nusabali

Hindari Kejaran Deadline, ST Wiweka Yowana Garap Ogoh-Ogoh Sejak November

  • www.nusabali.com-hindari-kejaran-deadline-st-wiweka-yowana-garap-ogoh-ogoh-sejak-november

MANGUPURA, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Wiweka Yowana, Banjar Tegal Permai, Perumahan Dalung Permai, Jalan Tegal Permai, Kelurahan Kerobokan Kaja, Kecamatan Kuta Utara, mulai lebih awal menggarap Ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Tahun Baru Caka 1948.

Ketua ST Wiweka Yowana, Made Deo Mahesa Yoga, menyampaikan proses persiapan telah diawali sejak awal November dengan kegiatan ngonsep, nuasen, hingga pengadaan bahan. Sementara pengerjaan fisik atau eksekusi Ogoh-ogoh dimulai pada 17 November 2025.

“Kami mulai dari ngonsep, nuasen, lalu persiapan bahan sejak awal November. Untuk eksekusi pengerjaan mulai 17 November,” kata Deo, 22, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Warmadewa.

Pada Caka 1948 ini, ST Wiweka Yowana menganggarkan dana sekitar Rp30 juta. Ogoh-ogoh yang tengah digarap menampilkan tiga tokoh karakter dengan mengutamakan penggunaan bahan bambu, koran, serta material daur ulang ramah lingkungan, sesuai regulasi pemerintah Kabupaten Badung yang melarang penggunaan gabus, sterofoam, maupun spons dalam pembuatan Ogoh-ogoh.

“Material yang kami pakai mayoritas bambu dan koran bekas. Kami taat aturan, tidak menggunakan gabus atau spons,” jelasnya.

Antusiasme pemuda Banjar Tegal Permai disebut sangat tinggi. Pemilihan waktu mulai yang lebih awal juga dilakukan untuk mengantisipasi terpotongnya jadwal pengerjaan akibat rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan, sehingga proses tetap berjalan tanpa menumpuk menjelang batas waktu.

“Kami belajar dari tahun-tahun sebelumnya, start agak lambat sehingga harus kejar-kejaran dengan deadline. Tahun ini kami mulai lebih awal supaya pengerjaan lebih santai dan hasil bisa maksimal, mengingat teman-teman ST juga punya kesibukan masing-masing,” ujarnya.

Deo menilai perkembangan seni Ogoh-ogoh dari tahun ke tahun semakin pesat, termasuk peluang kolaborasi dengan teknologi, seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

“Ke depan semoga antusias pemuda Bali makin meningkat. Ogoh-ogoh menjadi wadah menyalurkan kreativitas, bukan hanya seni rupa, tapi juga ide-ide teknologi,” ucapnya.

Ia mencontohkan perkembangan di Caka 1947 atau Nyepi 2025 lalu, ketika kualitas Ogoh-ogoh terlihat semakin megah, inovatif, dan beragam ide kreatif bermunculan, baik dalam karya besar maupun lomba Ogoh-ogoh mini.

“Sekarang bukan hanya kalangan dewasa, pelajar pun sudah banyak yang bisa membuat Ogoh-ogoh. Ini menjadi perubahan besar dalam upaya menjaga budaya Bali di tengah gempuran zaman,” ujarnya.

Terkait konsep ramah lingkungan, Deo menilai istilah tersebut di era modern lebih tepat dimaknai sebagai pemanfaatan bahan daur ulang, mengingat sebagian besar material pembuatan kini merupakan hasil produksi pabrik.

“Mungkin sekarang lebih tepat disebut bahan daur ulang, karena kita mengolah limbah menjadi karya seni bernilai. Tapi upaya ini sangat baik untuk mengurangi sampah, khususnya sampah plastik yang masih menjadi persoalan di Bali,” pungkasnya. *m03

Komentar