nusabali

Tak Tunggu Lomba, Banjar Kayu Putih Bebandem Gas Ogoh-Ogoh Sejak Oktober

  • www.nusabali.com-tak-tunggu-lomba-banjar-kayu-putih-bebandem-gas-ogoh-ogoh-sejak-oktober

AMLAPURA, NusaBali.com – Sekaa Teruna Taru Wira Guna Banjar Kayu Putih, Desa Adat Bebandem, Kecamatan Karangasem mulai melakukan pengerjaan Ogoh-ogoh sebagai persiapan menyambut Tahun Baru Caka 1948 pada 2026 mendatang. Pengerjaan sudah dimulai lebih awal sejak 26 Oktober 2025, meski hingga kini belum ada kepastian apakah akan digelar lomba Ogoh-ogoh tingkat Kabupaten Karangasem pada tahun depan.

Arsitek sekaligus kreator Ogoh-ogoh ST Taru Wira Guna, I Komang Agus Handika alias Koming TST, mengatakan langkah memulai pengerjaan lebih dini dilakukan agar persiapan bisa lebih maksimal tanpa mengganggu aktivitas kerja dan kehidupan keluarga.

“Kami mulai start pengerjaan Ogoh-ogoh sejak 26 Oktober 2025 dalam rangka menyambut Tahun Baru Caka 1948. Kami siapkan anggaran sekitar Rp15 juta. Walaupun harga bahan semakin naik, kami tidak menjadikan besarnya biaya sebagai acuan utama berkarya. Dengan budget sekitar itu kami maksimal memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Karangasem,” ujar Koming.

Koming, meski statusnya sudah bukan anggota Sekaa Teruna aktif dan telah menjadi krama banjar, kepercayaan yang diberikan tetap besar untuk menggarap Ogoh-ogoh di Banjar Kayu Putih.

“Walaupun saya sudah bukan anggota ST lagi, tapi kecintaan terhadap seni Ogoh-ogoh dan kepercayaan dari adik-adik di ST membuat saya tetap terlibat,” kata pemuda 31 tahun yang saat ini bekerja di Mitra Prodin Gianyar.

Untuk karya tahun ini, ST Taru Wira Guna menampilkan satu karakter tokoh dengan mengedepankan konsep ramah lingkungan. Seluruh bahan dibuat dari material daur ulang serta bahan alam lokal. Dari sisi konstruksi menggunakan rangka besi, kerangka dasar anyaman bambu, sementara pembentukan anatomi memanfaatkan koran bekas yang direkatkan dengan plester kertas.

“Kami memakai bahan yang ramah lingkungan. Koran bekas, kardus, botol air mineral, semua kami manfaatkan kembali untuk berkarya,” jelas lulusan SMK Negeri 1 Abang, jurusan otomotif ini.

Menurut Koming, penggunaan bahan ramah lingkungan sejalan dengan tema Provinsi Bali 2025, Jagat Kerthi, yang bermakna memuliakan alam semesta.

“Melalui Ogoh-ogoh, kami juga ingin turut menjaga lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusaknya secara berlebihan,” ujarnya.

Antusiasme krama dan pemuda Banjar Kayu Putih disebut sangat tinggi dalam menyambut Tahun Baru Caka 1948. Kekompakan menjadi modal utama agar Ogoh-ogoh bisa diselesaikan tepat waktu dengan kualitas maksimal.

Terkait perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Koming menilai kolaborasi teknologi dengan seni Ogoh-ogoh merupakan hal positif.

“Teknologi sangat bagus dipadukan dengan karya seni dan harus terus dikembangkan. Tapi tetap jangan sampai menghilangkan pakem Ogoh-ogoh itu sendiri,” tegasnya.

Ia juga menilai karakter Ogoh-ogoh di tiap daerah memiliki kekhasan berbeda. Gianyar, terutama Tampaksiring, dikenal kuat pada detail anatomi. Wilayah Pecatu, Badung Selatan, unggul pada konstruksi ekstrem dan kemewahan payasan. Denpasar kuat pada kualitas finishing.

“Kalau Karangasem cenderung lebih sederhana dan memang belum terlalu terekspos ciri khasnya. Sekarang mulai ada kolaborasi pakem antar daerah, misalnya anatomi tampaksiring dipadukan dengan gaya Karangasem. Itu tidak masalah, karena berkarya tidak ada batasnya selama tidak mengurangi makna Ogoh-ogoh itu sendiri,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Koming berharap ke depan Pemerintah Kabupaten Karangasem dapat menggelar lomba Ogoh-ogoh rutin, baik tingkat kabupaten maupun wewidangan desa adat, agar para seniman lokal memiliki ruang menampilkan karya.

“Harapan saya, tiap tahun ada lomba Ogoh-ogoh di Karangasem seperti daerah lain, supaya para seniman lokal punya panggung untuk berkarya dan berkembang,” pungkasnya. *m03

Komentar