nusabali

Tradisi Mesolah Jero Gede Barong Kedengkleng Saat Nangluk Merana di Desa Adat Dukuh, Selemadeg Barat, Tabanan

Mesolah di Sasih Kanem, Mohon Dihindarkan dari Kebrebehan

  • www.nusabali.com-tradisi-mesolah-jero-gede-barong-kedengkleng-saat-nangluk-merana-di-desa-adat-dukuh-selemadeg-barat-tabanan

Prosesi nyolahang atau nyomya dimulai dengan nedunang Jero Gede Barong Kedengkleng dari Pura Dalem Desa Adat Dukuh, kemudian lanjut keliling desa

TABANAN, NusaBali
Krama Desa Adat Dukuh, Desa Tiying Gading, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan melaksanakan upacara Nangluk Merana Sasih kanem bertepatan dengan Kajeng Kliwon, Redite Kliwon Pujut, Minggu (14/12). Uniknya tradisi yang digelar secara turun temurun ini nyolahang pelawatan ratu sesuhunan mepesengan Jero Gede Barong Kedengkleng. 

Rupa dari sesuhunan yang disungsung mirip dengan Barong Landung, namun Jero Gede Barong Kedengkleng seorang diri lengkap membawa senjata sabit panjang atau caluk. Selain diperuntukkan untuk upacara Dewa Yadnya, Jero Gede Barong Kedengkleng juga difungsikan saat upacara Pitra Yadnya tingkatan utama. Biasanya Jero Gede Barong Kedengkleng mesolah saat napak lawang (dimulainya upacara). 

Bendesa Adat Dukuh, I Nengah Suarsa mengatakan Jero Gede Barong Kedengkleng mesolah hanya setiap 5 tahun sekali bertepatan dengan sasih kanem, serta saat upacara Ngerupuk Sasih Kesanga serangkaian Hari Raya Nyepi. "Sesuai tradisi Ida mesolah keliling Desa Tiying Gading bertujuan untuk menetralisir segala hal negatif dengan harapan kerahayuan jagat," ujar Suarsa ketika dikonfirmasi. 

Dia menyebutkan Jero Gede Barong Kedengkleng ini adalah warisan leluhur. Cikal bakalnya berawal dari desa adat setempat kebrebehan (banyak bencana) dan setelah nunasang ke Pandita (orang pintar) disarankan untuk membuat tapakan (barong) Jero Gede Barong Kedengkleng kemudian harus mececingak (melihat-lihat) keliling Desa Tiying Gading. "Sejak saat itu hingga sekarang dan terus akan berlanjut, tradisi ini wajib dilaksanakan," imbuhnya. 

Suarsa menambahkan, tradisi ini sempat tidak dijalankan krama saat sasih kanem terdahulu. Ternyata desanya ketiban bencana. Sehari sampai ada 3 orang meninggal. Setelah nunasang ternyata pemicunya Jero Gede Barong Kedengkleng absen disolahkan. "Sejak saat itu kami krama yang terdiri dari 56 KK (kepala keluarga) tidak berani tidak melaksanakan takut akan kejadian serupa," tegasnya.  Menurutnya, saat nyolahang sesuhunan dilakukan oleh krama lanang diiringi gambelan gong perpaduan gong dan kukul. 

Prosesi nyolahan atau nyomya dimulai dengan nedunang Jero Gede dari Pura Dalem Desa Adat Dukuh. Kemudian keliling desa diawali dari Banjar Ampadan, Banjar Tiying Gadung, lalu ke Banjar Anyar, kemudian ke Banjar Munduk Bayur dan terakhir di Banjar Dukuh. Selama keliling itu seluruh krama di luar krama Desa Adat Dukuh, dengan sukarela ke luar rumah menghaturkan upakara kemudian langsung nunas tirta. Tirtanya ini dipercikkan ke seluruh keluarga hingga ke masing-masing rumah dengan tujuan nunas kerahayuan. "Pokoknya ketika Ida mesolah, krama di luaran desa adat kami secara sukarela ngaturang perani (upakara) tanpa kita suruh," beber Bendesa Suarsa. 

Sementara terkait dengan difungsikan saat upacara Pitra Yadnya, diakui biasanya mesolah saat krama menggelar upacara Pitra Yadnya tingkatan utama. "Filosofinya  digunakan saat Pitra Yadnya sesuai dengan senjata yang dibawa Caluk itu Jero Gede Barong Kedengkleng dipercaya sebagai pembuka jalan bagi sang atma untuk menuju alam keabadian tanpa hambatan," terangnya. Dia berharap dengan adanya Ida Sesuhunan Barong Kedengkleng Desa Adat Dukuh dan seluruh desa yang ada di Bali tetap rahayu. Terlebih lagi saat ini bencana alam sedang menimpa di sejumlah wilayah. 7 des

Komentar