nusabali

Yowana Tonja Memenjor, Parade Penjor Sambut Pujawali Dalem Bungkeneng

  • www.nusabali.com-yowana-tonja-memenjor-parade-penjor-sambut-pujawali-dalem-bungkeneng

DENPASAR, NusaBali.com – Sabha Yowana Desa Adat Tonja, Denpasar Utara, menggelar Parade Penjor Sekaa Teruna se-Desa Adat Tonja dalam rangka menyambut piodalan (pujawali) di Pura Dalem Bungkeneng. Kegiatan bertajuk Yowana Tonja Memenjor ini dilaksanakan pada Penampahan Kuningan, Jumat (28/11/2025), setelah sebelumnya dipersiapkan selama kurang lebih satu bulan.

Manggala Sabha Yowana Desa Adat Tonja, I Made Ardita Arimbawa (22), mengatakan parade ini merupakan kegiatan perdana yang digelar oleh Sabha Yowana berkolaborasi dengan Desa Adat Tonja. Sebanyak delapan ST dari sembilan banjar se-Desa Adat Tonja ambil bagian dalam parade tersebut.

“Parade ini kami gelar untuk menumbuhkan semangat ngayah di kalangan yowana, sekaligus melestarikan budaya Bali melalui tradisi memenjor. Selain menjadi wadah berkreativitas, kegiatan ini juga bertujuan memupuk kebersamaan serta kekompakan antar-ST,” ujar Ardita.

Ia menjelaskan, seluruh peserta menampilkan Penjor Yadnya, bukan sekadar penjor hias. Penjor dibuat sesuai pakem yadnya dengan menampilkan unsur pala bungkah, pala gantung, pala wija (hasil bumi), kober, dan perlengkapan upacara lainnya, kemudian diperkaya dengan sentuhan kreativitas sesuai kemampuan masing-masing ST.

“Ini bukan lomba, melainkan parade. Namun tetap ada kriteria yang menekankan makna Penjor Yadnya, bukan hanya tampilan estetika,” tegasnya.

Parade Penjor dipusatkan di jaba sisi (areal luar) Pura Dalem Bungkeneng, tepatnya di sepanjang Jalan Ratna. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Camat Denpasar Utara, serta dihadiri Bendesa Adat Tonja, para kepala lingkungan, kelian adat se-Desa Adat Tonja, Lurah Tonja, dan unsur internal desa adat.

Di tengah tantangan kenaikan harga bahan serta kelangkaan sejumlah material di pasaran, antusiasme yowana tidak surut. “Astungkara, teman-teman ST tetap tulus ngayah. Bahkan memasuki musim hujan pun pelaksanaan parade berjalan lancar tanpa kendala berarti,” kata Ardita.

Ia menilai parade ini menjadi energi positif bagi yowana yang selama ini cenderung aktif hanya pada musim pembuatan ogoh-ogoh. Melalui kegiatan memenjor, kreativitas generasi muda tetap terjaga sepanjang tahun sekaligus memperkuat rasa bakti melalui ngayah.

“Harapan kami, ke depan parade atau lomba penjor yang dilaksanakan serangkaian piodalan di pura tidak dipandang negatif atau sekadar ajang jor-joran biaya. Yang terpenting adalah semangat tulus ikhlas ngayah dan kreativitas yowana dalam menjaga tradisi Bali,” pungkasnya. *m03

Komentar