Sidan Heritage Festival 2025 Tegaskan Semangat Raksa Rumaksa
GIANYAR, NusaBali - Sidan Heritage Festival 2025 menjadi ruang aktualisasi budaya, kreativitas, dan kepedulian lingkungan bagi masyarakat Desa Sidan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar. Festival dibuka di Balai Banjar Sidan, Jumat (5/12).
Mengangkat tema ‘Raksa Rumaksa - Menjaga, Dijaga, dan Terjaga’ yang semakin menegaskan komitmen desa untuk merawat warisan leluhur, memperkuat kebersamaan, dan membuka ruang kreasi bagi generasi muda.
Perbekel Desa Sidan, Made Sukra Suyasa, menekankan festival yang memasuki gelaran kedua ini merupakan bagian dari rangkaian tiga festival besar yang telah dirancang bersama masyarakat. Festival ini, bukan sekadar perayaan seni, tetapi wadah menjaga identitas, memperkuat nilai-nilai adat, dan memastikan kearifan lokal tetap hidup dalam keseharian warga. “Raksa Rumaksa adalah ajakan kepada kita semua untuk menjaga alam, menjaga budaya, dan menjaga ruang kreatif agar terus hidup dan berkembang,” ujarnya.
Tema besar tersebut dijabarkan ke dalam tiga sub tema utama yakni Rumaksa Ibu Pertiwi, Rumaksa Adi Budaya, dan Rumaksa Rasa Kreasi. Ketiganya menjadi fondasi penyelenggaraan kegiatan yang menyentuh aspek lingkungan, seni tradisional, hingga inovasi generasi muda. Sub tema Rumaksa Ibu Pertiwi menjadi salah satu fokus utama yang menguatkan semangat merawat bumi. Panitia bersama masyarakat melaksanakan penanaman pohon sebagai bagian dari program regenerative tourism yang bekerja sama dengan Atourin, Jakarta melalui konsep ARTI (Atourin Regenerative Tourism Initiative).
Kegiatan trekking sambil memungut sampah plastik juga digelar untuk mengampanyekan wisata bersih. Selain itu, penguatan konsep padi organik serta edukasi pengelolaan sampah bekerja sama dengan Griya Luhu dan MPH (Merah Putih Hijau) semakin menegaskan arah desa menuju pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Sub tema Rumaksa Adi Budaya menampilkan kekayaan seni dan tradisi lokal. Warga disuguhkan pertunjukan tari barong dan ragam tarian tradisional lain yang menjadi identitas budaya Desa Sidan.
Parade ngelawar, parade gebogan, dan pameran canangsari menghadirkan suasana adat yang kuat, seolah menegaskan Desa Sidan adalah ruang hidup budaya yang dijaga bersama oleh masyarakatnya. Festival juga membuka ruang luas bagi kreasi generasi muda melalui sub tema Rumaksa Rasa Kreasi. Lomba mewarnai, pentas musik kreatif, parade kuliner berbahan lokal, dan pendampingan kemampuan digital oleh Beswan Djarum menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan kreativitas anak-anak muda Sidan. “Ruang ini menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan,” ujarnya.
Ketua Panitia, I Wayan Agus Darmayoga, menyampaikan partisipasi masyarakat pada festival tahun ini sangat tinggi. Mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Kolaborasi antara seniman tradisional dan kreator muda juga menjadi salah satu capaian penting, memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang adaptif dan kreatif sesuai perkembangan zaman.
Festival ini juga berhasil memperluas gaung budaya Desa Sidan melalui publikasi di berbagai media lokal dan nasional. Kesadaran lingkungan meningkat seiring aksi nyata penanaman pohon dan penguatan sistem pengelolaan sampah. Panitia menilai bahwa keberhasilan festival bukan hanya pada banyaknya kegiatan, tetapi pada meningkatnya kesadaran kolektif untuk menjaga alam, budaya, serta ruang kreasi secara berkelanjutan.
Di akhir acara, Perbekel Desa Sidan mengajak seluruh masyarakat menikmati rangkaian festival dengan rasa syukur dan bangga. Dia berharap semangat Raksa Rumaksa dapat menjadi pegangan bersama, sehingga Desa Sidan tidak hanya menjaga tradisinya, tetapi juga dijaga oleh kebersamaan dan nilai-nilai luhur yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Festival yang berlangsung pada 5 Desember 2025 ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam perjalanan Desa Sidan menuju desa yang lestari, berbudaya kuat, dan semakin kreatif. 7 nvi
Komentar