Pameran ‘Ngewiwit’ di Museum Puri Lukisan: 15 Perupa Muda Rawat Tradisi Seni Lukis Bali
GIANYAR, NusaBali.com – Komunitas Canggah Wah Grup menggelar pameran seni rupa bertajuk “Ngewiwit: Menabur Benih di Persemaian” di Museum Puri Lukisan, Ubud, Gianyar. Pameran dibuka pada Jumat (5/12/2025) pukul 16.00–21.00 WITA, menghadirkan 15 perupa muda yang tumbuh dari tradisi seni lukis Bali.
Pembukaan pameran ditandai dengan peresmian oleh Tjokorda Gde Putra Sukawati, Pengelingsir Puri Ubud. Turut hadir kurator I Made Susanta Dwitanaya., para seniman, serta komunitas Canggah Wah.
Pameran “Ngewiwit” mempertemukan perupa yang masing-masing menghadirkan pendekatan berbeda dalam merawat, membaca ulang, dan mengembangkan warisan visual Bali ke dalam konteks zaman kini.
Mereka adalah: I Wayan Agus Sudiarta Yadnya, I Putu Fendy Puja Haryanta, I Gede Arista Yudhistira, I Kadek Surendra (Apunk), I Wayan Marito Neptun Sanjaya, Ida Bagus Rekha Bayutha, I Kadek Wiradinata, I Putu Lingga Adi Wahyu, Jony Arta, Komang Ari Wirawan, I Putu Adi, Ngakan Nyoman Adi Parwata, Ni Luh Cempaka Anjani, Nyoman Gede Bendesa Putra, dan I Wayan Sastra Kesuma.
Ketua panitia, I Wayan Agus Sudiarta (25), asal Blahbatuh, Gianyar, mengatakan pameran ini lahir dari keinginan para perupa untuk menjaga keberlanjutan seni lukis tradisional Bali. Agus merupakan lulusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Mahadewa (IKIP PGRI) Denpasar dan kini mengajar di SMP Bali Public School Kesiman Kertalangu.
“Kegiatan ini awalnya kami rencanakan sejak di kampus dan di SMK seni rupa. Teman-teman yang sama-sama berlatar belakang pelukis sempat berdiskusi, lalu berkomitmen mengeksekusi pameran sebagai bentuk pelestarian seni lukis tradisional Bali,” ujar Agus.
Pameran sempat direncanakan dua tahun lalu, namun tertunda karena kondisi dan jarak antaranggota. “Ada yang tinggal di Tabanan, Tegallalang, Sukawati, sampai Ubud. Tetapi Astungkara, pameran ini akhirnya terwujud di akhir 2025,” katanya.
Agus menjelaskan bahwa semua karya yang dipamerkan masih berpijak pada pakem seni lukis tradisional Bali—mulai dari gaya Ubud, Batuan, Sukawati, hingga Kamasan.
“Tujuannya agar teknik manual dan pakem tradisi tetap hidup di tengah kemajuan zaman. Kami ingin masyarakat kembali melirik seni budaya Bali dan melihat bahwa lukisan tradisi masih punya taksu yang kuat,” tegasnya.
Ia juga menyebut pameran ini melibatkan lintas generasi—alumni kampus seni, pelajar SMK, mahasiswa ISI Denpasar, dan mahasiswa Universitas Mahadewa—yang semuanya berkecimpung dalam seni rupa.
Agus menilai perkembangan seni digital, seperti ilustrasi dan desain, merupakan hal positif. Namun ia menegaskan bahwa teknik manual tetap perlu dijaga.
“Digital itu mempermudah proses dan kebutuhan bekerja. Tapi kalau manual, kita bisa merasakan proses dari awal sampai akhir. Tampak tangan manusia itu terlihat. Itulah yang ingin kami angkat melalui pameran ini,” ujarnya.
Agus berharap pameran ini dapat menggairahkan kembali seni lukis tradisional Bali dan ikut berkontribusi pada pariwisata.
“Semoga lukisan tradisional tetap hidup dan tidak punah. Kami ingin kegiatan seperti ini menjadi bentuk kecintaan pada seni rupa. Untuk ke depan, mungkin pameran bisa digelar dua tahun sekali, agar tiap perupa punya cukup waktu berkarya dan mempersiapkan karya terbaik,” tutupnya.
Pemilihan Museum Puri Lukisan Ubud sebagai lokasi pameran juga bukan tanpa alasan. Agus pernah mengikuti training di tempat ini dan menilai museum tersebut sarat sejarah, dekat dengan komunitas seniman setempat, dan berada di jantung pariwisata Ubud—sehingga menjadi ruang strategis memperkenalkan kembali seni lukis tradisional Bali.*m03
Komentar