Atasi Kekurangan Dokter Spesialis, Pemkab Buleleng Tawarkan Subsidi UKT
"Rekrutmen dokter spesialis selalu kosong. Kemungkinan dokter lebih memilih daerah selatan karena kemampuan ekonomi masyarakatnya lebih tinggi"
SINGARAJA, NusaBali
Pemkab Buleleng menyiapkan skema khusus untuk mempercepat pemenuhan dokter spesialis dan subspesialis di RSUD Buleleng yang hingga kini masih minim. Salah satu langkah utama yang ditempuh adalah pemberian subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi dokter spesialis yang ingin melanjutkan pendidikan ke subspesialis.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyampaikan hal itu pada Jumat (5/12). Dia menegaskan bahwa kebutuhan dokter spesialis di RSUD Buleleng masih jauh dari ideal, sementara rekrutmen tenaga medis spesialis selama ini sering tidak terisi.
“Rekrutmen dokter spesialis selalu kosong. Kemungkinan dokter lebih memilih daerah selatan karena kemampuan ekonomi masyarakatnya lebih tinggi,” ujar Sutjidra.
Menurut Bupati, kondisi dokter di tingkat layanan dasar sudah relatif terpenuhi. Seluruh Puskesmas dari ujung barat hingga timur Buleleng sudah memiliki dokter umum. Namun kebutuhan tenaga spesialis di RSUD Buleleng masih mendesak, terutama untuk memenuhi standar rumah sakit rujukan. “Kalau RSUD ingin jadi rujukan regional bahkan nasional, semua subspesialis harus lengkap,” imbuh dia.
Melihat kebutuhan itu, Pemkab merancang dua skema strategis. Pertama penambahan insentif bagi dokter spesialis yang bersedia bertugas di Buleleng, dan subsidi UKT bagi dokter yang ingin melanjutkan pendidikan subspesialis. Bantuan UKT diberikan penuh selama masa pendidikan maksimal 2,5 tahun.
Dokter penerima wajib mengajukan permohonan resmi, mendapatkan dispensasi meninggalkan tugas, dan tetap menerima hak kepegawaiannya. Setelah selesai pendidikan, mereka wajib kembali mengabdi di Buleleng.
Sutjidra memaparkan bahwa kebutuhan subspesialis di RSUD Buleleng mencakup berbagai bidang, seperti penyakit dalam, bedah, anak, dan kandungan. Masing-masing bidang memiliki beberapa turunan subspesialis yang harus dipenuhi. Spesialis bedah misalnya, memiliki turunan subspesialis bedah saraf, torak, ginjal, tulang, hingga tulang belakang. “Buleleng masih kurang banyak. Ini yang kita dorong agar dokter-dokter muda mau meningkatkan kompetensinya,” jelas Sutjidra.
Selain dokter spesialis, Pemkab juga memetakan kebutuhan tenaga kesehatan pendukung seperti perawat, analis radiologi, laboratorium, gizi, hingga tenaga rekam medis. Pemenuhan SDM kesehatan menjadi penting mengingat RSUD Tangguwisia dan RSUD Giri Emas, milik Pemkab Buleleng juga direncanakan terus dikembangkan.7 k23
Komentar