nusabali

Kebutuhan Dalam Negeri Tinggi, Ribuan Terapis Bali Pilih Kerja ke Luar Negeri

  • www.nusabali.com-kebutuhan-dalam-negeri-tinggi-ribuan-terapis-bali-pilih-kerja-ke-luar-negeri

MANGUPURA, NusaBali.com – Indonesia, khususnya Bali, tengah menghadapi krisis tenaga terapis spa dan wellness. Dari sekitar 13.000 terapis yang tergabung dalam Bali Spa and Wellness Association (BSWA), sekitar 50 persen atau 6.000–7.000 orang memilih bekerja ke luar negeri dibandingkan mengabdi di dalam negeri.

Padahal, kebutuhan tenaga terapis di Bali sendiri mencapai lebih dari 14.000 orang, seiring banyaknya usaha spa dan layanan kebugaran di Pulau Dewata.

Wakil Ketua BSWA Feny Sri Sulistiawati, Jumat (5/12/2025), mengatakan besarnya minat terapis hijrah ke luar negeri utamanya disebabkan perbedaan upah yang cukup signifikan.

“Permintaan terapis di Bali sebenarnya sangat besar. Namun, banyak yang memilih ke luar negeri karena faktor gaji. Di dalam negeri, rata-rata upah masih mengacu UMR sekitar Rp3,2 juta, sementara di luar negeri bisa mencapai USD 600–1.000 per bulan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, secara nasional Indonesia memiliki sekitar 13 ribu terapis bersertifikasi, namun hanya sekitar 30 persen yang saat ini aktif bekerja di dalam negeri. Sisanya memilih bekerja ke luar negeri atau bahkan menganggur.

“Di sini sebenarnya kita krisis terapis, padahal peluang kerjanya besar terutama di Bali,” ungkap Feny.

Menurutnya, salah satu negara tujuan favorit para terapis adalah Turki. Bahkan, Dinas Tenaga Kerja Gianyar telah menjalin kerja sama dengan pihak Turki dan membutuhkan sedikitnya 200 terapis untuk diberangkatkan dalam waktu dekat.

“Masyarakat Bali banyak tertarik menjadi terapis karena melihat besarnya gaji dan komisi di luar negeri,” katanya.

Feny juga menyoroti masih adanya persoalan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) wellness di dalam negeri, termasuk soal kejelasan pendidikan terapis apakah berbasis D3 atau D4, yang dinilai masih belum tertata optimal.

“Kita justru banyak mengimpor produk wellness karena SDM terapis kita belum dikelola secara maksimal,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan tenaga terapis, BSWA secara rutin menggelar pelatihan, termasuk penguatan kesehatan mental. Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya kasus gangguan mental di Bali hingga 300 persen dalam setahun terakhir.

“Akhir tahun ini kami mengadakan seminar mental health untuk para terapis. Sebelum memberikan terapi pada orang lain, mereka juga harus sehat secara mental,” katanya.

Upaya yang diberikan meliputi penguatan kesadaran diri, penghargaan terhadap diri sendiri, dan pelatihan intuisi. Menurut Feny, pendekatan tersebut penting untuk menjaga kestabilan mental pekerja wellness.

“Banyak orang tidak sadar dengan masalah yang ada pada dirinya, sehingga mudah menyalahkan orang lain. Ini yang kami fokuskan agar para terapis punya kesadaran diri,” jelasnya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 75 manajer spa, 55 terapis, serta dimeriahkan dengan kompetisi facial treatment yang diikuti 17 terapis dari berbagai wilayah di Bali. *may

Komentar