Bujuk Rayu Transmigrasi
TAHUN 1963 Wayan Merta bersama istri dan tiga anak bertransmigrasi ke Lampung. Mereka berangkat dari Pelabuhan Padangbai.
Berhari-hari menunggu kapal tiba, mereka tidur dalam tenda di bawah pohon kelapa di tepi pantai. Keluarga dan kerabat silih berganti berkunjung.
Mereka ngobrol sampai larut malam, diterangi sinar remang lampu teplok. Percakapan menjadi sangat akrab, jauh lebih karib dari biasanya, seakan itu pertemuan terakhir. Mereka sadar pergi jauh nun ke Sumatera sana sebagai sebuah pilihan untuk memperoleh tanah garapan. Tak terbayang seperti apa nasib nanti akan menimpa.
Ternyata keberuntungan berpihak pada transmigran Bali itu. Berpuluh tahun kemudian mereka dielu-elukan sebagai pahlawan dalam mobilisai penduduk. Wayan Merta menjadi anggota DPRD setempat, mewakili kerabat sesama orang Bali. Ia disegani, omongan dan pemikirannya mendapat perhatian dan pujian. Dari sosok yang tidak diperhitungkan di Bali, ia menjadi orang berpengaruh di Lampung.
Pujian-pujian itu beranak pinak di kalangan transmigran itu. Jika dulu menyebut bertransmigrasi, itu pasti berarti pergi ke Lampung, menjadi orang Sumatera. Jika membahas kaum transmigran yang sukses, itu pasti transmigran Bali yang bermukim di Lampung.
Transmigrasi kemudian berarti perbaikan nasib, menyulap hidup yang kere menjadi sesuatu yang pantas dihargai oleh orang banyak. Jika para transmigran itu pulang kampung, mereka dipuji sebagai manusia yang berhasil. Kalau tidak sukses mana bisa mereka punya ongkos mudik?
Para pemudik itu tak perlu bertingkah, mereka kalem-kalem saja jika ngaturang bakti di Pura Besakih. Namun para tetangga mengagumi mereka. Para transmigran yang mudik itu sangat dihargai sebagai manusia yang berhasil mengubah nasib. Mulai banyak rekan sekampung berminat ikut bertransmigrasi
Pemerintah kemudian paham, bahwa keberhasilan itu bisa dijadikan alasan untuk membujuk rayu orang-orang Bali lain bertransmigrasi. Transmigran yang berhasil itu kemudian dipamerkan ke banyak kota dan desa untuk menyampaikan suka duka mereka di daerah baru. Pemerintah memperalat mereka, memamerkan transmigran Bali yang sangat patut ditiru.
Dan Pemerintah berhasil. Orang-orang Bali di Lampung selalu disanjung sebagai manusia paling ulet di Nusantara. Mereka diberi peluang oleh Pemerintah untuk berjuang gigih mencapai kegemilangan hidup. Kini mereka tak cuma petani, tapi pebisnis ulung, sudah punya bisnis angkutan umum, kebun kelapa sawit luas, dan bisa menyekolahkan anak-anak ke universitas bergengsi di Jakarta, Bandung atau Jogja.
Sejak itulah muncul istilah Bali Mini di Lampung. Orang-orang setempat sadar mereka tidak seberhasil para transmigran itu. Di tahun 1980-an transmigrasi sama artinya dengan mengubah nasib menjadi lebih baik. Maka Pemerintah makin gesit membujuk orang Bali bertransmigrasi, mengikuti jejak saudara mereka. Kita kemudian mengenal daerah transmigran baru di Sulawesi seperti Bolaang Mongondow. Tak pernah terpetik berita transmigran yang gagal.
Tapi tak semua memuji. Yang mengkritik juga banyak, transmigrasi di Lampung dinilai sebagai balinisasi. Seperti Juga ketika orang Jawa bertransmigrasi ke Papua, dituding sebagai jawanisasi. Namun Pemerintah tak peduli. Bujuk rayu agar orang Bali bertransmigrasi semakin gencar. Media pekabaran kala itu acap memberitakan keberhasilan para transmigran Bali. Mereka dipromosikan, agar yang lain tergiur pindah ke Sumatera atau Sulawesi.
Sekarang pun begitu. Bujuk rayu agar orang Bali bertransmigrasi sengit terdengar. Si pembujuk itu paham kehidupan yang sulit gampang membuat bujukan itu berhasil. Tak sedikit orang Bali yang menjual tanah untuk berbagai kebutuhan untuk sehari-hari dan buat berupacara. Ini kondisi yang cocok untuk membujuk mereka bertransmigrasi.
Banyak yang awas terhadap bujuk rayu ini. Tapi pasti tidak sedikit yang menimbang-nimbang untuk menyambut ajakan itu. Yang menolak sengit berkomentar, “Tidak benar kita bertransmigrasi, sementara orang luar berbondong-bondong ke sini.”
Bujuk rayu tidak selalu bermakna buruk. Tapi tak sepatutnya mengambil keputusan demi bujuk rayu itu. Harus bertimbang-timbang panjang sebelum menerima. Bukankah ada peribahasa, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna? Jangan sampai tergopoh-gopoh kita ke sana, orang lain berbondong-bondong ke sini. 7
Komentar