nusabali

Hampir 10 Tahun Berdiri, SMPN 6 Tejakula Masih Kekurangan Ruang Kelas

  • www.nusabali.com-hampir-10-tahun-berdiri-smpn-6-tejakula-masih-kekurangan-ruang-kelas

SINGARAJA, NusaBali - Hampir sepuluh tahun berdiri, SMPN 6 Tejakula di Desa Les, Kecamatan Tejakula, masih kekurangan sarana prasarana (sarpras) dasar untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Hingga tahun pelajaran 2025/2026, sekolah ini baru memiliki lima ruang kelas sehingga pembelajaran masih berlangsung dengan sistem double shift pagi–sore.

Waka Kurikulum SMPN 6 Tejakula, I Nyoman Kartika Awan, Senin (8/12), mengungkapkan sejak berdiri tahun 2016 sekolah hanya memiliki tiga ruang belajar. Sisanya adalah satu ruang perpustakaan dan satu laboratorium IPA. Dengan jumlah siswa mencapai 326 orang dan total 11 rombongan belajar (Rombel), kondisi sarpras tersebut jauh dari cukup.

“Untuk kelas IX ada empat rombel, kelas VIII empat rombel, dan kelas VII tiga rombel. Dengan tiga ruang kelas, kami terpaksa menerapkan double shift,” jelas Kartika.

Keterbatasan fasilitas membuat sekolah juga harus meminjam ruang kelas di SDN 3 Les. Dalam pengaturan pembelajaran tahun ini, empat rombel belajar di SMPN 6 pada shift pagi, tiga rombel pada shift sore, sementara empat rombel kelas VIII ditempatkan di SDN 3 Les.

Tahun ini SMPN 6 Tejakula memperoleh tambahan dua ruang kelas sehingga total menjadi lima. Bantuan RKB itu bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan anggaran Rp 600 juta. Hanya saja, ketersediaan ruang kelas saat ini masih jauh dari ideal. Sekolah minimal membutuhkan enam ruang kelas tambahan agar seluruh pembelajaran dapat dipusatkan di satu lokasi tanpa harus meminjam gedung sekolah lain.

“Kalau punya 11 ruang, shift pagi saja sudah cukup. Anak-anak bisa belajar penuh di SMPN 6 tanpa pindah-pindah lokasi,” tambah Kartika Awan.

Sejak awal berdiri, SMPN 6 Tejakula tumbuh dari dukungan masyarakat Desa Les, karena 99 persen siswanya berasal dari desa setempat. Sekolah mulanya berstatus satu atap dan menumpang penuh di SDN 3 Les. Melihat perkembangan jumlah siswa, masyarakat Desa Les kemudian mengumpulkan urunan untuk membeli tanah seluas 60 are yang diserahkan kepada pemerintah sebagai lokasi pembangunan sekolah. Tahun 2019 sekolah mendapatkan tiga ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium. Tambahan dua ruang kelas baru kembali diterima di tahun 2025.

Meski demikian, kebutuhan sarpras lainnya masih mendesak. Ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, ruang UKS, ruang BK, hingga ruang TIK belum tersedia. Ruang perpustakaan saat ini difungsikan ganda sebagai ruang guru dan ruang kepala sekolah, sementara siswa yang berkunjung ke perpustakaan harus membawa buku ke kelas. Laboratorium IPA pun digunakan sebagai ruang belajar. “Kami terus mengusulkan pemenuhan sarpras ke dinas dan pemkab sejak 2019,” tegas Kartika.

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengaku baru mengetahui keterbatasan sarpras di SMPN 6 Tejakula. Sutjidra menilai kondisi tiga ruang kelas ditambah laboratorium yang dijadikan ruang guru jauh dari ideal untuk sekolah dengan jumlah siswa di atas 300 orang. “Dengan revitalisasi dua ruang kelas baru, ke depan kami akan fokus menambah lagi fasilitas sekolah,” kata Sutjidra.

Bupati memastikan tahun 2027 Pemkab Buleleng akan membangun empat ruang kelas baru, sarana toilet putra-putri masing-masing tiga unit, serta bangunan wantilan lengkap dengan perangkat gamelan. Fasilitas tersebut akan dibiayai penuh dari APBD. “Anak-anak disini potensinya luar biasa di bidang seni. Jadi fasilitas wantilan dan sarpras lain harus kita lengkapi. Dengan tambahan ruang kelas, paling tidak kelas VIII dan IX bisa shift pagi, kelas VII shift siang,” jelas bupati asal Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini.7 k23

Komentar