BWS Bali-Penida Isi Ulang Pasir Pantai di Kuta
Zona 1 Ditarget Rampung Akhir Desember 2025
Pasir yang digunakan pun disebut berasal dari perairan Selat Bali, sekitar 12 kilometer dari garis pantai.
MANGUPURA, NusaBali
Proyek konservasi pantai di wilayah Kecamatan Kuta, meliputi Kuta-Legian-Seminyak terus berlanjut. Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida memastikan pengerjaan pengisian pasir (sand nourishment) di Zona 1 akan mulai dilakukan dengan target selesai Desember 2025. Langkah tersebut menjadi fase pertama dari rangkaian panjang Bali Beach Conservation Project (BBCP) Phase II, yang dikerjakan bertahap hingga November 2026.
Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) BWS Bali-Penida, I Gede Lanang Sunu Perbawa, menjelaskan bahwa tahap awal di Zona 1 akan dimulai pada area Pantai Sekeh, persis di pangkal selatan yang berbatasan dengan runway Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
“Yang pertama kami kerjakan Adalah di Zona 1 di akhir tahun ini, nanti baru Zona 2 dan Zona 3, jadi bertahap. Target di tahun 2025 ini Zona 1 selesai, dan mudah-mudahan cuaca mendukung karena seperti yang kemarin ada banjir dan rob, semoga kondisi seperti itu tidak terjadi kembali di daerah Kuta ini dan kita bisa melaksanakan kegiatan dengan baik,” ungkapnya pada Jumat (21/11) siang.
Gede Lanang merinci, pekerjaan Zona 1 dari Pantai Sekeh hingga Breakwater 1 dengan ruang lingkup pekerjaannya meliputi pembongkaran eksisting sand stopper lalu pengisian pasir dengan panjang 490 meter dengan volume 160.000 kubik yang nantinya juga berfungsi sebagai cadangan pasir (sand stockpile) untuk kegiatan pemeliharaan isian pasir pasca konstruksi berakhir, perpanjangan drainase gorong-gorong sepanjang 100 meter dan modifikasi sand stopper.
Untuk mendukung pengerjaan tersebut, pihaknya telah memasang pipa besi atau pipa penyalur pasir (pipa GIP) yang membentang dari Pantai Jerman ke Pantai Sekeh. Pipa inilah, kata dia, yang akan menyalurkan pasir hasil pengerukan dari laut saat kapal dredger merapat.
“Pengisian pasir dilakukan dari laut karena kalau dari darat akan menambah kemacetan di kawasan Kuta yang jalannya kecil dan padat wisatawan,” terangnya sembari menambahkan pipa akan dipindahkan ke lokasi berikutnya setelah Zona 1 selesai.
Pasir yang digunakan pun disebut berasal dari perairan Selat Bali, sekitar 12 kilometer dari garis pantai. Lokasi tersebut dipilih setelah melalui investigasi mendalam terkait warna, ukuran butir, hingga karakteristik alami yang paling mendekati pasir di Pantai Kuta-Legian-Seminyak
“Kami mencari karakteristik pasir yang menyerupai. Seratus persen sama tidak mungkin karena ini material alam, tapi kami berupaya menyesuaikan warna dan ukuran butirannya,” tegasnya.
Sementara itu, untuk pengerjaan di Zona 2, pihaknya melakukan pembangunan breakwater yakni 5 buah breakwater masing-masing 4 breakwater baru dan 1 breakwater modifikasi. Selain itu juga pengerjaan pengisian pasir sepanjang 2.850 meter dengan volume 310.000 kubik. Terakhir pengerjaan di Zona 3 mencakup pengisian pasir dengan panjang 2.000 meter dengan volume pasir 140.000 kubik. Ini lokasi pengerjaan kami
“Seluruhnya, target pengerjaan kami di November 2026 sudah rampung, kontrak kami sampai November 2026, kami optimis bisa menyelesaikan itu,” tuturnya.
Disinggung terkait tantangan cuaca yang akan dihadapi pada akhir tahun ini, Gede Lanang memastikan pihaknya mengantisipasi potensi gangguan seperti air pasang, gelombang ekstrem, dan terumbu karang yang dapat membahayakan kapal. Selain itu, pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau cuaca agar pengerjaan tidak terhambat.
Sebelum pengerjaan dimulai, BWS Bali-Penida turut mengundang Desa Adat Kuta, tokoh masyarakat, dan pihak terkait pada Jumat (21/11). Dukungan masyarakat khususnya Desa Adat Kuta dinilai sangat penting mengingat kondisi abrasi yang semakin parah dalam beberapa tahun terakhir. Gede Lanang juga berharap dengan adanya proyek tersebut kawasan pantai akan kembali memiliki garis pantai yang lebih lebar dan aman untuk wisatawan, dan aktivitas masyarakat baik itu nelayan hingga kegiatan keagamaan.
“Masyarakat mendukung sepenuhnya. Pantai Kuta sudah cukup parah abrasi, terutama saat terjadi gelombang ekstrem beberapa waktu yang lalu. Pengisian pasir ini upaya kami untuk mengembalikan lebar pantai seperti kondisi sebelum abrasi,” terangnya.
Terpisah, Bendesa Adat Kuta I Komang Alit Ardana, menyampaikan bahwa pengisian pasir merupakan program yang telah lama direncanakan. Dia menyebut keberadaan sand stockpile memang diperlukan di Pantai Kuta untuk kebutuhan perawatan pantai ke depan. “Memang saya harapkan sand stockpile ada di Kuta dan saya sangat mendukung program ini karena sand stockpile pasir itu memang harus ada di Kuta karena untuk perawatan kita ke depan,” ucapnya. 7 ol3
Komentar