Keturunan Dalem Sukawati Gelar Karya di Pura Kawitan
Puncak Karya pada Buda Kliwon Pahang
Sejumlah landasan filosofis yadnya dan disusul dengan peristiwa kebencanaan itu menguatkan semangat para Panglingsir KDS untuk mapakingkin (menggagas) upacara dalam tingkatan utama atau lebih besar.
GIANYAR, NusaBali
Sameton ageng (keluarga besar) Keturunan Dalem Sukawati (KDS) se-Provinsi Bali akan melaksanakan Karya Mupuk Padagingan, Tawur Padanan, Pangenteg Linggih, Mapedudusan Agung di Pura Kawitan Dalem Sukawati, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Puncak karya pada Buda Kliwon Pahang, 24 Desember 2025.
Pura Kawitan Dalem Sukawati terletak berdampingan dengan Balai Banjar Mudita, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar – Bali. Di pura ini pernah diselenggarakan beberapa kali upacara berskala besar atau tingkat utama. Upacara dimaksud terakhir berupa ‘’Karya Mamungkah lan Ngenteg Linggih’’ pada 24 Desember – 19 Februari 2000, puncaknya pada 9 Februari 2000.
Manggala Utama Karya (Ketua Umum) Panitia Karya Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace, dari Puri Agung Ubud, mengatakan dengan mengacu konsep desa, kala, dan patra, serta landasan Catur Dresta (sastra, loka, kuna, dresta) para panglingsir dan manggala Pura Kawitan Dalem Sukawati menyadari bahwa karya sebelumnya telah berlangsung relatif lama. Dalam tradisi puja Hindu di Bali, pelaksanaan karya sedapat mungkin dilaksanakan antara 20 tahun - 30 tahun sejak karya sebelumnya. Berdasarkan keyakinan yang berkembang di Bali, pada fase – fase waktu tersebut sebuah parhyangan penting untuk disucikan kembali dengan upacara yang tingkatannya minimal sama atau lebih besar dari karya yang digelar sebelumnya. Pada fase waktu seperti itu diyakini pula sebagai sebuah rentang panjang bahwa parhyangan mulai mengalami degradasi taksu atau pelunturan aura kesucian. Tatkala kesucian menyusut maka palinggih – palinggih di parhyangan dimaksud berangsur-angsur pudar karena kalinggihin dening babhutan (dihinggapi makhluk demonik/gaib) yang tentu beraura leteh atau kotor secara niskala. Oleh karena itu, melalui upacara ini kesucian parhyangan diupayakan kembali hingga terwujud keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan atau sekala-niskala. (wawancara Panglingsir Puri Agung Ubud, Tjokorda Gde Putra Sukawati, 18/11/2025).

Persembahyangan untuk mohon kelancaran paruman ageng sameton KDS se-Bali pada Minggu/Redite (23/11) lalu, di Pura Kawitan Dalem Sukawati, Desa Sukawati, Gianyar. –IST
Seturut dengan pemahaman itu, upacara ini menjadi harapan penting bagi para manggala KDS serta seluruh sameton ageng KDS se-Bali. Karena sebelumnya di pura kawitan ini sempat ada perbaikan pratima, rehabilitasi dan pembangunan untuk beberapa palinggih dan wangunan pelangkap pura. Sebagaimana diketahui, di Kabupaten Gianyar, termasuk di Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, pada Senin, 2 Januari 2023, sempat juga terdampak bencana alam angin ngalinus (kencang berputar-putar) secara tiba-tiba. Dampaknya, sejumlah bangunan dan palinggih milik warga sempat rusak. Bencana alam ini juga mengakibatkaan Bale Pasandekan dan Bale Ratu Ngerurah Agung di Pura Kawitan Dalem Sukawati, tumbang. Hampir bersamaan antara satu dengan yang lain. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 15.40 Wita. Palinggih Pangapit di Pura Kawitan ini juga roboh tertiup angin kencang. Dampak bencana ini sempat ditinjau langsung oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Arta Ardhana Sukawati (Cok Ace). ‘’Wangunan dan palinggih ini telah direhab bahkan diganti dengan bangunan model baru. Penyucian pun telah dilakukan. Hanya saja upacaranya baru sebatas tingkatan nistaning kanista atau penyucian alit, antara lain dengan Banten Guru Piduka,’’ jelas Cok Ace, beberapa waktu lalu.
