nusabali

Kurangi Risiko Bencana, Mitigasi Bisa Dimulai dari Menanam Pohon

  • www.nusabali.com-kurangi-risiko-bencana-mitigasi-bisa-dimulai-dari-menanam-pohon

BANGLI, NusaBali.com – Fenomena bencana alam yang terjadi belakangan ini, baik di Bali maupun di berbagai daerah di Indonesia, menjadi pengingat pentingnya upaya pengurangan risiko bencana sejak dini. Salah satu langkah nyata yang bisa dilakukan masyarakat adalah menanam pohon, yang berperan mencegah banjir, tanah longsor, hingga pemanasan global.

Anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bangli sekaligus Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Made Sarjana, Senin (15/12/2025), mengatakan wilayah Kintamani, Bangli, memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Pada musim hujan, kawasan ini rawan tanah longsor akibat banyaknya lahan kritis, sementara pada musim kemarau potensi kebakaran hutan meningkat.

“Bencana harus dimitigasi sejak awal. Bagaimana upaya-upaya mitigasi itu benar-benar dilaksanakan dengan baik sehingga risikonya bisa ditekan,” ujarnya.

Sarjana menjelaskan, kondisi geografis yang berbeda memerlukan jenis tanaman yang berbeda pula. Di wilayah dataran tinggi seperti Kintamani, jenis pohon yang cocok ditanam antara lain cemara dan ampupu. Sementara di daerah yang lebih rendah, masyarakat bisa menanam bambu maupun berbagai jenis pohon buah.

Pada tahun 2025 ini, kegiatan penanaman pohon FPRB difokuskan di wilayah Bangli, khususnya Kintamani. Sementara pada tahun 2026 mendatang, FPRB berencana memperluas kegiatan penghijauan ke wilayah hulu Bendungan Sidan di Kabupaten Badung yang juga memiliki banyak lahan kritis dan perlu diantisipasi dari potensi bencana.

Kegiatan mitigasi bencana yang dilakukan FPRB tidak hanya berupa penghijauan, tetapi juga edukasi kepada masyarakat dan satuan pendidikan. Sepanjang Desember ini, terdapat lima lokasi penanaman pohon yang menjadi sasaran kegiatan FPRB. 

Pada Sabtu (13/12/2025), penanaman dilakukan di Pura Munggu, Desa Songan, Kintamani; Pura Pucak Sari, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku; serta Pura Jati, Desa Sala, Kecamatan Susut, Bangli, yang berada di perbatasan Kabupaten Bangli dan Gianyar.

Penanaman pohon selanjutnya dijadwalkan pada Sabtu (20/12/2025) di lereng utara Gunung Batur. Pada kegiatan tersebut, ditargetkan penanaman minimal 500 pohon. Namun, Sarjana mengakui ketersediaan bibit pohon cemara masih terbatas sehingga FPRB akan berkolaborasi dengan masyarakat setempat untuk mengembangkan pembibitan.

Selain penghijauan, FPRB juga melakukan mitigasi bencana melalui edukasi lewat program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program ini telah dilaksanakan di SMPN 1 Bangli, SMPN 3 Bangli, serta tiga sekolah dasar di Kota Bangli.

Menurut Sarjana, kesadaran akan risiko bencana mulai tumbuh di kalangan pelajar. Hal itu terlihat dari pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan siswa, termasuk mengenai pembangunan akomodasi pariwisata di kawasan rawan bencana seperti Kintamani.

“Pertanyaan tersebut bahkan datang dari siswa yang berasal dari Trunyan. Ini menunjukkan adanya kesadaran sejak dini tentang potensi bencana di lingkungan mereka,” ungkapnya.

Melalui program SPAB, FPRB berharap dapat menggugah kesadaran masyarakat mengenai penyebab bencana dan cara mitigasinya. Edukasi ini dinilai penting, terutama saat musim hujan, ketika air hujan lebih banyak mengalir di permukaan tanah dan jalan, serta minim terserap ke dalam tanah. *may

Komentar