nusabali

Peran Pemeriksaan Laboratorium Dalam Deteksi Dini Demam Berdarah Dengue

  • www.nusabali.com-peran-pemeriksaan-laboratorium-dalam-deteksi-dini-demam-berdarah-dengue

DENPASAR, NusaBali - DEMAM berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit tropis yang paling umum terjadi dan disebabkan oleh virus dengue (Denv). Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes betina, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Angka kejadian DBD mengalami fluktuasi setiap tahun di Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan RI, hingga 30 Oktober 2025 total kasus DBD nasional mencapai 131.393 kasus dengan 544 kematian. 

Selain mengenali gejala klinis, deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk menegakkan diagnosis, menentukan derajat keparahan, serta memberikan terapi yang optimal.

Gejala awal saat virus dengue menginfeksi tubuh dapat berupa demam tinggi mendadak, nyeri sendi dan otot, mual, muntah, sakit kepala, dapat muncul ruam  yang tidak memudar saat ditekan (petechie). Jika terdapat gejala ini pasien masih dalam tahap demam dengue (DD) saja. 

Apabila berlanjut dapat terjadi perdarahan pada berbagai organ (misalnya mimisan, gusi berdarah, buang air besar berdarah, atau muntah darah), pembesaran hati, serta gangguan sirkulasi pada kasus berat. Pada tahap ini pasien sudah dapat dikatakan mengalami DBD.

World Health Organization (WHO) pada 2011 membagi derajat DBD menjadi dua yaitu DBD tanpa adanya syok dan DBD dengan adanya syok atau biasa disebut Dengue Shock Syndrome (DSS), yaitu kondisi berat yang dapat mengancam nyawa sehingga memerlukan penanganan khusus dan segera. Pemeriksaan laboratorium berperan penting dalam menentukan keputusan klinis seperti pemberian pengobatan sesuai gejala, perlunya rawat inap, pemberian terapi cairan intravena, serta pemantauan kondisi pasien secara berkala.

Pada pasien yang memiliki gejala terinfeksi virus dengue dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain :
  • Pemeriksaan darah lengkap pada infeksi virus dengue dapat ditemukan penurunan sel darah putih (leukopenia) sebagai tanda awal adanya infeksi virus, penurunan trombosit (trombositopenia) yang biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga hari ke-7 demam, peningkatan kekentalan darah (hematokrit) yang menandakan kebocoran plasma, serta peningkatan kadar hemoglobin atau sel darah merah. Pemeriksaan ini dapat diulang secara berkala untuk menentukan derajat keparahan DBD serta mengevaluasi respons terapi. 
  • Non-Structural Protein-1 (NS1) merupakan pemeriksaan cepat yang mendeteksi ada atau tidaknya virus dengue di dalam tubuh. NS1 dapat terdeteksi sejak hari pertama hingga hari ke-5 atau ke-6 demam, sehingga sangat berguna sebagai deteksi dini DBD. Tingkat keakuratan pemeriksaan NS1 mencapai sekitar 70% pada hari ke-4 demam, dan jika hasil positif menunjukkan adanya infeksi virus dengue. 
  • Pemeriksaan serologi untuk mendeteksi adanya IgM dan IgG anti-dengue dilakukan pada hari ke-5 demam atau lebih. Pemeriksaan ini bertujuan untuk membedakan infeksi baru maupun ataupun infeksi lama. 
  • Pemeriksaan yang menjadi standar baku emas dari penegakan diagnosis DBD yaitu Reverse Transcriptase–Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Pemeriksaan ini mampu mendeteksi RNA virus dengue secara langsung dapat menentukan serotipe virus dengue, memiliki keakuratan tinggi jika dilakukan pada hari pertama hingga hari ke-5 demam. 
  • Pemeriksaan tambahan seperti fungsi hati (AST/ALT), kadar albumin, serta elektrolit (natrium, kalium, klorida) juga dapat membantu menilai derajat keparahan dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Tersedianya pemeriksaan penunjang laboratorium di fasilitas kesehatan, termasuk fasilitas pelayanan kesehatan primer, sangat membantu tenaga medis dalam melakukan deteksi dini berbagai penyakit, termasuk DBD. Pemeriksaan sederhana seperti darah lengkap dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi pasien dan menjadi dasar pemberian terapi. 

Masyarakat juga perlu memahami gejala-gejala awal DBD agar segera mencari pertolongan medis ketika gejala muncul, sehingga diagnosis dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Pemeriksaan laboratorium bukan sekadar penunjang, tetapi merupakan komponen vital dalam menegakkan diagnosis, menentukan derajat keparahan, memberikan penanganan optimal, serta mengevaluasi perkembangan pasien. Diharapkan melalui deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium yang tepat, angka kematian akibat DBD dapat terus ditekan. *

Komentar