Pelaku Pariwisata Optimistis Okupansi Hotel Meningkat
Memasuki Periode Peak Season Nataru
BHA memperkirakan okupansi hotel bisa tembus di atas 70 persen menjelang hari Natal hingga pergantian tahun.
MANGUPURA, NusaBali
Memasuki periode peak season Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), pelaku pariwisata di Bali optimistis terjadi peningkatan okupansi atau tingkat hunian hotel. Meski potensi cuaca ekstrem membayangi akhir tahun, kalangan industri meyakini okupansi dapat menembus di atas 70 persen.
Ketua Bali Hotel Association (BHA), Franklyn Kocek, mengatakan momen Nataru selalu menjadi periode paling sibuk bagi sektor perhotelan karena tingginya permintaan kamar yang datang hampir serentak. Untuk itu, sejak awal Desember berbagai persiapan sudah dilakukan hotel-hotel di Bali, mulai dari penataan internal, antisipasi cuaca, penguatan aspek safety dan security, hingga peningkatan kualitas pelayanan.
“Pada periode tersebut akan banyak permintaan yang berdatangan seiring meningkatnya trafik kunjungan wisata ke Bali. Semua persiapan sudah dilakukan, baik teknis maupun non teknis,” ujarnya, Jumat (12/12).
Menurut Kocek, kunci utama menghadapi musim libur Nataru adalah persiapan dan sinergi. Ia menilai, seluruh unsur yang terlibat dalam industri pariwisata baik itu di tingkat hotel maupun lembaga pendukung, harus bergerak dengan satu visi dan misi agar respons bisa dilakukan secepat mungkin ketika terjadi situasi tak terduga.
“Yang penting semua berkordinasi dan berkomunikasi dengan baik. Kalau ada sesuatu terjadi, penanganannya harus bisa langsung dijalankan,” tuturnya.
Ia pun tak menampik bahwa pada Desember merupakan musim hujan yang menuntut hotel untuk lebih sigap dalam beradaptasi. Peningkatan kunjungan wisata pun, lanjutnya, harus diimbangi dengan pelayanan yang tetap optimal termasuk memastikan kenyamanan tamu di tengah kemungkinan perubahan cuaca. Sementara, disinggung soal tingkat hunian, Kocek memperkirakan okupansi akan semakin naik bahkan melebih 70 persen menjelang hari Natal hingga pergantian tahun. Optimisme itu didukung dominasi wisatawan Australia dan domestik yang masih menjadikan Bali tujuan utama liburan.
“Kami tetap optimis walaupun cuaca tidak menentu. Bali adalah destinasi nomor satu dan tetap menjadi favorit,” ucap Kocek.
Ia menambahkan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hingga September 2026 memang menunjukkan adanya penurunan kunjungan domestik. Namun Kocek menilai minat berwisata ke Bali tidak surut. “Mereka tetap melirik Bali sebagai primadona,” tegasnya. 7 ol3
Komentar