Sanggraloka Ubud Hadirkan Wisata Wellness Berbasis Alam dan Budaya
GIANYAR, NusaBali.com – Tren pariwisata global menunjukkan pergeseran minat wisatawan ke arah wisata wellness, ketenangan, dan aktivitas yang memungkinkan wisatawan kembali terkoneksi dengan alam. Lebih dari 70 persen wisatawan kini memilih destinasi yang menawarkan pengalaman pemulihan diri, meditasi, hingga kegiatan berbasis alam.
Perubahan tren ini juga terlihat di Ubud, Gianyar. Salah satunya melalui kehadiran Sanggraloka Ubud, sebuah resort yang mengusung konsep pariwisata berkelanjutan dan wellness, berlokasi di Desa Bresela, Kecamatan Payangan.
General Manager Sanggraloka Ubud, Komang Kariyana, mengatakan kawasan resort tersebut awalnya merupakan kebun sayur milik warga yang dialiri Tukad Oos dengan kondisi lingkungan masih natural. Bersama I Wayan Lanus, yang turut menjadi partner pengembangan, area ini kemudian ditata tanpa menghilangkan karakter alam aslinya.

Komang Kariyana, General Manager Sanggraloka Ubud.-NOVI
“Dulu hanya kebun sayur dengan aliran sungai yang jernih. Kami menata kawasan ini tetap menyatu dengan alam. Air terjun setinggi sekitar 2,5 meter yang sekarang menjadi daya tarik muncul secara alami setelah penataan batu sebagai tanggul,” ujar Kariyana, Rabu (10/12/2025).
Ia menyebut pesan utama dalam pengembangan kawasan ini adalah menjaga alam, lingkungan, serta keberlanjutan masyarakat. Resort dibangun di lahan nonproduktif, sementara kebun dan sawah warga di sekitarnya tetap dipertahankan. Bahkan, kebun sayur setempat dikembangkan menjadi kebun organik tanpa penggunaan bahan kimia.
Beragam tanaman seperti tomat, jahe, kunyit, terong, seledri, kacang panjang, hingga kelor kini ditanam dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan sekaligus sarana edukasi tamu.
Menyesuaikan tren wisata tenang, Sanggraloka menghadirkan berbagai aktivitas wellness berbasis alam. Mulai dari yoga dan meditasi di ruang terbuka, terapi sound bath yang memadukan resonansi suara alam, kegiatan berkebun organik, hingga ritual melukat di Sungai Oos. Untuk memudahkan akses, terutama bagi tamu lanjut usia, manajemen tengah menyiapkan eskalator luar ruang menuju area sungai.
Di sektor kuliner, Sanggraloka mengusung konsep farm-to-table yang dikembangkan Kepala Food & Beverage, I Wayan Eka Arsana. Bahan pangan diambil langsung dari kebun organik dan diolah menjadi sajian lokal, nasional, internasional, hingga menu Mediterranean. Tidak menggunakan sistem bufet, sarapan disajikan melalui konsep ritual dining, yaitu rangkaian hidangan pembuka hingga penutup yang dipersonalisasi untuk tiap tamu.
Sejak soft opening pada Oktober lalu, tingkat okupansi awal resort tercatat di angka 58–62 persen dan ditargetkan meningkat menjadi 65–70 persen menjelang akhir tahun. Sanggraloka memiliki 52 unit kamar, termasuk dua unit presidential suite.
Lebih dari 70 persen tenaga kerja direkrut dari Desa Bresela dan Payangan, yang sebelumnya mendapatkan pelatihan hospitality berbasis budaya lokal dan praktik ramah lingkungan. Rantai pasok operasional resort juga memprioritaskan petani, perajin, dan pemandu budaya setempat.
Saat beroperasi penuh, perputaran ekonomi lokal diperkirakan mencapai Rp 1,2 hingga Rp 1,6 miliar per tahun.
Direktur sekaligus partner Sanggraloka Ubud, I Wayan Lanus, menegaskan pariwisata masa depan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga harus menjaga alam dan budaya Bali sebagai sumber daya utama.
“Tujuan kami bukan sekadar membangun resort, tetapi menciptakan ekosistem yang menyehatkan tanah, memberdayakan masyarakat, dan menjaga warisan budaya Bali tetap hidup,” ujarnya. *nvi
Komentar