nusabali

Empat Karakter, Satu Semangat dari Banjar Tegal Gerana

  • www.nusabali.com-empat-karakter-satu-semangat-dari-banjar-tegal-gerana

MANGUPURA, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Wira Karya, Banjar Tegal Gerana, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung, lebih dini menggarap ogoh-ogoh untuk menyambut Tahun Baru Caka 1948. Proses pengerjaan telah dimulai sejak 5 November 2025.

Ketua ST Wira Karya, I Made Ardika Pranata alias Kaduk (23), mengatakan pengerjaan dilakukan lebih awal untuk memberi waktu yang cukup dalam mematangkan konsep karya. 

“Pembuatan ogoh-ogoh untuk Caka 1948 kami mulai sejak 5 November lalu. Tahun ini kami merencanakan menampilkan empat tokoh karakter,” ujar Kaduk saat ditemui di Banjar Tegal Gerana.

Untuk anggaran, ST Wira Karya menyiapkan dana sekitar Rp60 juta, relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. “Anggaran kami sesuaikan dengan kemampuan sekaa teruna, kurang lebih masih di kisaran Rp60 jutaan,” jelas karyawan hotel di kawasan Seminyak ini.

Dari sisi material, pihaknya tetap konsisten menggunakan bahan ramah lingkungan, seperti bambu, koran, dan bahan alami lainnya. “Kami berkomitmen menghindari bahan yang tidak ramah lingkungan, karena lewat ogoh-ogoh kami juga ingin ikut menjaga alam,” katanya.

Menyambut lomba ogoh-ogoh tingkat Kabupaten Badung tahun 2026, Kaduk mengaku seluruh anggota ST Wira Karya menyambutnya dengan antusias tinggi. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya soal perlombaan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi seniman muda Bali.

“Kami berharap event lomba nantinya dapat memberikan kontribusi bagi pariwisata dan perkembangan seniman muda. Ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni, tetapi juga sarana menumbuhkan kembali kebersamaan, mengenalkan satua atau cerita rakyat Bali, serta mengasah daya cipta generasi muda di tengah kemajuan zaman,” ungkap alumni LPK Sunglory Gianyar ini.

Terkait perkembangan teknologi, termasuk keberadaan kecerdasan buatan (AI), Kaduk menilai inovasi teknologi bisa dijadikan sumber inspirasi dalam berkesenian tanpa menghilangkan ruh kreativitas manusia.

“Teknologi kami apresiasi sebagai referensi, tapi tetap yang utama adalah gagasan dan sentuhan tangan seniman itu sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan bahan ramah lingkungan sejalan dengan nilai Jagat Kerthi, sebagai upaya menjaga keharmonisan alam Bali. Ke depan, ia berharap seluruh sekaa teruna di Bali semakin konsisten menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam pembuatan ogoh-ogoh.

Mengenai isu penggunaan undagi atau arsitek ogoh-ogoh lokal yang belakangan ramai diperbincangkan, pihaknya menilai setiap sekaa teruna memiliki pilihan masing-masing. “Yang terpenting, apapun sistem berkaryanya, tetap bertujuan ngajegang seni lan budaya Bali,” katanya.

Kaduk berharap, dalam jangka panjang keberadaan ogoh-ogoh di Badung mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi sektor pariwisata, sosial budaya, hingga ekonomi, sekaligus menyajikan karya-karya yang semakin inovatif setiap tahunnya. *m03

Komentar