PHDI Denpasar Layani Ratusan Orang Menjadi Dharmika Selama 2025
DENPASAR, NusaBali.com – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar melayani ratusan orang menjalani sudhi wadhani untuk memeluk agama Hindu sepanjang tahun 2025.
Selama tahun ini, sejumlah orang dari beragam suku, ras, dan agama dari dalam dan luar negeri memutuskan menjadi seorang dharmika (pemeluk Hindu baru). Mereka menjalani upacara penyucian diri yakni sudhi wadhani sebelum disahkan mengikuti Sanatana Dharma.
Setidaknya, yang tercatat menjalani sudhi wadhani di PHDI Denpasar sepanjang tahun ini berjumlah 285 orang dengan motivasi menjadi dharmika yang beragam. Ada yang karena perkawinan, mawali (kembali) ke jalan dharma, dan karena kesadaran sendiri ingin mendalami ajaran Hindu.
Ketua Pengurus Harian PHDI Kota Denpasar I Made Arka menuturkan, masuk Hindu karena perkawinan masih mendominasi lantaran kesamaan agama jadi salah satu syarat perkawinan yang sah secara adat maupun negara. Meski begitu, perkawinan juga menjadi salah satu pintu masuk mendalami agama Hindu.
“Ada juga yang mawali lagi, misalnya dulu keluar karena kawin dengan beda agama. Setelah cerai, mungkin tidak cocok atau bagaimana sehingga memilih kembali menjadi Hindu,” tutur Arka ketika dihubungi NusaBali.com, Kamis (11/12/2025).
Di samping itu, tidak kalah banyak juga yang sejak awal menjadi dharmika karena tertarik mendalami agama Hindu. Para dharmika dari segmen ini, kata Arka, biasanya berkonsultasi lebih dulu sebelum mantap menjalani sudhi wadhani dan kebanyakan dari luar Bali, termasuk WNA.
“Mereka itu biasanya sudah dari lama tertarik mendalami Hindu, namun masih ada keraguan karena tidak direstui keluarga maupun perlu pencerahan terkait stigma agama Hindu dari luar yang katanya sulit, ribet. Kami beri penjelasan,” ujar Arka.
Lanjut Arka, segmen dharmika yang didasari kesadaran pribadi ini juga ada yang berasal dari perantau yang bekerja di Bali. Setelah sekian lama menetap dan beradaptasi serta kontak dengan tradisi Hindu di Pulau Dewata, mereka tertarik menjadi bagian dari tradisi tersebut dari dalam.
“Yang menarik itu ada WNA dari Australia masuk Hindu karena kesadaran pribadi kemudian mendalami dan kini menjadi balian. Banyak juga yang berhasil sembuh,” kata pria kelahiran Desa Dauh Puri Kauh, Denpasar ini.
Arka yang juga jebolan doktor UHN IGB Sugriwa Denpasar menilai Hindu bukanlah agama misioner sehingga pemeluk baru datang bukan karena ajakan atau bujukan. Pemeluk baru datang berlandaskan keikhlasan yang ditandai dengan kesadaran penuh menjalani ritual sudhi wadhani.
PHDI Denpasar juga memastikan para dharmika memiliki pengetahuan dasar mengenai teologi maupun tradisi Hindu. Caranya, setiap individu yang telah menjalani sudhi wadhani dibekali buku saku yang berisi pedoman melaksanakan Tri Sandhya, persembahyangan, dan lainnya.
“Kami menyambut baik tren positif ini seperti yang dikatakan Sabdapalon Naya Genggong. Di sisi lain, hal ini juga menjadi motivasi bagi kami selaku majelis agama Hindu untuk selalu memberikan pelayanan terbaik,” tandas Arka. *rat
Setidaknya, yang tercatat menjalani sudhi wadhani di PHDI Denpasar sepanjang tahun ini berjumlah 285 orang dengan motivasi menjadi dharmika yang beragam. Ada yang karena perkawinan, mawali (kembali) ke jalan dharma, dan karena kesadaran sendiri ingin mendalami ajaran Hindu.
Ketua Pengurus Harian PHDI Kota Denpasar I Made Arka menuturkan, masuk Hindu karena perkawinan masih mendominasi lantaran kesamaan agama jadi salah satu syarat perkawinan yang sah secara adat maupun negara. Meski begitu, perkawinan juga menjadi salah satu pintu masuk mendalami agama Hindu.
“Ada juga yang mawali lagi, misalnya dulu keluar karena kawin dengan beda agama. Setelah cerai, mungkin tidak cocok atau bagaimana sehingga memilih kembali menjadi Hindu,” tutur Arka ketika dihubungi NusaBali.com, Kamis (11/12/2025).
Di samping itu, tidak kalah banyak juga yang sejak awal menjadi dharmika karena tertarik mendalami agama Hindu. Para dharmika dari segmen ini, kata Arka, biasanya berkonsultasi lebih dulu sebelum mantap menjalani sudhi wadhani dan kebanyakan dari luar Bali, termasuk WNA.
“Mereka itu biasanya sudah dari lama tertarik mendalami Hindu, namun masih ada keraguan karena tidak direstui keluarga maupun perlu pencerahan terkait stigma agama Hindu dari luar yang katanya sulit, ribet. Kami beri penjelasan,” ujar Arka.
Lanjut Arka, segmen dharmika yang didasari kesadaran pribadi ini juga ada yang berasal dari perantau yang bekerja di Bali. Setelah sekian lama menetap dan beradaptasi serta kontak dengan tradisi Hindu di Pulau Dewata, mereka tertarik menjadi bagian dari tradisi tersebut dari dalam.
“Yang menarik itu ada WNA dari Australia masuk Hindu karena kesadaran pribadi kemudian mendalami dan kini menjadi balian. Banyak juga yang berhasil sembuh,” kata pria kelahiran Desa Dauh Puri Kauh, Denpasar ini.
Arka yang juga jebolan doktor UHN IGB Sugriwa Denpasar menilai Hindu bukanlah agama misioner sehingga pemeluk baru datang bukan karena ajakan atau bujukan. Pemeluk baru datang berlandaskan keikhlasan yang ditandai dengan kesadaran penuh menjalani ritual sudhi wadhani.
PHDI Denpasar juga memastikan para dharmika memiliki pengetahuan dasar mengenai teologi maupun tradisi Hindu. Caranya, setiap individu yang telah menjalani sudhi wadhani dibekali buku saku yang berisi pedoman melaksanakan Tri Sandhya, persembahyangan, dan lainnya.
“Kami menyambut baik tren positif ini seperti yang dikatakan Sabdapalon Naya Genggong. Di sisi lain, hal ini juga menjadi motivasi bagi kami selaku majelis agama Hindu untuk selalu memberikan pelayanan terbaik,” tandas Arka. *rat
Komentar