Tetesan Air Selamatkan Budiasa dari Maut Pohon Tumbang Sangeh
pohon tumbang
Alas Pala Sangeh
Sangeh Monkey Forest
Pura Pucak Sari
Cuaca Ekstrem
Angin Puting Beliung
Penyintas
Korban Selamat
MANGUPURA, NusaBali.com – Tragedi pohon tumbang di DTW Alas Pala Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung menyisakan kesedihan bagi keluarga korban meninggal—dan berdampak traumatis bagi penyintas seperti Ketut Budiasa, 55, yang selamat dari peristiwa mencekam tersebut.
Rabu (3/12/2025), Budiasa sedang menjalankan tugas piket Desa Adat Sangeh sebagai juru resik di Pura Pucak Sari yang berada di tengah Alas Pala. Karena masih ada rangkaian pasca pujawali jelih, beberapa bentuk upacara masih berjalan sehingga perlu dijaga dari aksi nakal kera dan dibersihkan.
Krama Banjar Pemijian ini tidak berfirasat apa pun ketika sedang bertugas—meskipun langit mulai gelap karena diselimuti awan mendung. Sekitar pukul 14.00 WITA, Rabu siang, Budiasa beristirahat di bale pasandekan yang berada di sisi timur madya mandala Pura Pucak Sari usai menyelesaikan kegiatan bersih-bersihnya bersama dua rekan lain.
“Setelah beristirahat di sana, mungkin saya sempat tertidur. Kemudian, muka saya merasakan tetesan air yang entah datangnya dari mana karena saya tidak terlalu menghiraukan,” ungkap Budiasa kepada NusaBali.com ketika ditemui di Pura Pucak Sari, Kamis (4/12/2025).
Akibat tetesan air itu, Budiasa terbangun—tidak untuk berpindah tempat tetapi berusaha menutupi wajahnya dengan destar agar tidak kena tetesan air. Meski sudah ditutup destar, ia masih merasakan adanya tetesan air di wajah dan berusaha menutupi bagian kepala dengan peralatan yang ada didekatkannya.
“Saya tidak tahu apa itu air hujan yang tampias atau atap bangunan yang bocor, tetapi itu seolah-olah menjadi pertanda,” beber Budiasa.
Terlepas dari sumber tetesan air tersebut, hal ini membuat Budiasa tetap terjaga dari tidur sehingga ia awas dengan situasi sekitarnya. Sebab, tidak berselang lama, pohon pala tiba-tiba tumbang menimpa gedong wastra yakni bangunan tepat di sebelah selatan tempatnya beristirahat di madya mandala Pura Pucak Sari.
“Saya langsung lari karena ada kayu tumbang di sebelah saya, saat itu juga terdengar suara pohon tumbang bertubi-tubi. Mau lari keluar ke arah selatan (nista mandala), tapi saya lihat bale gong di sana sudah tertimpa pohon,” ungkap Budiasa.
Melihat situasi tersebut, Budiasa mengurungkan niatnya berlari ke selatan. Ia kemudian keluar memanfaatkan pintu samping di madya mandala—tepat di utara bale pasandekan tempatnya beristirahat. Budiasa terus berlari ke arah utara sampai ke persawahan yang ada di utara Alas Pala.
“Saya lari ke utara sambil teriak, ‘Pesu… pesu..!’ (keluar… keluar..!) karena saya piket di Pura bersama dua orang rekan lainnya. Ketika sedang berlari itu pun pohon masih bertumbangan di sekitar saya,” kata Budiasa berusaha mengingat kembali pengalaman mencekam itu.
Setelah berhasil keluar dari hutan pala, Budiasa lantas teringat empat staf pengelola DTW Alas Pala yang berteduh di bale gong di nista mandala—bangunan yang sebelumnya ia lihat sudah ambruk tertimpa pohon. Ia kemudian mengingatkan rekannya yang lebih muda agar segera memanggil rekan lain jika ada teriakan orang kesakitan.
“Setelah kejadian itu, drop rasanya, traumatis. Kalau diingat-ingat itu luar biasa mencekam. Tetapi, namanya alam, saya mencoba sedikit lebih tenang—walaupun saya juga merasa sakit karena waktu saya berhasil keluar itu, saya punya feeling Gus Nyoman (korban meninggal) ada di bawah bale gong,” tutur Budiasa sambil berkaca-kaca.
Meski begitu, kala itu Budiasa berusaha meyakinkan dirinya bahwa sahabatnya, IB Nyoman Suamba, 51, dan tiga staf lain ada kemungkinan sudah berlari keluar hutan pala dan selamat. Namun, di saat yang sama, ia tetap meminta rekannya yang lebih muda dan lebih bugar untuk melihat keadaan di dalam.
