Start dari Oktober, ST Sila Karma Garap Ogoh-Ogoh Enam Tokoh Bertema Mayadenawa
MANGUPURA, NusaBali.com – Sekaa Teruna Sila Karma, Banjar Baler Pasar, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, tancap gas menggarap ogoh-ogoh untuk menyambut Tahun Baru Caka 1948 pada Maret mendatang. Proses pengerjaan mulai dilakukan sejak 28 Oktober 2025, tidak lama setelah rapat anggota dan pembentukan panitia ogoh-ogoh.
Ketua ST Sila Karma, I Nyoman Doni Raditya (25), mengatakan pengerjaan awal sudah mencapai sekitar 10 persen. Start lebih dini dipilih untuk menghindari keteteran menjelang hari penilaian dan untuk memaksimalkan kualitas karya tahun ini.
“Kami belajar dari pengalaman tahun sebelumnya. Kalau mulai terlalu mepet, nanti confensus dan finishing jadi tidak maksimal. Karena itu kami mulai dari Oktober agar semua proses bisa berjalan lebih tenang dan rapi,” ujar Doni.
Untuk tahun ini, ST Sila Karma menampilkan enam tokoh karakter dengan tema Mayadenawa, yang mengangkat kisah Dewa Indra melawan prajurit raksasa dalam legenda Bali.
“Tema Mayadenawa sangat kaya makna. Selain memuat unsur satwa, juga mengangkat nilai dharma melawan adharma. Kami ingin anak-anak muda tetap mengenal cerita Bali,” jelasnya.
Doni menyebut anggaran awal untuk ogoh-ogoh tahun 2026 diproyeksikan minimal Rp40 juta. Meski demikian, ia membuka kemungkinan anggaran bertambah sesuai kebutuhan konstruksi dan detail karya.
“Namanya karya seni, kadang di tengah jalan perlu tambahan material. Tapi target awal kami tetap di sekitar Rp40 juta,” ungkapnya.
Evaluasi terbesar setiap tahun, kata Doni, adalah minimnya kehadiran pemuda karena kesibukan masing-masing dan rasa memiliki yang masih perlu ditumbuhkan.
“Ini PR kami sebagai pengurus. Tidak mudah merangkul pemuda karena aktivitas mereka berbeda-beda. Tapi dengan adanya aturan Kabupaten Badung tentang keharusan undagi lokal, justru menjadi momentum untuk kami belajar dan meningkatkan kualitas karya sendiri,” jelasnya.
ST Sila Karma memastikan seluruh material yang digunakan adalah 100 persen ramah lingkungan, mengandalkan bambu, kertas, dan bahan alam lainnya tanpa styrofoam.
Doni juga mengakui perkembangan teknologi, termasuk AI, kini memberi pengaruh positif dalam proses perencanaan.
“AI membantu sedikit-banyak dalam membuat ilustrasi atau rancangan awal. Tapi inti karya tetap pada kreativitas manusia. Itu yang harus dijaga,” katanya.
Doni berharap generasi muda semakin terlibat dalam karya-karya desa adat, termasuk ogoh-ogoh, karena kontribusi kecil sekalipun sangat berarti untuk banjar.
“Kalau bukan anak muda yang bergerak, siapa lagi? Semoga ogoh-ogoh tahun 2026 menjadi karya yang membanggakan dan bisa tampil maksimal di lomba tingkat Kabupaten Badung,” tutupnya. *m03
Komentar