nusabali

Pengelolaan Akomodasi di Bali Perlu Dikembalikan pada Karakter Daerah

  • www.nusabali.com-pengelolaan-akomodasi-di-bali-perlu-dikembalikan-pada-karakter-daerah

DENPASAR, NusaBali.com – Pengelolaan akomodasi pariwisata di Bali kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya permintaan wisatawan yang mendorong pertumbuhan pasokan vila, hotel, hingga kondominium. Kondisi tersebut turut memicu munculnya berbagai akomodasi legal maupun ilegal di sejumlah kawasan wisata.

Ketua Bali Villa Association (BVA), Putu Gede Hendrawan, Rabu (10/12/2025), mengatakan pilihan jenis akomodasi tidak bisa diarahkan atau dibatasi secara seragam. Menurutnya, Indonesia, khususnya Bali, memiliki karakteristik pariwisata yang berbeda dengan daerah maupun negara lain.

“Setiap daerah memiliki visi dan misi sendiri. Bali tidak bisa disamakan dengan Singapura. Singapura adalah wilayah dengan karakter bisnis sehingga lebih mudah mensegmenkan wisatawan dan akomodasi. Sementara Bali adalah destinasi liburan dengan pilihan yang menyesuaikan kebutuhan dan keinginan wisatawan,” ujarnya.

Hendrawan menjelaskan, sejarah pariwisata Bali justru berawal dari perkembangan homestay yang melekat dengan kehidupan masyarakat. Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati pemandangan, tetapi juga ingin berbaur dan memahami aktivitas budaya setempat.

“Pariwisata Bali terbentuk berbasis budaya. Dulu wisatawan ingin tinggal dekat masyarakat, mengenal keseharian warga, makanya mereka memilih homestay,” jelasnya.

Dengan pesatnya perkembangan pariwisata saat ini disertai beragam inovasi, menurut Hendrawan prinsip mengelola akomodasi sesuai karakter daerah masing-masing masih tetap relevan. Meski orientasi wisata kini tidak hanya budaya, namun juga kenyamanan dan inovasi layanan, nilai-nilai khas Bali tetap harus menjadi fondasi utama.

Seiring ekspansi sektor akomodasi, ia mengingatkan munculnya tantangan baru berupa dampak terhadap lingkungan hidup. Pembangunan fasilitas pariwisata telah bersinggungan dengan isu alih fungsi lahan yang berpotensi menggerus unsur alam sebagai bagian dari karakter budaya Bali.

“Pembangunan untuk menunjang pariwisata sudah menyentuh isu lingkungan. Karena itu kondisi ini perlu dikontrol dengan baik agar unsur alam dan karakter budaya Bali tetap terjaga,” tegasnya.

Terkait vila, Hendrawan menyebut akomodasi jenis ini telah memiliki mekanisme perizinan tersendiri melalui sistem Online Single Submission (OSS) dengan penilaian berbasis faktor risiko. Selain itu, regulasi mensyaratkan konsep pembangunan dengan komposisi 40 persen area lanskap dan 60 persen bangunan.

Meski demikian, vila tetap menjadi pilihan favorit wisatawan karena menawarkan privasi, suasana yang lebih personal, serta kenyamanan layaknya berada di rumah sendiri.

“Wisatawan memilih vila karena lebih private, homey, dan privasinya terjaga. Konsep pembangunan juga tetap mengedepankan keseimbangan antara ruang hijau dan bangunan,” pungkasnya. *may

Komentar