Prosesi Ngerebong Tetap Digelar di Pura Agung Petilan
Kerauhan Massal Pamangku Jadi Petunjuk Spiritual
DENPASAR, NusaBali - Prosesi sakral Ngerebong di Pura Agung Petilan, Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur, Kota Denpasar akhirnya tetap dilaksanakan pada Redite Pon Medangsia, Minggu (7/12).
Meskipun tidak seluruh rangkaian dan penunjang upacara dapat digelar secara penuh. Pelaksanaan upacara berlangsung lebih sederhana karena pura masih dalam tahap restorasi besar-besaran.
Bendesa Adat Kesiman, Jro Mangku Ketut Wisna menjelaskan bahwa sejak awal prosesi Ngerebong direncanakan dilakukan secara 'ngubeng'. Namun, dalam pelaksanaannya, krama adat menunggu pemuus atau petunjuk spiritual yang menjadi dasar penentuan rangkaian upacara.
“Pertama acinya tetap memargi, kedua tidak ada pelunganan, dan aktivitas memenjor besar juga ditiadakan. Karena itu kami mengantisipasi dengan menunggu pemuus baru turun tadi. Ternyata harus dimohonkan, dan beliau berkehendak untuk melaksanakan mintar lewat pamedalan kiri dan kanan. Untungnya pemedalan sudah diplaspas mengantisipasi pemuus ini,” ujar Jro Wisna.
Dengan adanya petunjuk tersebut, prosesi Ngerebong akhirnya tetap dapat dilaksanakan. Namun, sejumlah sarana penunjang upacara yang biasanya menyertai Ngerebong tidak digelar. Salah satunya adalah kegiatan Yowana yang tahun ini ditiadakan. Rangkaian Ngerebong dilaksanakan tanpa lawatan Ida Bhatara dari luar. Prosesi inti seperti ngider bhuwana tetap digelar, disertai tabuh rah, meskipun intensitas dan skala pelaksanaannya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
Rangkaian ngunying dan pengilen tetap dilaksanakan secara lengkap sebagai bagian dari rangkaian ritual. Dalam prosesi tersebut, sejumlah pamangku mengalami kerauhan massal, mempertegas suasana sakral yang menyelimuti pelaksanaan Ngerebong meski digelar secara sederhana. Krama adat mengikuti seluruh tahapan dengan penuh khidmat, menjunjung tinggi petunjuk spiritual sebagai landasan utama pelaksanaan upacara.
Meski demikian, inti prosesi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dipertegas setelah muncul pemuus berupa tanda atau cihna, di mana sejumlah warga mengalami ketedunan secara bersamaan. Kondisi tersebut dipandang sebagai isyarat bahwa Ida Bhatara berkehendak Ngerebong tetap dilaksanakan. “Itu menjadi pesan agar upacara tetap digelar. Beberapa warga mengalami ketedunan berbarengan tadi sebelum pelaksanaan Ngerebong, sehingga terlaksana kemudian ngider Bhuana diwakili oleh para pamangku masing-masing,” imbuh Jro Wisna. 7 mis
Komentar