nusabali

MUTIARA WEDA: Kemenangan Dharma

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-kemenangan-dharma

dhāraṇād dharma ity āhuḥ (Mahābhārata, Karna Parva 69.58) Dharma disebut demikian karena ia menopang.

KEMENANGAN dharma pada Hari Suci Galungan tidak perlu dimengerti sebagai perang antara dua jalur yang sama kuat, seolah-olah ada ‘rel dharma’ dan ‘rel adharma’ yang saling memperebutkan arah hidup manusia. Sesungguhnya, hanya ada satu rel: rel dharma, sebab dharma adalah pancaran dari hukum semesta (ṛta), seperti matahari yang tetap bersinar meski awan sesekali menutupnya. Adharma bukan jalur tandingan, melainkan keadaan ketika seseorang keluar dari rel dharma seperti kereta yang tergelincir bukan karena ada rel lain, tetapi karena ia gagal berjalan pada rel yang sudah disediakan. Maka, makna kemenangan dalam perayaan Hari Suci Galungan sejatinya bukan menaklukkan musuh, melainkan keberhasilan kita untuk kembali berjalan pada jalur kebenaran, mengarahkan pikiran, ucapan, dan tindakan agar selaras dengan tatanan kosmis. 

Ketika hati tidak lagi dikuasai keserakahan, ketika hidup kembali pada kejujuran, ketika keluarga dirajut oleh kasih dan hormat, maka dharma menang bukan karena mengalahkan adharma, tetapi karena kita memilih untuk tetap di jalan yang benar. Kemenangan Galungan adalah keteguhan hati untuk tetap berada dalam dharma itulah satu-satunya kemenangan yang sejati.

Jika keserakahan, kemarahan, kebencian, dan kekerasan dianggap sebagai ‘rel adharma’ yang harus diperangi, maka sesungguhnya kita tidak akan pernah merayakan kemenangan Galungan, sebab semua itu tidak memiliki wujud sejati dalam diri manusia. Yang sungguh eksis hanyalah dharma hakikat kemurnian, kejujuran, dan kasih yang telah menjadi dasar keberadaan kita. 

Sifat-sifat yang disebut adharma muncul bukan karena ia memiliki kekuatan sendiri, melainkan karena kita lupa pada jati diri akibat avidyā (ketidaktahuan). Ia hanyalah bayangan ketika cahaya diri tertutup oleh lupa. Dan seperti bayangan, ia tidak dapat diperangi, karena setiap pukulan hanya mengenai ruang kosong. Yang perlu dilakukan bukan bertarung, tetapi membuat diri tetap berada dalam cahaya dharma, sehingga bayangan itu sendiri menghilang. Inilah makna hakiki Galungan: bukan kemenangan karena mengalahkan musuh, tetapi keteguhan untuk tetap mengenali dan menghidupi kebenaran yang sudah ada dalam diri. Ketika kita ingat siapa kita, dharma menang dengan sendirinya.

Jika Galungan dimaknai sebagai kemenangan dharma yang sudah ada di dalam diri, maka hari suci ini bukan saat untuk ‘melawan musuh’, melainkan untuk mengingat jalan pulang. Galungan menjadi jeda yang membuat kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hidup, lalu menoleh ke belakang: sejauh mana kita telah melenceng dari rel kebajikan? Seberapa sering kita lupa pada keheningan batin, pada kasih, pada kejujuran, dan hanya sibuk mengejar dunia luar? 

Dalam kesadaran itu, Galungan mengajak kita kembali menyelaraskan langkah dengan dharma bukan dengan memerangi keserakahan atau kemarahan, tetapi dengan membiarkan cahaya kesadaran hadir, sehingga bayangan-bayangan itu lenyap dengan sendirinya. Maka pada Hari Suci Galungan, yang perlu kita lakukan hanyalah merenungi diri, menyucikan pikiran, dan meneguhkan niat untuk berjalan kembali di atas rel kebenaran. Galungan bukan perayaan atas pertempuran, melainkan pengingat yang lembut untuk hidup sesuai dharma yang sesungguhnya.

Pemahaman umum masyarakat tentang Galungan sebagai kemenangan dharma tidak bertentangan dengan makna mendalam bahwa sesungguhnya dharma sudah ada di dalam diri sebagai cahaya bawaan Ilahi. Ketika masyarakat mengatakan bahwa keserakahan, kemarahan, dan kesombongan harus dikalahkan, sebenarnya mereka sedang berbicara tentang kemenangan kesadaran atas kelupaan. Adharma bukan musuh yang memiliki wujud, melainkan bayangan yang muncul saat kita lupa pada jati diri. 

Maka ketika masyarakat merayakan Galungan dengan menghaturkan sesaji, sembahyang, dan memasang penjor, sesungguhnya mereka sedang menghidupkan kembali ingatan akan harmoni kosmis (ṛta) dan memperkokoh tekad untuk berjalan di atas rel kebaikan. Kemeriahan Galungan bukanlah pesta lahiriah, melainkan ungkapan syukur bahwa manusia masih memilih untuk selaras dengan hukum semesta, bahwa kebaikan itu tetap ditegakkan bukan karena perang, melainkan karena kita mengingat asal-usul Ilahi dari dharma itu sendiri. Dengan demikian, makna Galungan yang mendalam sejalan dengan pemahaman masyarakat: kemenangan itu bukan diciptakan, melainkan diingat kembali. Paling tidak seperti itulah pesan dari teks di atas. 7

Komentar