nusabali

Ratusan Triliun Kredit Tersalur di Bali, Mayoritas Bukan untuk Lapangan Usaha

  • www.nusabali.com-ratusan-triliun-kredit-tersalur-di-bali-mayoritas-bukan-untuk-lapangan-usaha

DENPASAR, NusaBali.com – Penyaluran kredit perbankan di Provinsi Bali hingga September 2025 mencapai Rp117,74 triliun atau tumbuh 6,30 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 yang tercatat 6,12 persen yoy. Namun, sebagian besar kredit masih mengalir ke sektor bukan lapangan usaha.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu, Kamis (4/12/2025), mengatakan berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit masih didorong oleh kredit investasi yang naik sebesar Rp4,62 triliun atau tumbuh 13,66 persen yoy (Agustus 2025: 13,52 persen yoy).

“Tingginya pertumbuhan kredit investasi mencerminkan masih kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek perekonomian Bali,” ujarnya.

Dari sisi kategori debitur, 51,45 persen kredit di Bali disalurkan kepada sektor UMKM dengan pertumbuhan 2,94 persen yoy. Porsi dan pertumbuhan kredit UMKM di Bali lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional.

Namun, jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit masih didominasi sektor Bukan Lapangan Usaha sebesar 33,61 persen dengan pertumbuhan 5,01 persen yoy, disusul Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 27,84 persen dengan pertumbuhan 0,89 persen yoy.

Pertumbuhan kredit turut ditopang kenaikan penyaluran pada sektor Penyediaan Akomodasi serta Makan Minum yang meningkat sebesar Rp1,93 triliun atau tumbuh 15,41 persen yoy. Sementara sektor penerima kredit Bukan Lapangan Usaha bertambah sebesar Rp1,89 triliun.

OJK mencatat kualitas kredit perbankan Bali tetap terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,82 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,42 persen. Sedangkan NPL net tercatat 1,96 persen, turun dari 2,32 persen pada September 2024.

Penyelesaian kredit restrukturisasi serta ekspansi kredit berdampak pada penurunan Loan at Risk (LaR) menjadi 9,99 persen, membaik dibandingkan posisi September 2024 yang sebesar 13,43 persen.

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Bali mencapai Rp208,25 triliun atau tumbuh 10,12 pers
en yoy, lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025 sebesar 9,59 persen yoy. Pertumbuhan DPK terutama ditopang oleh kenaikan tabungan sebesar Rp9,98 triliun.

Fungsi intermediasi perbankan tetap positif, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 56,54 persen.

Ketahanan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Bali juga dinilai tetap kuat. Hal tersebut tercermin dari Cash Ratio (CR) sebesar 15,45 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 31,43 persen, keduanya berada di atas ambang batas ketentuan dan menjadi bantalan mitigasi risiko terhadap ketidakpastian global.

Berdasarkan berbagai indikator tersebut, OJK menilai kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali hingga September 2025 tetap stabil. Likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level memadai, sementara fungsi intermediasi berjalan dengan baik.

Kinerja sektor keuangan tersebut mendukung ketahanan ekonomi Bali yang tumbuh 5,88 persen yoy pada triwulan III 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,04 persen, sekaligus menempatkan Bali di posisi keempat tertinggi secara nasional.

OJK mencatat, kinerja intermediasi perbankan, baik bank umum maupun BPR, berdasarkan lokasi bank di Bali hingga September 2025 menunjukkan kondisi yang solid. *may

Komentar