Berkat Program Pelestarian Budaya Konsisten
Museum Lontar Gedong Kirtya Terus Diperhitungkan Nasional
“Walaupun masih nominasi, kami tetap bersyukur. Koleksi lontar itu bagi sebagian orang dianggap remeh, tapi justru itu yang mungkin menjadi daya tarik bagi tim penilai”
SINGARAJA, NusaBali
Upaya pelestarian budaya yang dikerjakan Museum Lontar Gedong Kirtya Buleleng kembali mendapat pengakuan nasional. Museum yang selama ini identik dengan koleksi lontar tersebut kembali masuk nominasi Indonesia Museum Award (IMA) 2025.
Tahun ini, Gedong Kirtya masuk nominasi kategori Museum Project Competition bersama sejumlah museum besar lain di Indonesia. Ajang tersebut digelar Komunitas Jelajah pada Minggu (24/11) di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam kategori ini, nominasi diberikan kepada Museum Sandi, Museum Geologi, Museum Lontar UPTD Gedong Kirtya, Museum Keraton Yogyakarta, Cemara 6 Galeri Toeti Heraty Museum, dan Museum Perkebunan Indonesia. Adapun pemenangnya adalah Museum Keraton Yogyakarta, Museum Perkebunan Indonesia, dan Museum Geologi.
Pengakuan ini dinilai menjadi bukti bahwa museum berbasis manuskrip tradisional pun mampu bersaing di level nasional lewat program-program edukatif yang konsisten. Kepala UPTD Museum Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati, Senin (1/12), mengatakan nominasi ini bermula dari permintaan panitia agar museum mengajukan program-program kegiatan. Museum Gedong Kirtya, kemudian mengajukan program kelas belajar menulis aksara Bali di atas daun lontar dan sejumlah lomba budaya yang baru digelar.
.jpg)
“Ternyata mereka tertarik, lalu kami dikirimi surat bahwa Gedong Kirtya masuk nominasi,” ujar Susilawati seizin Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng I Nyoman Wisandika.
Susilawati bersama Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng kemudian hadir langsung dalam malam penganugerahan. Dia mengaku bersyukur Gedong Kirtya dapat kembali diperhitungkan di antara hampir 600 museum se-Indonesia. “Walaupun masih nominasi, kami tetap bersyukur. Koleksi lontar itu bagi sebagian orang dianggap remeh, tapi justru itu yang mungkin menjadi daya tarik bagi tim penilai,” kata dia.
Ditanya soal arah pengembangan museum ke depan, Susilawati menegaskan pihaknya terus mendorong pembaruan tata kelola dan inovasi layanan. Menurutnya, menilai paradigma museum sudah berubah. Museum bukan lagi dipandang sebagai gudang benda lama, tetapi tempat wisata budaya, edukasi, dan ruang belajar yang menyenangkan. “Idealnya orang datang ke museum mendapat pengetahuan dengan cara yang fun. Seperti saat pameran rempah, pengunjung tak hanya melihat rempah sebagai bumbu dapur, tapi memahami kaitannya dengan budaya,” imbuh Susilawati.
Museum juga tengah mengarah pada pemanfaatan teknologi agar ramah bagi semua kalangan. Dia berharap kedepannya Museum Gedong Kirtya dapat mengedukasi per-lontaran melalui animasi yang mudah dipahami semua kalangan. Dia pun menginginkan Museum Gedong Kirtya kedepannya menjadi salah satu tujuan utama wisatawan, yang selama ini ketika berkunjung ke Buleleng hanya mengunjungi Pantai Lovina dengan daya tarik dolpinnya yang ikonik.7 k23
Komentar