nusabali

Warga Binaan Lapas Budidaya Lele dan Hortikultura

  • www.nusabali.com-warga-binaan-lapas-budidaya-lele-dan-hortikultura

TABANAN, NusaBali - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan, memanfaatkan lahan 16 are tepatnya di Banjar Pasekan, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan. Lahan dijadikan kebun produktif dan kolam ikan.

Di sinilah, warga binaan peserta asimilasi menghabiskan hari-hari mereka dengan menanam, memanen, beternak ikan, hingga membuat pie susu yang mereka beri nama unik, “Sangkar Emas”. Setiap pagi mereka keluar dari blok hunian, melangkah menuju kebun di bawah pengawalan petugas. Menjelang sore, tepat pukul 16.00 Wita, mereka kembali. Rutinitas sederhana, namun menjadi bekal penting untuk hidup setelah bebas nanti.
 
Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menyebut program ini sebagai asimilasi edukasi pembinaan yang tidak hanya fokus pada disiplin, tetapi juga keterampilan dan pemberdayaan ekonomi. “Kami ingin warga binaan siap mandiri ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
 
Dari sektor perikanan, geliatnya cukup menjanjikan. Kolam lele, mujair, dan nila dikelola layaknya tambak kecil. Dalam enam bulan terakhir, panen lele mencatat peningkatan signifikan.

Dua kali panen menghasilkan 100 kilogram pada gelombang pertama, dan melonjak menjadi 400 kilogram pada panen berikutnya. Seluruhnya ditopang bibit bantuan Dinas Perikanan.

Di sisi lain, kebun menghasilkan jagung manis dan jagung ketan dengan empat kali panen total 50 kilogram. Terong ungu ikut meramaikan, pernah panen perdana sebanyak 60 kilogram. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memberi rasa percaya diri bahwa tangan-tangan yang dulu salah arah ini, kini mampu menghasilkan pangan.
 
Selain hasil bumi, dapur asimilasi Lapas Tabanan melahirkan produk olahan yang mulai dikenal pie susu “Sangkar Emas”. Nama yang sekaligus menjadi metafora bahwa dari balik sangkar, tetap ada cahaya kreativitas.
 
Pie susu ini diproduksi rutin dan mulai dipasarkan di kegiatan internal pemerintah. Ada pula kacang bawang dan bahkan jasa cat motor dengan tarif terjangkau. Semua dikelola warga binaan, semua menjadi bagian dari roda pemberdayaan.
 
“Usaha ini berputar karena warga binaan terus kami berdayakan. Hasil jualan gorengan, jasa laundry, hingga cucian motor kami jadikan modal perikanan. Jadi siklusnya jelas, pemberdayaan menghidupi pemberdayaan,” kata Kalapas Prawira.
 
Meskipun produksi menunjukkan hasil positif, namun pemasaran masih menjadi tantangan terbesar. Lapas Tabanan berharap ada jejaring dengan kelompok petani, pelaku UMKM, hingga komunitas kreatif yang bersedia turun memberi pendampingan. Mulai dari teknik budidaya, pengolahan, hingga strategi pemasaran agar produk punya daya saing.

Beberapa mantan warga binaan yang mengikuti program ini terbukti sukses menjalankan usaha kecil setelah bebas. Jejak keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan berbasis produksi bukan sekadar aktivitas harian, melainkan langkah konkret menuju kemandirian ekonomi.
 
“Harapan kami, ada kelompok yang mau membimbing secara rutin. Itu penting agar kualitas panen stabil dan produk seperti pie susu bisa menembus pasar lebih luas,” ujar Prawira.
 
Dia menyebutkan, dari Kebun Lapas Tabanan, semua hal tumbuh perlahan, ikan, jagung, terong, pie susu, hingga rasa percaya diri warga binaan. "Dari balik jeruji, mereka belajar bahwa setiap benih selalu punya kesempatan menjadi sesuatu yang lebih besar," tegasnya.7des

Komentar