“Karena saya kenal baik dengan beliau (korban meninggal). Sepengalaman saya, beliau adalah pribadi yang baik dan jujur, tidak egois, dan beliau adalah pribadi yang dikenal irit bicara. Kami semua merasa kehilangan,” tandas Budiasa dengan lirih. *rat
Krama Banjar Pemijian ini tidak berfirasat apa pun ketika sedang bertugas—meskipun langit mulai gelap karena diselimuti awan mendung. Sekitar pukul 14.00 WITA, Rabu siang, Budiasa beristirahat di bale pasandekan yang berada di sisi timur madya mandala Pura Pucak Sari usai menyelesaikan kegiatan bersih-bersihnya bersama dua rekan lain.
“Setelah beristirahat di sana, mungkin saya sempat tertidur. Kemudian, muka saya merasakan tetesan air yang entah datangnya dari mana karena saya tidak terlalu menghiraukan,” ungkap Budiasa kepada NusaBali.com ketika ditemui di Pura Pucak Sari, Kamis (4/12/2025).
Akibat tetesan air itu, Budiasa terbangun—tidak untuk berpindah tempat tetapi berusaha menutupi wajahnya dengan destar agar tidak kena tetesan air. Meski sudah ditutup destar, ia masih merasakan adanya tetesan air di wajah dan berusaha menutupi bagian kepala dengan peralatan yang ada didekatkannya.
“Saya tidak tahu apa itu air hujan yang tampias atau atap bangunan yang bocor, tetapi itu seolah-olah menjadi pertanda,” beber Budiasa.
Terlepas dari sumber tetesan air tersebut, hal ini membuat Budiasa tetap terjaga dari tidur sehingga ia awas dengan situasi sekitarnya. Sebab, tidak berselang lama, pohon pala tiba-tiba tumbang menimpa gedong wastra yakni bangunan tepat di sebelah selatan tempatnya beristirahat di madya mandala Pura Pucak Sari.
“Saya langsung lari karena ada kayu tumbang di sebelah saya, saat itu juga terdengar suara pohon tumbang bertubi-tubi. Mau lari keluar ke arah selatan (nista mandala), tapi saya lihat bale gong di sana sudah tertimpa pohon,” ungkap Budiasa.
Melihat situasi tersebut, Budiasa mengurungkan niatnya berlari ke selatan. Ia kemudian keluar memanfaatkan pintu samping di madya mandala—tepat di utara bale pasandekan tempatnya beristirahat. Budiasa terus berlari ke arah utara sampai ke persawahan yang ada di utara Alas Pala.
“Saya lari ke utara sambil teriak, ‘Pesu… pesu..!’ (keluar… keluar..!) karena saya piket di Pura bersama dua orang rekan lainnya. Ketika sedang berlari itu pun pohon masih bertumbangan di sekitar saya,” kata Budiasa berusaha mengingat kembali pengalaman mencekam itu.
Setelah berhasil keluar dari hutan pala, Budiasa lantas teringat empat staf pengelola DTW Alas Pala yang berteduh di bale gong di nista mandala—bangunan yang sebelumnya ia lihat sudah ambruk tertimpa pohon. Ia kemudian mengingatkan rekannya yang lebih muda agar segera memanggil rekan lain jika ada teriakan orang kesakitan.
“Setelah kejadian itu, drop rasanya, traumatis. Kalau diingat-ingat itu luar biasa mencekam. Tetapi, namanya alam, saya mencoba sedikit lebih tenang—walaupun saya juga merasa sakit karena waktu saya berhasil keluar itu, saya punya feeling Gus Nyoman (korban meninggal) ada di bawah bale gong,” tutur Budiasa sambil berkaca-kaca.
Meski begitu, kala itu Budiasa berusaha meyakinkan dirinya bahwa sahabatnya, IB Nyoman Suamba, 51, dan tiga staf lain ada kemungkinan sudah berlari keluar hutan pala dan selamat. Namun, di saat yang sama, ia tetap meminta rekannya yang lebih muda dan lebih bugar untuk melihat keadaan di dalam.
“Karena saya kenal baik dengan beliau (korban meninggal). Sepengalaman saya, beliau adalah pribadi yang baik dan jujur, tidak egois, dan beliau adalah pribadi yang dikenal irit bicara. Kami semua merasa kehilangan,” tandas Budiasa dengan lirih. *rat
Komentar