BPBD Percepat Pembentukan Tim Tangguh Bencana
Buleleng Diterpa Rentetan Gempa
SINGARAJA, NusaBali - Rentetan lima gempa bumi yang mengguncang wilayah Buleleng, Rabu (26/11) petang, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng mempercepat langkah penanganan kebencanaan jelang puncak musim hujan.
BPBD memastikan pembentukan tim kecamatan tangguh bencana akan dieksekusi lebih cepat sebagai garda terdepan respons bencana di desa-desa.
Berdasarkan data BMKG, lima gempa beruntun menggoyang Buleleng antara pukul 19.33 hingga 23.26 WIB, dengan magnitudo 2,1–3,0 SR. Seluruh pusat gempa berada di 14 kilometer tenggara Buleleng, pada kedalaman 13–29 kilometer. Beruntung, tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. "Yang paling dangkal terjadi pukul 23.26 WIB, hanya 8 kilometer," jelas Kalak BPBD Buleleng, I Gede Suyasa, Kamis (27/11).
Rentetan gempa ini menambah daftar ancaman hidrometeorologi yang kini mulai meningkat di Buleleng. Sejak Januari–Oktober 2025, BPBD mencatat 280 kejadian bencana, didominasi tanah longsor 105 kejadian, cuaca ekstrem dan pohon tumbang 53 kejadian, serta banjir 16 kejadian. Potensi bencana diprediksi meningkat pertengahan Desember 2025 hingga Januari 2026.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD menggelar rapat kesiapsiagaan bencana, Rabu (26/11). Rapat melibatkan OPD terkait, TNI/Polri, Basarnas, PLN, serta Forkom Perbekel dan para Camat se-Buleleng. Suyasa menegaskan perlunya langkah cepat dan terpadu menghadapi cuaca ekstrem. "Kita harus merapatkan barisan dan menyamakan gerak," ujarnya Suyasa.
Hasil rapat menetapkan tiga langkah utama. Pertama, pembentukan tim kecamatan tangguh bencana, dengan fungsi mirip Tim Reaksi Cepat (TRC). Tim ini bertugas mengidentifikasi potensi bencana di masing-masing desa serta memperkuat koordinasi dengan Polsek, Koramil, puskesmas, dan para relawan.
Kedua, penyegaran TRC lintas sektor, mengingat sejumlah petugas sebelumnya sudah pensiun atau pindah tugas.
Ketiga, pembentukan posko kesiapsiagaan terpadu. Lokasinya menunggu arahan Sekda Buleleng selaku Kepala BPBD.
Pembentukan tim kecamatan tangguh bencana disebut krusial karena keterbatasan personel TRC BPBD yang hanya 19 orang, terbagi dalam tiga regu. Menurutnya, jumlah personel TRC idealnya minimal 40 orang. Namun dengan dukungan dari kecamatan, penanganan di desa bisa jauh lebih cepat.
BPBD juga kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat. Saluran tersumbat, dahan pohon yang terlalu rindang, dan berbagai pemicu bencana lain diminta segera ditangani sebagai upaya mitigasi.
Terkait gempa, BPBD memastikan edukasi dan simulasi penanganan gempa terus dilakukan rutin di desa, sekolah, hingga perguruan tinggi. Sepanjang tahun 2025, tercatat hanya satu kejadian gempa yang sempat masuk laporan, yakni di Kecamatan Tejakula dengan kerusakan ringan.7 k23
Komentar