Dituding Melarikan Diri dan Rekayasa Penculikan, Mr Terima Kasih Angkat Bicara
DENPASAR, NusaBali.com — Sorotan tajam mengarah kepada influencer asal Rusia, Sergeii Domogatsky, yang dikenal publik dengan julukan Mr Terima Kasih. Ia dituding merekayasa kasus penculikan yang menimpanya serta disebut-sebut melarikan diri ke luar negeri untuk menghindari proses hukum di Indonesia. Tuduhan tersebut langsung dibantah keras oleh Sergeii.
“Informasi bahwa penculikan saya itu palsu atau settingan adalah fitnah. Semua itu tidak benar dan sengaja disebarkan untuk merusak nama baik saya,” tegas Sergeii saat memberikan klarifikasi secara daring kepada media, Kamis (4/12/2025).
Sergeii menilai tudingan penculikan rekayasa tidak masuk akal. Menurutnya, aparat kepolisian telah mengantongi sejumlah bukti penting terkait peristiwa tersebut, mulai dari kendaraan yang digunakan para pelaku hingga keterangan para saksi di sekitar lokasi. Salah satu saksi yang diperiksa adalah petugas keamanan setempat.
“Kalau ini hanya settingan, bagaimana mungkin polisi bisa menemukan mobil yang dipakai, memeriksa saksi, dan mengumpulkan bukti-bukti kuat di lapangan?” ujarnya mempertanyakan.
Ia menegaskan, dari hasil penyelidikan sementara, polisi telah menemukan fakta yang menguatkan bahwa penculikan tersebut benar-benar terjadi. Sergeii juga mengingatkan agar kasus penculikan tidak dicampuradukkan dengan perkara lain yang kini juga menjerat namanya, yakni dugaan penipuan investasi properti.
“Kasus penculikan ini adalah tindak pidana yang menyangkut keamanan di Bali dan nama baik daerah. Ini perkara serius yang harus diprioritaskan dan tidak boleh dicampur dengan tudingan penipuan,” katanya.
Sergeii menyebut salah satu saksi kunci merupakan petugas keamanan di sekitar lokasi kejadian. Ia juga meyakini dua orang berinisial AG dan A terlibat dalam peristiwa penculikan tersebut.
Ia mengisahkan detik-detik saat dirinya dilepaskan dan dibuang di area kosong dekat Hotel Apurva Kempinski, Nusa Dua. Seorang pria bertubuh besar, berkepala botak, dan berjenggot panjang mengantarnya ke lokasi itu.
“Ciri-cirinya sangat mirip dengan A (menyebut nama. Red). Walau malam gelap, saya yakin orang yang membawa saya ke sana adalah dia,” ungkap Sergeii.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penentuan pihak yang bersalah sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum.
“Biarlah fakta penyelidikan yang membuktikan semuanya. Saya sepenuhnya mempercayakan kasus ini kepada polisi,” imbuhnya.
Tak hanya soal penculikan, Sergeii juga membantah isu bahwa dirinya kabur ke luar negeri untuk menghindari pemeriksaan, terutama terkait puluhan laporan dugaan penipuan investasi properti yang kini ditangani Direktorat Siber Polda Bali.
“Kabar saya kabur itu bohong. Itu sengaja dibangun untuk merusak reputasi saya,” katanya.
Ia mengakui saat ini memang berada di luar Indonesia, namun bukan dalam rangka menghindari hukum.
“Saya khawatir terhadap keselamatan saya karena ada ancaman mafia. Tetapi jika dipanggil polisi atau Polda Bali, saya siap datang kapan pun,” tegasnya.
Sergeii menyatakan telah menunjuk penasihat hukum di Indonesia untuk mengawal seluruh proses hukum yang berjalan.
“Semua komunikasi dan langkah hukum diwakili pengacara saya di Indonesia. Saya akan tetap kooperatif mengikuti semua prosedur hukum,” ujarnya.
Ia kembali menekankan bahwa perkara penculikan harus dipisahkan dari dugaan penipuan investasi properti yang dilaporkan oleh 29 warga negara asing dengan total nilai kerugian sekitar Rp80 miliar.
“Isu penculikan palsu dan kabar saya kabur dibangun untuk menjatuhkan saya. Tujuannya satu, merusak nama baik saya di mata publik,” tandas Sergeii.
Ia berharap masyarakat tidak terpengaruh isu liar di media sosial dan menunggu hasil resmi penyelidikan.
“Kebenaran hanya bisa terungkap melalui proses hukum, bukan melalui rumor,” pungkasnya.
Komentar