Sejumlah landasan filosofis yadnya dan disusul dengan peristiwa kebencanaan itu menguatkan semangat para Panglingsir KDS untuk mapakingkin (menggagas) upacara dalam tingkatan utama atau lebih besar. Tujuan praktisnya, yakni mengembalikan dan menegakkan kesucian palinggih, wawangunan dan area pura. Dampak bencana tersebut tentu tidak menjadi alasan pokok hingga Panglingsir KDS dan Manggala Pura mengagas karya ini.
Panglingsir KDS se-Bali Tjokorda Gde Putra Sukawati menekankan bahwa menggelar upacara, terlebih utamaning utama dan tingkatan lainnya, tentu tidak tergantung karena ada - tidaknya dampak bencana pada parhyangan. Upacara ini digagas, dirancang hingga dilaksanakan dengan mengacu konsep Catur Dresta di Bali, yakni tempat/desa, siklus waktu/kala, sastra/ajaran suci Weda, dan patra/situasi dan kondisi yang ada. Dalam konteks patra, misalnya pelaksanaan karya ini mempertimbangkan kondisi dan situasi kemajuan zaman. Oleh karenanya, fase pelaksanaan upacara sejak karya sebelumnya di pura ini dapat dilaksanakan lebih cepat. ‘’Kalau dulu, ada banyak karya di pura atau pamerajan di Bali dilaksanakan setelah 50 tahun lebih sejak karya sebelumnya. Sekarang tentu karya dilaksanakan antara 25 sampai 30 tahun sesudah karya sebelumnya,’’ ujarnya. Untuk diketahui, di Pura Kawitan Dalem Sukawati pernah diselenggarakan karya tingkat utama, yakni ‘Karya Mamungkah lan Ngenteg Linggih’, puncaknya pada 9 Februari 2000.

Salah satu palinggih di Pura Kawitan Dalem Sukawati. –IST
Tjokorda Putra menyebutkan, keputusan untuk pelaksanaan karya seperti ini sudah terungkap dalam beberapa kali paruman (rapat) sameton ageng KDS se-Bali pada Redite Wage Kuningan atau empat hari setelah Hari Raya Galungan, Buda Kliwon Dungulan. Tradisi paruman ageng tersebut dilaksanakan hampir tetap di Puri Agung Ubud. Paruman dihadiri oleh sekitar 250 orang – 300 orang dari unsur ketua kelompok KDS berikut para ketua yowana (pemuda – pemudi) dari 43 kelompok KDS se-Bali.
Biasanya paruman KDS dirangkai dengan acara simakrama (silaturahmi) ini untuk membahas beberapa hal penting. Antara lain, berkaitan dengan upaya meningkatkan persatuan, kesatuan, dan keharmonisan pasametonan KDS se – Bali. Paruman juga menjadi wahana penegasan dalam menjaga hubungan harmonis para sameton KDS dengan warga luar atau komunitas masyarakat lainnya (pawongan). Dalam paruman kerap tercetus bidang – bidang yang menyangkut revitalisasi parhyangan. Antara Iain, tentang pembangunan, perbaikan atau rehab palinggih atau wangunan pura, dan pamerajan masing-masing. Pura dan merajan dimaksud secara khusus adalah emponan (tanggungjawab utama) dan sungsungan (penyertaan berupacara) para sameton KDS, yakni Pura Padharman Dalem Sukawati di kawasan Pura Besakih, Karangasem. Ada juga Pura Kawitan Dalem Sukawati di Desa Sukawati, dan pura – pura lain yang masih terhubung baik secara sosial dan spiritual serta historis dengan KDS sejak zaman kerajaan sampai kekinian baik di Bali dan luar Bali. Seperti Pura Penataran Agung Jambe di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Pura Dalem Karna dan Pura Khayangan Jagat Payogan Agung di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, dan pura lainnya.
Paruman ageng KDS juga membahas tentang upaya peningkatan kesejahteraan sameton KDS se-Bali melalui kegiatan koperasi. Paruman juga mencetuskan rencana ayah-ayahan lain termasuk piodalan atau karya di setiap kelompok KDS se-Bali. Penggagasan dan rencana karya di Pura Kawitan Dalem Sukawati tahun 2025 tercetus dan langsung disosialisasikan oleh para Panglingsir KDS se-Bali, Tjokorda Gde Putra Sukawati (Puri Agung Ubud) dalam paruman ageng KDS sejak setahun terakhir.
