nusabali

Komunitas Local Loyal, Merawat Budaya Lewat Ogoh-Ogoh Ramah Lingkungan

  • www.nusabali.com-komunitas-local-loyal-merawat-budaya-lewat-ogoh-ogoh-ramah-lingkungan

DENPASAR, NusaBali.com – Tak melulu dikerjakan oleh Sekaa Teruna (ST) di banjar-banjar, tradisi pembuatan ogoh-ogoh juga hidup di lingkup komunitas atau sekaa demen. Salah satunya Komunitas Local Loyal yang berlokasi di Jalan Kemuda No. 4, Lingkungan Banjar Tangguntiti Tonja, Denpasar Utara.

Menyambut Tahun Baru Saka 1948, komunitas ini telah memulai proses pembuatan ogoh-ogoh sejak awal November 2025. Karya mereka diharapkan bisa turut menyemarakkan malam Pangerupukan yang identik dengan kreativitas seni budaya Bali tersebut.

Penasihat Komunitas Local Loyal, I Made Adi Krisna yang akrab disapa Emong, mengatakan komunitas ini berdiri sejak tahun 2014 dan sejak awal konsisten berkecimpung dalam dunia seni ogoh-ogoh.

“Astungkara sejak awal berdiri sampai sekarang, setiap tahun kami selalu berkarya ogoh-ogoh walaupun kami bergerak di ranah sekaa demen, bukan sekaa teruna,” ujar Emong saat ditemui Minggu (23/11/2025).

Untuk karya tahun ini, proses pengerjaan dimulai lebih cepat mengingat padatnya aktivitas anggota, termasuk momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan. Selain itu, mereka ingin memaksimalkan kualitas karya dengan manajemen waktu yang lebih longgar.

“Kami sengaja start dari awal November supaya lebih leluasa mengatur waktu karena kesibukan teman-teman dan juga rangkaian hari raya,” jelasnya.

Pada ogoh-ogoh tahun 2026, Local Loyal menampilkan empat tokoh karakter dengan estimasi biaya sekitar Rp10 juta. Meski anggaran terbatas, mereka mengaku tetap berupaya menampilkan karya optimal.

“Tahun kemarin, Caka 1947, juga kami berkarya. Tahun ini dan tahun depan anggarannya kami tetapkan sekitar Rp10 juta. Dulu bahkan pernah di bawah angka itu,” beber Emong.

Sesuai nama komunitasnya, seluruh sumber daya manusia yang terlibat merupakan warga lokal tanpa campur tangan tenaga luar. Mulai dari pekerjaan konstruksi, pembentukan karakter, payasan, hingga pengecatan, semuanya dikerjakan internal komunitas.

“Semua kami kerjakan secara lokal. Tidak ada sentuhan dari luar. Ini betul-betul karya teman-teman sendiri,” tegasnya.

Dalam proses pengerjaannya, Local Loyal juga mematuhi aturan pemerintah dengan menggunakan bahan ramah lingkungan serta tidak menggunakan sistem suara tambahan (sound system) saat pementasan.

“Kami pastikan tetap mengikuti aturan. Berkarya boleh, tapi harus ingat dengan aturan yang berlaku dan tetap menjaga kebersihan lingkungan,” tambahnya.

Emong berharap, ke depan pemerintah dapat menyediakan lebih banyak ruang atau panggung bagi komunitas sekaa demen untuk menampilkan karya ogoh-ogoh, meskipun skalanya kecil.

“Kami ingin komunitas tidak dipandang sebelah mata. Dari skala kecil ini juga banyak yang bisa belajar membuat ogoh-ogoh,” ujarnya.

Target penyelesaian ogoh-ogoh rencananya dirampungkan H-10 Hari Raya Nyepi, sepanjang faktor cuaca dan kendala teknis tidak menghambat proses pengerjaan.

“Astungkara semoga semua berjalan lancar, tidak ada kericuhan, dan malam Pangerupukan nanti bisa berlangsung aman, tertib, serta penuh kreativitas,” pungkas Emong. *m03

Komentar