Pilah Sampah dari Sumber Belum Maksimal, Kamar Kost Bikin Masalah Sampah Makin Kompleks
DENPASAR, NusaBali.com - Upaya pemilahan sampah dari sumber di Kota Denpasar masih belum berjalan optimal. Kondisi ini diperparah dengan tingginya jumlah rumah pemondokan atau kamar kost yang membuat persoalan sampah kian kompleks.
Perbekel Desa Dauh Puri Kauh, I Gusti Made Suandhi, Sabtu (13/12/2025), mengatakan TPS3R Desa Dauh Puri Kauh hingga kini masih tetap beroperasi melayani masyarakat menjelang penutupan praktik open dumping di TPA Sarbagita Suwung yang dijadwalkan pada 23 Desember 2025.
Menurut Suandhi, volume sampah di wilayahnya tergolong besar seiring jumlah penduduk yang mencapai sekitar 17.000 jiwa. “Kalau satu orang menghasilkan rata-rata 0,9 kilogram sampah per hari, belum termasuk sampah pasar, rumah makan, dan usaha lainnya, bisa dibayangkan berapa ton sampah yang harus ditangani setiap hari,” ujarnya.
Ia mengakui kesadaran masyarakat dalam mengelola dan memilah sampah dari sumber masih perlu terus diedukasi. Selain itu, ketidakdisiplinan sebagian warga dan petugas swakelola terhadap jadwal pengangkutan sampah ke TPS3R turut memengaruhi proses penanganan di tingkat desa.
Persoalan semakin kompleks karena di Desa Dauh Puri Kauh terdapat lebih dari 3.500 kamar kost dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi. “Ini tentu menambah tantangan dalam pengelolaan sampah, ditambah keterbatasan tenaga dan armada angkut,” kata Suandhi.
Ia menambahkan, kendala terbesar tetap bermuara pada persoalan di TPA Sarbagita Suwung. Meski demikian, pihak desa tetap berupaya memberikan pelayanan pengelolaan sampah kepada warga.
“Terus terang, menjelang penutupan TPA Suwung, kami masih belum memiliki gambaran solusi yang ideal. Edukasi pengelolaan sampah dari sumber membutuhkan waktu panjang, meskipun sudah kami lakukan sejak TPS3R Dauh Puri Kauh dibangun pada 2022,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sekar Tanjung Desa Sanur Kauh, I Putu Sila Dharma, menegaskan TPS3R Sekar Tanjung hingga kini masih beroperasi normal menjelang penutupan TPA Suwung.
“Kalau nantinya hanya residu murni yang boleh dibuang ke TPA Suwung, kami sebenarnya sudah bisa mengantisipasi pengelolaan sampah organik,” ujarnya.
Namun ia mengakui persoalan utama masih terletak pada tingginya persentase residu, yang mencapai 40–50 persen dari total sampah akibat pemilahan yang belum sempurna.
“Pemahaman residu di masyarakat masih sebatas sampah yang tidak bisa dimanfaatkan. Padahal karakter residu di Bali belum murni, masih bercampur organik dan unsur lain, sementara residu murni seharusnya hanya sekitar 10 persen,” tegasnya. *may
Komentar