Khusus untuk pematangan pelaksanaan karya kali ini, paruman ageng Sameton KDS se-Bali diadakan pada Minggu/Redite, 23 Nov 2025 di Pura Kawitan Dalem Sukawati, Desa Sukawati. Paruman ini dihadiri Prawartaka Karya, di antaranya Pangrajeg Karya: Tjokorda Gde Putra Nindia, SH.,MM (Puri Agung Peliatan), Drs Tjokorda Gde Putra Sukawati (Puri Agung Ubud), Tjokorda Gde Ngurah Putra, BBA (Puri Agung Sukawati). Paritula: Dr. Tjokorda Raka Kerthyasa, S.Sos., M.Si (Puri Agung Ubud). Tjokorda Bagus Budiasa (Puri Singapadu), dr. Tjokorda Gde Arjana (Puri Sayan). Manggala Utama: Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si (Puri Agung Ubud). Prof. Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati, SE.,MM (Puri Agung Ubud). Tjokorda Gde Indrayana (Puri Agung Ubud). Cokorda Gde Darma Putra (Puri Agung Peliatan), Pengurus Ageng Pangempon Pura Khayangan Jagat Pura Penataran Agung Sukawati, dan Dewa Gde Raka Sukawati. Panyarikan: Cokorda Putra Wisnu Wardana (Puri Agung Peliatan), Tjokorda Ngurah (Kitab), dan Tjokorda Putra Wijaya Kesuma (Puri Singapadu), serta koordinator dan anggota semua bhaga (bidang kepanitiaan).
Menyusul kepastian pelaksanaan karya tahun 2025 di Pura Kawitan Dalem Sukawati, beberapa sameton KDS selaku penggagas dan perencana upacara telah tangkil (menemui) sulinggih pamucuk Ida Pedanda Gde Putra Tembau di Griya Gde, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Tujuannya, nunas baos (mohon petunjuk) terkait persiapan akan nangun yadnya (menggelar upacara). Ida Pedanda juga dimohonkan untuk mapaica baos (memberikan arahan) terkait tingkatan upacara, subha dewasa (hari baik) memulai eedan (rentetan kegiatan), berikut jenis wangunan yadnya, dan jenis-jenis upakara yang dipersembahkan di setiap palinggih, wangunan, dan uparengga yadnya (kelengkapan upacara) lainnya. Sekaligus mendudukkan Ida Pedanda sebagai yajamana karya (pelaksana utama dan penanggungjawab upacara).
Karya di Pura Kawitan Dalem Sukawati, puncaknya pada Buda Kliwon Pahang, 24 Desember 2025, sudah dimulai dengan kegiatan suci sejak Senin/Soma Umanis Tolu, 6 Oktober 2025, yakni ‘Atur Piuning ring Pura Kawitan’.
Menurut, babad Dalem Sukawati, keturunan Ida I Dewa Agung Mayun dan Keturunan Ida I Dewa Agung Jambe berkomitmen menjaga persatuan menjadi keluarga besar Keturunan Dalem Sukawati (KDS) yang tinggal terpencar. Sampai kini, KDS tercatat dalam sejumlah kelompok di Provinsi Bali, terbanyak ada di Kabupaten Gianyar. Kelompok KDS di Kabupaten Gianyar ada di 1 Sukawati, 2. Ubud, 3. Peliatan, 4. Agung Peliatan, 5. Padangtegal, 6. Payangan, 7. Tegalalang, 8. Pejengaji, 9. Petulu, 10. Yeh Tengah, 11. Keliki, 12. Kelusa, 13. Gentong, 14. Sayan, 15. Negari, 16. Mas, 17. Batubulan, 18. Singapadu, 19. Guwang, 20. Batuyang, 21. Lembeng 22. Singakerta, 23. Katiklantang, 24. Batuan, 25. Negara, 26. Lodtunduh, 27. Sempara, 28. Patemon, 29. Blahbatuh, 30. Pejeng, 31. Madangan, 32. Petak. Di Kabupaten Bangli, 33. Kintamani, 34. Padunungan, 35. Undisan, 36. Demulih. Di Kabupaten Klungkung: 37. Timuhun, 38. Dalem Purwa, 39. Bungbungan, 40. Kusamba. Di Kabupaten Karangasem: 41. Antiga, 42. Gegelang, 43. Pesaban, 44. Penuktukan, 45. Padangbai, 46. Yeh Embang. Di Kabupaten Badung: 47. Pedungan, 48. Sibang Gede, 49. Petang, 50. Jegu, 51. Carangsari. Di Kabupaten Buleleng: 52. Bubunan, 53. Tigawasa, 54. Tamblang. Di Kabupaten Jembrana: 55. Negara, 56. Melaya, 57. Banyubiru, 58. Tuwed, 59. Baluk, 60. Penarungan, 61. Kedampal.7lsa
Komentar