Enam Seniman Kritik Bali Lewat Karya Lukis
GIANYAR, NusaBali - Enam seniman yang tergabung dalam kelompok Sad Rasa menawarkan perspektif berbeda melalui pameran bertajuk Paradiso. Mereka menuangkan kegelisahan dan kritik sosial di atas kanvas mengenai kondisi Pulau Dewata yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.
Pameran digelar di Museum Arma, Ubud, Gianyar ini akan dibuka secara resmi pada Sabtu (6/12). Keenam seniman yang terlibat yakni I Made Gunawan, I Wayan Santrayana, I Ketut Kabul Suasana Kabul, I Made Sutaryana, I Ketut Suwidiarta, dan I Wayan Gede Budayana.
Mereka menghadirkan 24 karya seni lukis yang menjadi renungan artistik atas kerusakan alam, pergeseran budaya, hingga tata kelola pemerintahan di Bali. Direktur Museum Arma, Anak Agung Yudi Sadona, mengungkapkan pameran ini merupakan hasil proses diskusi panjang mengenai kekinian Bali dan perkembangan pariwisatanya. Menurutnya, seniman memiliki sensitivitas jenius untuk menangkap fenomena sosial dan menyampaikannya kembali kepada publik. “Harapan saya selaku direktur museum, selain edukasi, pameran ini mampu menggugah audiens. Pesan bahwa Bali sedang tidak baik-baik saja ini disampaikan lewat cara yang kreatif, bukan paksaan. Ini adalah sumbangsih seniman kepada Bali,” ujar Agung Yudi di Jumat, (5/12).
Kurator pameran, Arya Suharja, menjelaskan Paradiso diambil dari paradigma yang lebih luas untuk menggambarkan seniman yang telah mengalami ‘kelahiran kedua’. “Kelahiran pertama adalah kelahiran alamiah sebagai putra Bali dengan DNA artistik. Kelahiran kedua adalah saat mereka melalui pendidikan seni, berorientasi pada sejarah seni, dan bertemu paradigma yang lebih luas. Mereka menitipkan pesan kegelisahan dalam karya-karya yang tersistem dan berani,” jelas Arya. Para seniman menerjemahkan tema Paradiso melalui pendekatan visual yang beragam, namun bermuara pada satu pesan, ironi.
Seniman Wayan Gede Budayana, misalnya, menampilkan lima karya dengan warna-warna yang sengaja dibuat tidak harmonis dan bertabrakan (full color). “Bali katanya surga terakhir, tapi saya melihat sisi berbeda. Warna yang tidak harmonis ini adalah media untuk menunjukkan sisi gelap, kontradiksi, dan dinamika yang mengacu pada pengrusakan,” tegas Budayana. Sementara Ketut Suwidiarta memilih nuansa hitam dan simbol-simbol khusus dalam tiga karyanya. Dia menyoroti bahwa alam sejatinya baik-baik saja, namun manusianya yang menjadi sumber masalah. “Ini tanggung jawab kami sebagai seniman untuk membaca fenomena. Tema surga menjadi pilihan untuk merefleksikan bagaimana orang luar melihat Bali, berbanding terbalik dengan realitanya,” ujarnya.
Made Gunawan mengangkat isu lingkungan melalui metafora kisah Pedanda Baka (bangau yang menipu ikan). Dia mengingatkan jika alam tidak dijaga dan dipenuhi tipu daya, bencana adalah keniscayaan. Perspektif filosofis dihadirkan oleh Wayan Santrayana. Mengacu pada lontar Sanggama Tatu, dia meluruskan pandangan tentang seksualitas yang sering disalahartikan. Dia mengkritik eksploitasi terhadap ibu (pertiwi) yang kini memikul beban berat dan dilecehkan atas nama keinginan, bukan kebutuhan. “Kaitannya dengan Paradiso, di Bali saat ini sudah sangat melenceng. Manfaatkan alam sesuai kebutuhan, bukan keinginan,” tutur Santrayana.
Sutarjaya memotret keprihatinan terhadap seni budaya. Dia menggambarkan penari Bali yang auranya mulai redup, tidak lagi bersinar seperti masa kecilnya dulu. Pameran Paradiso di Museum Arma ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi masyarakat dan pemangku kebijakan untuk kembali menata Bali, menjaga keseimbangan alam, dan memuliakan manusianya. 7 nvi
Komentar