Suarakan Paradoks Citra Destinasi ‘Surga’ Tanah Bali
Dari Bali, Gus Dark Jajal Panggung SCAPE Public Art New Zealand
DENPASAR, NusaBali - Seniman ilustrator dan aktivis asal Bali, Gus Dark, kembali membawa isu-isu sosial dari tanah kelahirannya ke panggung seni publik internasional.
Dia menampilan karya ilustrasi di SCAPE Public Art Season 2025, di Ōtautahi Christchurch, New Zealand, 7 November 2025 – 1 Februari 2026.
Nama Gus Dark diperhitungkan publik seni terutama seni berbasis kritik sosial dan lingkungan. Itu lantaran suami dari Ni Kade Alit Juli Pratiwi (Geg Yuli) ini mahir memadukan seni dan kritik sosial dalam segenap karyanya. Gus Dark juga telah terlibat dalam kampanye antikorupsi, advokasi lingkungan, dan pelbagai isu terkait kebebasan berekspresi. Tak hanya di Indonesia, karya-karyanya menembus ruang -ruang pameran, Swiss dan Amerika Serikat. Ini menunjukkan dia telah menemukan keluasan ruang ekspresi melalui seni visual atas kegelisahan terhadap keadaan. Tak cukup di Bali atau Indonesia, namun ke ranah global.
Tahun 2025, SCAPE mengangkat tema “The Limits of Language”, dikuratori oleh Tyson Campbell untuk menyoroti batas-batas bahasa dalam menyampaikan realitas. Tema tersebut membuka ruang bagi seniman seperti Gus Dark yang menggunakan visual sebagai bentuk perlawanan ketika kata-kata tidak lagi kuat untuk berteriak karena pembungkaman.
Direktur Eksekutif SCAPE Public Art Rachel Jefferies menyatakan bahwa karya – karya yang dipamerkan para seniman tahun ini, sebagaimana Gus Dark, akan memancing percakapan baru di ruang publik. Dia menegaskan bahwa seni dapat menjembatani kekosongan makna tatkala kata-kata gagal bekerja. "The limits of language is about what happens when words fail us – and how art can step in to bridge that gap. This year’s artists bring diverse perspectives that will spark fresh conversations in Ōtautahi Christchurch’s streets and public spaces (batas-batas bahasa berbicara tentang apa yang terjadi ketika kata-kata tak lagi mampu mewakili kita — dan bagaimana seni dapat hadir untuk menjembatani kekosongan itu. Para seniman tahun ini membawa beragam perspektif yang akan memicu percakapan baru di jalan-jalan dan ruang publik Ōtautahi Christchurch),’’ ujarnya.
Dalam seri “Ketika Kata-Kata Terjegal, Garis Jadi Senjata”, Gus Dark menyoroti paradoks citra di tanah kelahirannya, Bali, sebagai destinasi ‘surga. Seniman kelahiran Karangasem, 21 Juli 1982 ini menunjukkan bagaimana keindahan yang dijual ke dunia sering menutupi beban sosial dan ekologis yang dialami masyarakat Bali sendiri.
Namun, Gus Dark tak ingin bermain dalam umpatan sarkastik yang cenderung miskin makna. Dia merasakan pendekatan visualnya di negeri serang ini sebagai ‘propaganda positif’, yang menghadirkan humor dan ironi untuk membuka ruang refleksi tanpa membuat penonton menolak. ‘’Saya percaya bahwa visual dapat berbicara lebih jujur dibandingkan teks atau retorika belaka,’’ ujar seniman kelahiran Sidemen, Karangasem, ini dengan nada khidmat.
Salah satu karya utamanya, Freedom of Press – Utopia, menggambarkan rapuhnya kebebasan pers di tengah tekanan kepentingan. Karya ini juga menjadi kritik terhadap ancaman yang masih dihadapi jurnalis di Indonesia dan dunia. Karya-karya Gus Dark di area publik sekitar Te Pae – Christchurch Convention Centre akan menjadikan kota ini sebagai ruang refleksi terbuka. Publik diajak untuk menanggapi isu demokrasi, lingkungan, dan kebenaran melalui bahasa visual.
Sebagai informasi, SCAPE Public Art sejak berdiri pada 1998 menjadi pelopor seni publik di Aotearoa New Zealand. Program tahunannya menghadirkan karya-karya kontemporer yang dapat diakses publik secara gratis. Ajang SCAPE kini menjadi salah satu platform seni publik paling berpengaruh di kawasan tersebut. Kehadiran Gus Dark menempatkan isu-isu Bali dalam dialog global yang lebih luas.
Gus Dark punya darah seni yang mengalir dari kesenimanan sang ayah, Jro Mangku Made Putu Ariana. Dia pun membiakan bakat seninya sejak anak-anak hingga diperdalam lagi dengan kuliah di Jurusan Grapic Design MSD (Modern School of Design) Jogjakarta, bersama sang istri. 7lsa
Komentar