Tim Jitupasna Kebut Verifikasi Kerusakan Bangunan
Pasca Pohon Tumbang di Objek Wisata Sangeh
MANGUPURA, NusaBali - Tim Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung kebut verifikasi kerusakan bangunan Pura Pucak Bukit Sari, Objek Wisata Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung yang beberapa waktu lalu tertimpa puluhan pohon pala yang bertumbangan.
Tim bergerak sejak Kamis (4/12) atau sehari setelah kejadian untuk melakukan verifikasi awal kerusakan. Namun, proses ini masih memerlukan tahap pendalaman data, mengingat banyak kerusakan bangunan yang ditimbulkan akibat bencana yang hingga menelan satu korban jiwa tersebut.
Kasi Rekonstruksi BPBD Badung Putu Juniarta seizin Kalaksa BPBD Badung, Wayan Darma, mengatakan Tim Jitupasna masih melakukan verifikasi di lapangan, mengingat banyaknya item kerusakan yang harus diukur. Proses pengukuran pun, kata dia, baru bisa dilanjutkan setelah area terdampak selesai dibersihkan.
“Kami bersama tim sudah turun ke Sangeh untuk melakukan verifikasi kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana pohon tumbang. Sebelumnya sempat turun, cuma karena pembersihan belum selesai, jadi tidak bisa melakukan pengukuran,” ujarnya, Minggu (7/12).
Juniarta menambahkan, koordinasi antara BPBD Badung, pengelola objek wisata, dan desa adat terus dilakukan untuk membahas penyesuaian kebutuhan perbaikan, termasuk rencana tim untuk kembali turun melakukan sinkronisasi dengan prajuru adat. “Tim kemungkinan akan turun besok (hari ini) terkait sinkronisasi kebutuhan perbaikan dengan prajuru adat,” imbuhnya.
Kata dia, setelah memastikan akurasi data, hasil verifikasi kemudian diajukan melalui sistem Layanan Elektronik Penanggulangan Bencana (Lencana), yang menjadi dasar persetujuan penyaluran bantuan. Seluruh hasil verifikasi nantinya akan diteruskan kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan.
Disinggung mengenai besarnya nilai kerugian, berdasarkan penafsiran awal diperkirakan lebih dari Rp 2 miliar. Mengingat bangunan yang rusak merupakan struktur berukir khas Bali yang membutuhkan biaya restorasi tinggi. “Dari penafsiran kami kerugian lebih dari Rp 2 miliar. Apalagi ada tembok dan candi yang harus di estorasi, karena tempat ini menjadi tujuan wisatawan,” kata Juniarta. 7 ind
Komentar