namun air kembali naik di kawasan Satelit Baktiseraga dan pertigaan Pemaron. “Yang di Satelit langsung kami tangani malam itu. Sementara di Berut (Pemaron), karena sumbatan di gorong-gorong cukup parah, baru bisa ditangani staf pagi harinya,” ujar pejabat asal Kelurahan Banyuasri, Kecamatan/Kabupaten Buleleng ini.
Menurut Adiptha, sebagian besar sampah tersebut merupakan kiriman dari wilayah hulu. Di wilayah kota, pembersihan saluran rutin dilakukan bersama masyarakat. Namun saat hujan besar, volume air tinggi membawa sampah dari daerah atas dan akhirnya menumpuk di pintu air maupun gorong-gorong.
Di kawasan Baktiseraga, genangan terjadi akibat pintu air meluap setelah tertahan tumpukan sampah. Air kemudian mengalir ke kawasan bawah hingga mendekati SPBU Baktiseraga. Sementara di Lingkungan Satelit, persoalan diperparah oleh penyempitan saluran dari kali yang bermuara ke got dengan dimensi lebih kecil.
Ke depan, Dinas PUTR Buleleng menyiapkan langkah teknis untuk mengurangi potensi genangan. Di antaranya dengan normalisasi dan pelebaran saluran di kawasan Satelit, serta penambahan sodetan untuk mengalihkan beban air ke sungai, seperti Tukad Banyumala di wilayah atas. “Skema ini sudah kami lakukan di beberapa titik dan cukup mengurangi beban di hilir,” kata Adiptha.
Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan kesiapan Pemkab Buleleng dalam menghadapi potensi bencana cuaca ekstrem. Pemkab akan membuka posko siaga bencana mulai Senin (15/12) yang berlokasi di Lingkungan Sangket, Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng dan akan beroperasi hingga Januari mendatang.
“Kesiapan kita bukan hanya saat kejadian. Setiap Jumat rutin dilakukan pembersihan sungai, kali, dan saluran air, sekaligus edukasi masyarakat dan gotong royong di kampung-kampung. Ada juga selang-seling penanaman pohon,” ujar Sutjidra.
Posko siaga tersebut akan melibatkan BPBD, Damkar, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, PUTR, serta unsur TNI dan Polri. Alat berat juga disiagakan oleh Dinas PUTR untuk penanganan cepat di lapangan. “Semua sudah siap, termasuk anggaran. Kalau anggaranya sih, rasanya masih cukup, di Rp 5 miliar di BTT. Masih ada dana, tapi astungkara mudah-mudahan kita berdoa supaya tidak ada bencana di Buleleng.,” ucap Sutjidra.
Terkait genangan langganan di Jalan Ayani Barat, pertigaan Pemaron, Sutjidra mengakui penanganannya memerlukan koordinasi lintas kewenangan karena bersinggungan dengan jalan nasional. Pemkab Buleleng akan mengusulkan penanganan lebih lanjut ke Balai Wilayah Sungai (BWS) dan instansi terkait di tingkat pusat dan provinsi.
Pemkab pun mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin menjaga kebersihan lingkungan, terutama tidak membuang sampah ke saluran air. Upaya teknis pemerintah, menurut Sutjidra, harus dibarengi kesadaran bersama agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan.7 k23
1
Komentar