Adi Arnawa Minta Warganya Jaga Kebersihan Jelang Penutupan TPA Suwung: Saya Agak Trauma
MANGUPURA, NusaBali.com – Memasuki akhir tahun sekaligus penutupan TPA Regional Sarbagita (Suwung) pada 23 Desember 2025 ini, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengajak warganya tertib menjaga kebersihan lingkungan khususnya daerah aliran sungai (DAS). Ia trauma.
“Semeton saya semuanya agar ikut membantu pemerintah terutama masalah sampah. Terus terang saya agak trauma dengan sampah ini,” ungkapnya.
Hal itu diutarakan Adi Arnawa di sela acara peringatan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional di Puspem Badung, Rabu (10/12/2025). Trauma yang ia rasakan merujuk peristiwa banjir September yang salah satunya diakibatkan tumpukan sampah pada DAS.
“Bagaimana agar jangan membuang sampah ke sungai karena sudah terbukti kemarin—di samping karena curah hujan tinggi, ternyata salah satu akibat sedimentasi lumpur disebabkan limbah yang tertampung di sungai,” jelas Adi Arnawa.
Bupati Badung asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan menuturkan bahwa penanganan sampah tanpa TPA Suwung memang berat. Sebab, kata dia, timbulan sampah di Gumi Keris harian belum mampu dikelola fasilitas yang ada baik TPS3R maupun TPST.
"Saya pikir (kondisi) ini sangat susah lah. Apalagi data yang ada, sampah kiriman dalam kondisi normal itu 15 ton per hari dan ini belum pada musim puncaknya,” beber Adi Arnawa.
Bupati yang juga Sekretaris DPC PDIP Badung mengaku akan menghadap Gubernur Wayan Koster guna membuka kemungkinan opsi lain. Di saat yang sama, kata dia, Pemkab Badung berupaya mengambil langkah seperti normalisasi DAS, penambahan TPST, dan bahkan opsi TPA sementara.
Sementara itu, belum TPA Suwung resmi ditutup—tumpukan kantong plastik berisi sampah rumah tangga mulai terlihat menumpuk di telajakan gang dan tepi jalan di Badung selatan. Fenomena ini berulang ketika wacana penutupan TPA Suwung berhembus sebelum-sebelumnya. *rat
Hal itu diutarakan Adi Arnawa di sela acara peringatan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional di Puspem Badung, Rabu (10/12/2025). Trauma yang ia rasakan merujuk peristiwa banjir September yang salah satunya diakibatkan tumpukan sampah pada DAS.
“Bagaimana agar jangan membuang sampah ke sungai karena sudah terbukti kemarin—di samping karena curah hujan tinggi, ternyata salah satu akibat sedimentasi lumpur disebabkan limbah yang tertampung di sungai,” jelas Adi Arnawa.
Bupati Badung asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan menuturkan bahwa penanganan sampah tanpa TPA Suwung memang berat. Sebab, kata dia, timbulan sampah di Gumi Keris harian belum mampu dikelola fasilitas yang ada baik TPS3R maupun TPST.
"Saya pikir (kondisi) ini sangat susah lah. Apalagi data yang ada, sampah kiriman dalam kondisi normal itu 15 ton per hari dan ini belum pada musim puncaknya,” beber Adi Arnawa.
Bupati yang juga Sekretaris DPC PDIP Badung mengaku akan menghadap Gubernur Wayan Koster guna membuka kemungkinan opsi lain. Di saat yang sama, kata dia, Pemkab Badung berupaya mengambil langkah seperti normalisasi DAS, penambahan TPST, dan bahkan opsi TPA sementara.
Sementara itu, belum TPA Suwung resmi ditutup—tumpukan kantong plastik berisi sampah rumah tangga mulai terlihat menumpuk di telajakan gang dan tepi jalan di Badung selatan. Fenomena ini berulang ketika wacana penutupan TPA Suwung berhembus sebelum-sebelumnya. *rat
Komentar