Plt Camat Pastikan Dapat Akses Jalan
Soal 8 KK Lewati Jembatan Bambu di Pendem
NEGARA, NusaBali - Keluhan 8 Kepala Keluarga (KK) di Lingkungan/Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, yang terpaksa bertaruh keselamatan melewati jembatan bambu sebagai satu-satunya akses keluar-masuk permukiman, kini mendapatkan titik terang.
Pemkab Jembrana melalui Camat Jembrana bergerak memediasi masalah tersebut, sehingga warga kini telah memperoleh akses jalan alternatif yang lebih layak.
Permasalahan akses jalan ini mencuat setelah 8 KK tersebut selama ini bergantung pada jembatan bambu yang dibangun secara swadaya sebagai jalur utama mereka. Warga sebenarnya berharap adanya pembangunan jembatan permanen untuk keamanan. Namun, pihak kecamatan menjelaskan bahwa pembangunan jembatan permanen belum dapat diprioritaskan.
"Kalau dipaksakan membangun jembatan permanen, tentu tidak efektif karena biayanya tinggi. Sementara saat ini pemerintah harus menyesuaikan dengan keterbatasan anggaran," ujar Plt Camat Jembrana Tri Karyna Ambaradadi saat meninjau jembatan darurat tersebut, Minggu (7/12).
Menurut Ambaradadi alias Dadit, pertimbangan besarnya anggaran berbanding dengan jumlah pengguna jalur yang hanya delapan KK menjadi salah satu kendala. Setelah melalui proses mediasi yang melibatkan 8 KK terdampak dan keluarga penyanding, akhirnya ditemukan solusi.
Warga yang selama ini kesulitan akses kini sepakat untuk menggunakan jalan alternatif. Akses jalan itu pun merupakan jalur milik warga setempat yang telah disepakati bersama untuk dapat dipergunakan oleh 8 KK tersebut.
Dadit menegaskan, mediasi untuk mencari solusi masalah ini sebetulnya sudah dilakukan sejak tahun 2022 lalu. Namun baru pada pertemuan terakhir ini semua pihak mencapai kesepakatan. Kesepakatan itu pun adalah membuka akses alternatif sehingga warga tidak lagi bergantung pada jembatan bambu yang berisiko. "Kami sudah beberapa kali memfasilitasi mediasi sejak 2022 hingga 2023. Nah, kini sudah ada kesepakatan akses jalan alternatif dapat digunakan oleh 8 KK tersebut tanpa harus melewati jembatan bambu," ungkap Dadit.
Dengan adanya solusi jalan alternatif itu, Pemkab Jembrana berharap 8 KK tersebut kini dapat menjalankan aktivitas harian dengan lebih aman dan nyaman. Meski demikian, pihak pemerintah tetap membuka kemungkinan penataan lebih lanjut sesuai dengan kemampuan anggaran daerah.
Seperti diberitakan sebelumnya, 8 KK yang bermukim di seberang Tukad Titis, Lingkungan/Kelurahan Pendem, mengaku terpaksa mengunakan jembatan bambu yang reyot karena tidak memiliki akses jalan. Kondisi itu pun dinyatakan sudah terjadi selama belasan tahun, tepatnya putusnya jembatan beton kecil yang diterjang banjir bandang pada tahun 2014 silam.
Jembatan bambu darurat tersebut menjadi urat nadi warga, termasuk para siswa dari jenjang TK hingga SMA yang setiap hari melintasinya untuk menuju sekolah. Sejatinya di kawasan pemukiman warga ini ada akses jalan kecil yang tembus ke jalan utama. Hanya saja, jalan itu adalah akses jalan pribadi warga lain sehingga mereka merasa segan ketika harus mengandalkan akses jalan pribadi tersebut.7 ode
Komentar