nusabali

Jayaprana Layonsari Bawa Suara Perempuam

Festival Film Kemanusiaan 2025

  • www.nusabali.com-jayaprana-layonsari-bawa-suara-perempuam

FFK 2025 menyusun program yang terdiri dari film-film dengan kedekatan tema pada isu perempuan, yang terdiri dari tiga film panjang dan lima judul film pendek yang terangkum dalam satu program.

DENPASAR, NusaBali
Festival Film Kemanusiaan (FFK) hadir untuk tahun keempat, 12-13 Desember 2025 di MASH Denpasar Art House Cinema. Gelaran Yayasan Kino Media tahun ini menyapa publik Bali dengan dengan penekanan pada isu kesetaraan gender. Salah satu film yang ditayangkan adalah Jayaprana Layonsari (2024) karya sutradara Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma. 

Jayaprana Layonsari dibahas di FFK 2025 dengan menyoroti bagaimana tubuh dan pilihan perempuan dikorbankan demi hasrat dan stabilitas kekuasaan, ketika tradisi dan otoritas meniadakan suara perempuan dalam menentukan nasibnya sendiri.

“Film dapat menghibur dan sekaligus membawa pesan dan peluang untuk berdiskusi. Film-film yang dipilih untuk FFK tahun 2025 menyuarakan suara perempuan dan anak perempuan,” ungkap Ketua Yayasan Kino Media Made Suarbawa, Senin (15/12).

FFK 2025 menyusun program yang terdiri dari film-film dengan kedekatan tema pada isu perempuan, yang terdiri dari tiga film panjang dan lima judul film pendek yang terangkum dalam satu program. Film yang dihadirkan hasil kerja sama dengan Movies that Matter adalah sebuah film dokumenter berjudul Mediha (2023, sutradara Hasan Oswald) tentang kekerasan terhadap anak perempuan di Irak Utara. 

Dua buah film fiksi panjang Indonesia yang diputar tahun ini adalah Seribu Payung Hitam (2025), sutradara Erwin Arnada dan Jayaprana Layonsari (2024), sutradara Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma. 

Seribu Payung Hitam mengisahkan Sawitri, aktivis lingkungan yang gigih dalam berjuang melawan privatisasi air di desanya. Dalam perjuangannya, ia terlibat dalam aksi yang menarik perhatian publik dan media internasional.

Untuk program film pendek, menghadirkan karya film dari UNiTE Short Film Fellowship 2025 yang baru saja diputar untuk publik pada 5-7 Desember 2025 lalu di Jakarta. UN Women, UNFPA, Siklus Indonesia, dan Minikino, dengan dukungan Global Affairs Canada serta bekerja sama dengan ILO, UNDP, UNESCO, UNIDO, UN Volunteers, dan WHO, meluncurkan UNiTE Short Film Fellowship pada Oktober 2025. 

Program ini mengundang para pembuat film untuk mengirimkan konsep cerita dan memproduksi film berdurasi lima hingga lima belas menit dengan tema kekerasan terhadap perempuan dan/atau anak perempuan.

Lima pembuat film terpilih telah mengikuti lokakarya penguatan kapasitas untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai isu kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan sebelum memulai produksi pada November. Karya mereka pertama kali diluncurkan pada 5 Desember 2025 untuk menandai kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Kelima film pendek terdiri dari Fotome (2025) karya sutradara Vera Isnaini, Malam Sepanjang Nafas (2025) karya sutradara Irwan Sebleku, DiRIAS Perias (2025) karya sutradara Eman Memay Harundja, Potret (2025) karya sutradara Reni Apriliana, dan Busa-busa di Piring (2025) karya sutradara Fala Pratika. 

Film-film tersebut menangkap kisah solidaritas dan pemberdayaan, serta menjadi suara perubahan dalam menghadapi tantangan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, termasuk dengan memicu diskusi mengenai norma sosial yang selama ini menormalkan kekerasan berbasis gender.

Direktur FFK 2025 Edo Wulia mengatakan kehadiran FFK di bulan Desember setiap tahun sejak tahun 2022, sekaligus ikut memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang jatuh pada 10 Desember.

“Kami mengundang masyarakat dari segala latar belakang untuk membicarakan kembali perspektif kemanusiaan kita dari film pilihan FFK tahun ini karena nilai-nilai kemanusiaan selalu dinamis,” ujar Edo. 7 adi 

Komentar